Breaking News

Catatan A I R (Abuya Irfan Rahman)

Hidup Hanya Sekali - Hiduplah Untuk Menginspirasi Agar Kau Hidup Abadi

Friday, September 7, 2018

Cerita Rakyat - Si Bunian Gunuang Lalo, Raima ingin kembali







Di Kampung Surau terdapatlah sebuah rumah papan yang terletak dilereng Gunung Lalo. Keluarga miskin menghuni rumah tua itu. Keluarga itu mempunyai empat orang anak. Ayah dan ibu mereka hanyalah petani tradisional. Pergi ke ladang ketika matahari belum muncul dan pulangnya ketika matahari sudah tenggelam. Kadang-kadang anak-anak mereka diajak pergi ke ladang untuk membantu mereka. Begitulah keseharian keluarga miskin itu.

Suatu hari, mereka sekeluarga sedang memanen hasil ladang yang terletak dua kilo meter dari belakang rumah, tepatnya di Pulau Alai. Semua anak-anak mereka ikut membantu, kecuali si Binguang, anak mereka nomor tiga. Si Binguang dititipkan di rumah tetangga, karena si Binguang agak kurang akalnya, alias idiot. Mereka sangat gembira menyambut musim panen.

Tak terasa hari sudah beranjak sore, sementara panen belum selesai. Sang Ayah memerintahkan anaknya memasukkan hasil panen kedalam karung. Semuanya sibuk berkemas dan bersiap pulang, termasuk Raima putri sulung mereka. Raima yang berumur 12 tahun ini adalah anak yang paling tua. Matahari kian condong di ufuk barat, jengkrik-jengkrik bernyanyi sahut-sahutan, menandakan hari sudah maghrib. Hasil panen sudah selesai di packing. Ayah dan ibu membawa karung yang paling besar, anak-anaknya membawa hasil panen sesuai kemampuan mereka. Hasil panen yang dimasukkan kedalam karung, diletakkan diatas kepala.

Semua beranjak pulang. Ayah dan ibu berjalan paling depan. Hari yang sudah semakin gelap memaksa mereka berjalan perlahan. Raima kakak sulung berjalan paling belakang. Didalam keheningan mereka telusuri jalan setapak menuju rumah mereka. Setapak demi setapak langkah mereka diayunkan, tak satupun diantara mereka yang berbicara, hanya nyanyian binatang-binatang rimba yang terdengar menyibak kesunyian.

Tak lama berselang waktu merekapun sampai di rumah dikala malam sudah semakin pekat. Sang Ayah langsung meletakkan hasil panen di dapur, begitu juga ibu. Semuanya melepas penat sambil meneguk segelas air yang dituangkan ibu dari cerek alumunium, namun Raima belum juga sampai. Ia memang berjalan paling belakang. Hati ibunya semakin cemas ketika sudah hampir setengah jam Raima ditunggu belum juga nampak batang hidungnya. Sang Ayah memutuskan untuk menyusul Raima ke jalan yang dilewati tadi. Langkah kaki sang Ayah terburu-buru. Dadanya penuh sesak. Tangan kanannya memegang obor yang terbuat dari bambu yang diisi minyak tanah. Sumbu obor itu terbuat dari kain-kain yang sudah tidak dipakai lagi, cukup untuk menerangi jalan.

Hampir setengah perjalanan sang Ayah menyongsong kedalam hutan menuju ladang mereka di Pulau Alai. Namun Raima belum ketemu. Hati sang Ayah cemas bercampur takut. Ia panggil-panggil anak sulungnya dikerumunan malam.

"Raima".

Sang Ayah memanggil berkali-kali. Namun tak ada sahutan. Sang Ayah merasa bersalah, mengapa membiarkan Raima berjalan dibelakang, Padahal ia tahu bahwa anaknya jarang melalui jalan ini. Ketakutan Ayah semakin menghantui ketika sesampai di ladang Raima tak juga ditemukan. Ayah memanggil nama Raima berulang-ulang. Hanya kehinangan malam yang terdengar. Hasil panen yang dibawa Raima pun tidak ditemukan.

Ayahnya bergegas pulang, dengan persaan kalut ia percepat langkahnya. Ia beritahu para tetangga dan sanak famili. Warga Kampung Surau mendadak gempar mendengar berita bahwa Raima hilang di ladang. Wargapun bergegas menuju rumah orang tua Raima. Masing-masing mereka membawa obor. Hampir tiga puluh orang telah berkumpul. Mereka mengatur strategi. Sebagaian kelompok warga ada yang ditugaskan mencari ulang ke ladang Raima di Pulau Alai, adapula sekelompok warga yang ditugaskan menelusuri persimpangan jalan yang tidak jauh dari ladang Raima. Mana tahu Raima salah jalan dan tersesat.

Semua warga sudah masuk ke hutan mencari Raima, semua sisi jalan yang kemungkinan dilewati Raima telah disisir. Sudah lima jam mereka mencari. Nama Raima dipanggil berulang-ulang, namun hasilnya nihil. Wargapun akhirnya sepakat untuk pulang dan melanjutkan pencarian besok pagi. Ayah Raima semakin cemas dengan penuh penyesalan. Sang Ibu pun tak sanggup menahan tangis dan meratapi kehilangan Raima. Warga menenangkan hati keluarga Raima dengan menasehati untuk tetap sabar dan banyak berdo'a. Warga Kampung Surau kembali ke rumah masing-masing, karena sudah lewat tengah malam.

Keesokan harinya, wargapun kembali mencari Raima. Mereka tidak saja mencari dijalan-jalan setapak, akan tetapi juga mencari sampai kedalam hutan, menelusuri semak belukar. Bahkan sebagian warga menyisir sungai hingga ke hilir. Mencari disiang hari lebih memudahkan warga. Jarak pandang disiang hari jauh lebih leluasa dari pada malam hari. Tak terasa, matahari sudah condong kearah barat, namun Raima belum juga ditemukan. Rencananya, jika tidak bertemu hingga waktu maghrib, pencarian akan dihentikan dan akan dilanjutkan pada hari selanjutnya.

Pencarian hari itu tidak membuahkan hasil, bahkan jejak dan tanda-tanda keberadaan Raima pun belum ditemukan. Tidak ada petunjuk dihari itu, Raima seperti ditelan bumi. Sebagian warga beranggapan, bahwa Raima dibawa oleh makhluk halus kealamnya atau dibawa oleh si Bunian Gunung Lalo. Namun keluarga dan famili Raima tidak mau berfikiran macam-macam. Mereka yakin Raima tersesat karena ketika pulang dari ladang hari sudah gelap.

Pencarian dihari kedua lebih ramai lagi, tidak saja warga Kampung Surau yang ikut, masyarakat dari Gunung Selasih, Pulau Punjung dan Lubuk Bulang ikut membantu. Walaupun sudah banyak warga yang ikut mencari Raima, namun hasil pencarian sama dengan hari kemarin, Raima belum juga ditemukan. Pencarian dilanjutkan pada hari ketiga, akan tetapi belum juga membuahkan hasil.

Sudah seminggu lebih Raima dicari oleh warga ke segala penjuru hutan, tetapi belum ditemukan. Akhirnya sebagian warga banyak yang sudah putus asa. Diminggu kedua, hanya Ayah dan Ibu Raima yang masih tetap mencari. Warga sudah mundur dan minta maaf karena harus bekerja seperti hari biasanya. Sebulan kemudian Ayah dan Ibu Raima terpaksa menghentikan niat untuk mencari Raima. Perbekalan di rumah sudah habis dan mereka sudah harus kembali bekerja jika tetap ingin makan. Mereka putus asa karena siang dan malam mereka mencari anak sulungnya, namun Tuhan belum juga menunjukan keberadaan Raima.

Hari ini Sang Ayah dan Ibu kembali bekerja di ladang seperti semula. Mereka sudah pasrah. Menyerahkan urusan Raima kepada Yang Maha Kuasa. Tuhan tidak menyia-nyiakan mereka, kepasrahan mereka ternyata dijawab Tuhan. Malam harinya si Binguang bermimpi bertemu dengan Raima. Didalam mimpi itu Raima mengatakan bahwa ia masih hidup dan sudah dipelihara serta dijaga oleh para pendahulu-pendahulu diatas Gunung Lalo. Keesokan malamnya si Binguang bermimpi yang sama, sampai dimalam ketiga ia juga bermimpi didatangi kakaknya si Raima.

Keesokan harinya, Si Binguang menceritakan mimpinya kepada Ayah dan ibunya. Kedua orang tuanya merasa gembira namun dibelakang itu mereka mati kecemasan. Mereka gembira mengetahui bahwa Raima masih hidup, namun disisi lain mereka khawatir karena anaknya dibawa ke alam jin oleh si Bunian. Mereka berfikir bagaimana mencari dan menyelamatkan Raima dari si Bunian Gunung Lalo. Sang Ayah dan ibu mencari akal untuk menyelamatkan Raima. Mereka minta tolong ke dukun dan orang-orang pintar, namun dukun dan orang pintar tak mampu menolongnya, karena Raima sudah masuk ke alam jin dan diawasi si Bunian.

Seminggu kemudian si Binguang bermimpi lagi. Kini Raima mengatakan bahwa ia ingin pulang ke rumah. Raima sudah rindu rumah dan keluarganya. Didalam mimpi itu Raima menyuruh keluarganya untuk mempersiapkan kedatangannya. Keluarga diminta untuk membakar kemenyan pada malam hari yang ditentukan serta menghiasi rumah untuk menyambut kepulangan Raima. Mimpi itu tiga kali berturut turut didapatkan si Binguang. Ia ceritakan mimpi itu kepada keluarganya. Keluarga merasa senang alang kepalang mendengar berita baik itu. Dengan senang hati semua keluarga mempersiapkan apa yang diminta Raima. Demi Raima kembali ke rumah.

Malam yang ditunggu pun tiba. Keluarga sudah menunggu dengan segala persiapan. Kemenyan dibakar, asapnya menyebar keseluruh ruangan rumah, menusuk hidung para keluarga yang hadir. Suasana terasa agak tegang ketika jam sudah menunjukan pukul nol-nol tengah malam. Dimana waktu yang disepakati Raima akan pulang ke rumah. Kemenyan yang sudah padam diganti dengan kemenyan baru. Semua keluarga yang hadir membuat lingkaran didalam rumah, yang laki-laki duduk bersila dan yang perempuan duduk bersimpuh. Mereka dihantui perasaan cemas dan takut. Tak satupun yang berani berbicara. Tanda-tanda kedatangan Raima belum tampak. Diluar rumah udara semakin dingin, malam yang hitam menjadikan suasana mistik yang mencekam. Kelam dan sunyi menghampiri setiap yang hadir. Asap kemenyan yang menari dilangit-langit rumah membuat sebagian tamu menjadi ciut.

Tiga jam sudah berlalu, namun Raima belum juga datang. Keluarga cemas jika Raima benar-benar tak pernah kembali lagi ke rumah. Azan shubuh berkumandang membelah kesunyian malam. Ayam jantan berkokok sahut-sahutan. Hampir semua keluarga yang hadir dirumah itu berangkat ke surau untuk melaksanakan shalat shubuh. Sepulang dari surau, mereka kembali kerumah masing-masing. Sebagian tetangga beranggapan, bahwa Raima tak akan kembali. Si Bunian Gunung Lalo tak mau melepaskan Raima.

Pagi itu sang Ibu pergi ke dapur untuk memasak. Ia kaget melihat ada telapak kaki di abu kayu dekat tungku tempat ia biasa memasak. Ia pandangi betul-betul dan mendekat jejak kaki itu. Bentuknya persis sebesar telapak kaki anaknya Raima yang berumur 12 tahun. Ia beri tahu pada sang Ayah, mereka yakin Raima pulang tadi malam sesuai janjinya ketika mereka menunggu Raima bersama-sama dengan keluarga didalam rumah. Namun Raima datang bukan untuk kembali seperti manusia sebelumnya dan berkumpul dengan keluarganya. Tetapi sebagai bangsa Bunian.

Setelah kejadian itu, hampir tiap manghrib sang Ibu mendengar tangisan Raima dari belakang rumah dan hampir tiap pagi menemukan jejak kaki Raima diatas abu tempat ia memasak. Semua keluarga sudah pasrah dan tawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa, merelakan kepergian Raima yang dibawa si Bunian Gunung Lalo. Walaupun mereka tahu dengan jejak kaki itu dan tangisan diwaktu maghrib yang ia temui hampir setiap hari, menandakan bahwa Raima selalu pulang ke rumah dan menagis minta kembali.

Sejak kejadian itu, anak-anak di Kampung Surau menjadi takut keluar rumah jika maghrib sudah menjelang, takut dibawa oleh si Bunian Gunung Lalo seperti yang dialami Raima.

* * * Cerita ini sudah dilombakan pada Lomba Menulis Cerita Rakyat Tingkat Kab. Dharmasraya dan mendapat Peringkat Harapan Satu.

**Penulis adalah Dosen STIT-NU Sakinah Dharmasraya

Arti kosa-kata:

1. Packing : Dikemasi.

2. Si Bunian : Sebangsa Jin.








Read more ...

Cerita Rakyat - Misteri Taman BUah Di Bukit Tambun





Di Pulau Punjung hiduplah seorang pemuda yang suka menangkap burung. Namanya Pendekar Kuning. Hari-harinya ia habiskan di hutan untuk memukat burung. Hobi itu telah menjadi mata pencarian oleh Pendekar Kuning. Suatu ketika Pendekar Kuning pergi berburu burung ke hutan dekat bukit Tambun. Menurut cerita orang tua-tua dulu, di bukit Tambun terdapat kebun buah. Semua jenis buah-buahan ada disana dan tinggal dipetik. Tapi tak semua orang yang bisa menemukan kebun buah itu. Masyarakat menamainya dengan Taman Surga.

Kedatangan Pendekar Kuning kesana bukan untuk mencari taman Surga itu, melainkan menangkap burung yang sangat langka. Hanya ada di bukit Tambun. Ia mencari burung Anto. Suara burung Anto sangat khas. Suaranya seperti suara anak kecil sedang tertawa. Konon katanya burung ini adalah jelmaan anak yang bernama Anto. Ia pemalas dan tidak mau menolong orang tuanya yang miskin. Ia dikutuk oleh ibunya menjadi burung. Orang kampung itu menamai burung itu dengan nama Anto memakai nama anak yang pemalas itu. Warnanya agak kehitaman dan berbadan agak besar. Beratnya bisa mencapai dua kilogram. Burung itu banyak dijumpai di bukit Tambun. Burung itulah yang akan ditangkap oleh Pendekar Kuning dan akan dijualnya dengan harga yang tinggi kepada Toke Burung di Pelayangan dekat pasar Pulau Punjung.

Pagi itu, ia telusuri jalan setapak menuju Kampung Surau. Sebelum sampai di Gunung Selasih ia belok kiri menuju hutan Bukit Tambun. Sebungkus nasi dan sebotol air minum ia siapkan untuk perbekalan. Kaki Pendekar Kuning semakin dalam melangkah menelusuri hutan. Namun sarang burung Anto belum juga dijumpainya. Tak terasa matahari sudah naik sepenggala langit. Pendekar Kuning merasa capek dan lapar. Ia berhenti sejenak untuk melepas penat. Tak biasanya ia bernasib sial seperti ini karena biasanya ia telah menemukan tiga sarang burung Anto hingga tengah hari. Ia buka bungkus nasi yang terbuat dari daun pisang. Aroma samba lado jengkol menguak dari sela-sela nasi. Jakun-jakunnya naik turun. Air liurnya otomatis memberontak keluar dari sisi lidahnya. Ia cuci tangannya dengan air seadanya. Belum sempat ia menyuap nasi dengan suapan pertama, burung Anto lewat diatas kepalanya. Burung itu terbang menuju puncak bukit Tambun. Pendekar Kuning tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia buntuti burung itu kearah manapun terbangnya. Nasi yang akan dia makan tadi ditinggalkan begitu saja. Air minumpun lupa dibawa. Tak terasa, semakin lama ia membututi burung Anto semakin dalam ia memasuki hutan belantara itu, hingga sampai di sisi lereng selatan bukit Tambun.

Usahanya tak sia-sia. Akhirnya burung Anto hinggap di sarangnya, lalu berlalu lagi kearah barat. Pendekar Kuning memasang perangkap di sarang burung itu. Burung Anto bersarang di tanah yang diatasnya ada daun-daun kering sebagai alasnya. Tak satupun rumput atau ilalang tumbuh disarangnya. Burung Anto terkenal bersih dan tak membiarkan satupun rumput tumbuh di sarangnya. Perangkap Pendekar Kuning terbuat dari bambu yang dipecah-pecah diujungnya. Ujung bambu yang pecah-pecah itu ditancapkan di tanah. Ketika burung Anto berusaha memindahkan bambu dengan kaki atau kepalanya, maka otomatis akan terjepit diantara pecahan bambu. Ketika saat itulah Pendekar Kuning akan langsung menangkap burung itu.

Perangkap telah dipasang. Pendekar Kuning mengawasi sarang itu dari kejauhan dan bersembunyi di dibalik semak-belukar. Kini tinggal menunggu burung Anto kembali ke sarangnya. Matahari mulai menuruni langit. Sesekali ia bersembunyi dibalik awan. Namun burung Anto belum juga datang. Pendekar Kuning merasa kesal, apalagi perutnya semakin lapar. Ia menyesal meninggalkan bekalnya tadi di tempat ia beristirahat. Ia sudah tak sabar. Mumpung burung Anto belum datang, ia mencari buah-buahan rimba untuk pengganjal perut. Sekitar seratus meter ia meninggalkan tempat perangkap dipasang, tiba-tiba matanya tertuju ke pohon duku yang sedang berbuah lebat. Disamping pohon itu ada pohon mangga, pisang, apel, anggur dan jeruk. Semuanya sedang berbuah lebat dan siap di panen.

Pendekar Kuning yang sedang lapar terperangah melihat pemandangan itu. Ia berfikir dan bertanya dalam hati. Siapa yang punya kebun buah ini? Hampir semua buah ada di kebun ini. Tapi mungkinkah ada orang yang berkebun di hutan lebat ini, sementara bianatang pemakan buah banyak berkeliaran? Mungkin ini yang disebut oleh pendahulunya dulu dengan Taman Surga di bukit Tambun. Belum sempat ia menemukan jawaban dari pertanyaan hatinya, perutnya sudah meronta meminta makan. Ia petik buah itu satu demi satu. Ia makan dengan lahap sampai perutnya kenyang. Setelah kenyang ia petik lagi untuk dibawa pulang. Buah itu ia simpan didalam tas punggungnya. Kemudian ia kembali kearah perangkap yang telah dipasangnya. Burung Anto belum juga datang.

Hari sudah mulai gelap. Pertanda maghrib akan menjelang. Pendekar Kuning putuskan untuk pulang saja. Walaupun tak mendapatkan satu ekor burungpun, tapi hatinya sudah cukup puas dengan buah-buahan yang ia gendong di punggungnya. Ia beranjak pulang kearah barat daya menuju Pulau Punjung. Ia menyusup diantara semak belukar. Baginya, berada didalam hutan sampai sore hari sudah biasa walaupun sendirian. Satu jam sudah ia membelah hutan, namun ia kaget, ternyata ia berbalik lagi ke tempat semula. Tempat dimana ia memasang perangkap untuk menangkap burung Anto. Ia tersadar, bahwa ia sudah tersesat. Hatinya kacau -balau. Bulu remangnya berdiri. Jangan-jangan ia berada didalam hutan larangan. Ia berdo’a dan berfikir. Apakah ia akan paksakan pulang atau bertahan di hutan ini sampai esok pagi menjelang. Hatinya semakin berkecamuk. Kini ia benar-benar ketakutan. Lalu ia putuskan untuk pulang dalam kekalutan.

Pendekar Kuning berusaha berjalan selangkah demi selangkah. Hampir setengah jam ia berjalan mencari jalan keluar dari hutan itu. Tiba-tiba ia terperangah, karena kembali lagi ke tempat semula. Kemudian ia coba lagi untuk ketiga kalinya, namun hasilnya tetap sama. Ia semakin takut. Entah kepada siapa ia akan minta tolong. Mentalnya yang tadi masih kuat kini mulai menciut. Ia duduk di tanah sambil memeluk kedua kakinya. Tiba-tiba terdengar suara harimau mengaum dengan kencang dari arah depan. Pendekar Kuning makin ketakutan. Harimau itu mendekatinya. Nafas Pendekar Kuning menjadi tak beraturan. Kencingnya keluar tanpa pamitan. Harimau yang berada dihadapannya seolah mendapat mangsa. Lalu Pendekar Kuning berkata kepada Sang Harimau dengan suara parau.

“Wahai Harimau, kalau engkau akan memakan aku, maka makanlah. Aku sudah pasrah. Tapi kalau engkau adalah Penjaga Nagari maka beritahulah aku jalan pulang.”

Sang Harimau menatap tajam kearah Pendekar Kuning. Wajah Pendekar Kuning pucat-pasi. Keringatnya bercucuran disekujur tubuh. Harimau menjawab dengan suara menyerupai kakek tua.

“Aku adalah Harimau Penjaga Nagari. Akan aku tunjukan jalan pulang padamu. Tapi sebelumnya kau keluarkan semua buah yang telah kau masukan kedalam tasmu. Sebab buah itu bukan milikmu. Kau boleh memakan buah itu sepuasnya, tapi pantang untuk dibawa pulang.”

Pendekar Kuning menuruti perintah sang Harimau. Tiba-tiba jalan pulang terlihat begitu lapang. Seperti jalan yang sudah lama ada. Sang Harimau mempersilahkan Pendekar Kuning untuk pulang. Dengan bantuan cahaya bulan seadanya, ia telususri jalan itu dengan hati lega. Sesampainya di Gunung Selasih ia melihat kakinya sudah berlumuran darah. Seperti tersayat ranting-ranting kayu. Ia menoleh kebelakang, ternyata jalan itu sudah hilang. Berarti jalan yang ia anggap bagus tadi itu ternyata fatamorgana. Sebenarnya ia melewati semak-belukar yang berduri-duri. Tapi ia tetap bersyukur bisa keluar dari hutan bukit Tambun.

Keesokan harinya Pulau Punjung menjadi gempar mendengar cerita Pendekar Kuning. Mereka jadi tahu, ternyata Taman Surga yang diceritakan nenek moyang mereka dulu bukan dongeng belaka. Mereka juga paham, agar tidak tersesat di bukit Tambun jangan membawa pulang buah yang ada disana. Dimakan boleh, dibawa pulang jangan! Itulah kata-kata yang tepat untuk Taman Surga di bukit Tambun.

* * *

Sumber Cerita : Bapak H. Harmonis (Tokoh Masyarakat Pulau Punjung)

Arti kata-kata :

- Samba lado : Sambal dari cabe.









Read more ...

Cerita Rakyat - Legenda Terbaliknya Batu Jemuran






Ditepian sungai Batang Hari dikawasan Nagari Sungai Kambuik hiduplah seorang perempuan tua yang sangat sakti. Namanya Inyiak Kalombai. Kesaktian Inyiak Kalombai tersohor hingga pelosok negeri. Konon kabarnya apabila Inyiak Kalombai ingin bercocok tanam di sawah, maka cangkul yang digunakannya bisa bekerja sendiri. Dan apabila ia ingin membuka lahan untuk ladang pertanian, maka parang dan kapaknya bisa menebang pohon sendiri. Serta semua hewan yang ada di hutan kala itu tunduk dibawah perintahnya. Tak heran jika semua orang di Nagari Sungai Kambuik hormat dan segan kepada Inyiak Kalombai karena kesaktian yang dimilikinya.

Selain bertani, Inyiak Kalombai lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mencari emas di sungai. Ia mencari emas didasar sungai disekitar rumahnya. Disana terkenal dengan kawasan yang banyak terdapat emas. Awalnya pasir yang ada didasar sungai diambil, lalu dipisahkan dengan menggunakan Jae . Alat yang berbentuk seperti nampan bulat yang terbuat dari kayu. Apabila emas dan pasir sudah terpisah, maka emas mentah itu dimasukan kedalam tempat yang benama Baladi Biawak. Sebelum emas mentah itu dijual ke pasar Pulau Punjung, terlebih dahulu Inyiak Kalombai menjemur emas miliknya diatas batu lebar yang terletak dipinggir sungai dekat rumahnya. Untuk mencapai pasar Pulau Punjung Inyiak Kalombai harus menggunakan sampan hingga ke Pelayangan. Namun tidak seperti orang kebanyakan, Inyiak Kolombai tak perlu capek-capek menggayuh sampan miliknya. Sebab aliran air sungai Batang Hari seolah-olah patuh padanya. Ketika Inyiak Kalombai ingin berlayar ke hilir kearah Pelayangan, maka air yang mengalir ke hilir akan deras dan Inyiak Kalombai akan cepat sampai ditujuan. Dan apabila ia ingin kembali lagi ke Sungai Kambuik yang terletak dihulu sungai, maka air yang harusnya mengalir dari hulu ke hilir kini berubah arah dari hilir ke hulu. Itulah Inyiak Kalombai dengan segala kesaktiannya.




Suatu ketika, Inyiak Kalombai ingin mencari emas disekitar rumahnya. Seperti biasa setelah memberi makan kucing dan kuda kesayangannya, ia turuni sungai dengan membawa peralatan lengkap. Tangan kanannya memegang Jae dan tangan kirinya membawa Baladi Biawak, tempat menyimpan emas. Air sungai yang sejuk membuat tubuhnya kedinginan jika berlama-lama didalam sungai. Untuk mencari satu cangkir emas, Inyiak Kalombai menghabiskan waktu dari pagi hingga matahari tepat berada diatas kepala sebelum waktu makan siang tiba. Hari itu Inyiak Kalombai sangat beruntung. Ia mendapatkan emas lebih banyak daripada biasanya. Sebelum beranjak pulang, emas itu harus dijemur diatas batu dibawah terik matahari selama tiga jam hingga kering. Setelah itu barulah emas itu dijual ke pandai emas di pasar Pulau Punjung.




Inyiak kalombai sibuk menggelar emas basah di atas batu berukuran empat kali tiga meter. Diatas batu itu sudah ada tikar dari daun nipah yang dianyamnya sendiri untuk alas penjemur emas. Sementara matahari kian mengganas diatas kepalanya. Panasnya yang terik membuat kulit Inyiak kalombai terasa perih. Perutnya mulai keroncongan. Sambil mejemur emas ia istirahat sejenak dan mengganti baju yang sudah basah. Lalu ia duduk di pelataran didepan rumahnya. Matanya memandang kearah sungai. Emas yang masih basah terlihat mengkilat dan bercahaya diterpa sinar matahari. Inyiak Kalombai tersenyum. Ia merasa sangat puas untuk hari ini. Terbayang olehnya, bahwa emas yang sudah diapatkannya minggu ini sangat banyak. Hari ini hari sabtu, esok ia akan menjualnya ke Pulau Punjung.




Sambil menunggu emas benar-benar kering, Inyiak Kalombai memasak nasi untuk bekal makan malam. Matahari mulai beranjak keperaduan maghrib. Awan yang tadinya berwarna putih kini memikul beban hitam. Tak lama lagi hujan akan turun. Emas yang dijemur tadi sudah kering dan siap untuk diambil. Inyiak Kalombai tak mau menyia-nyiakan waktu. Ia berjalan menuju bibir sungai dengan hati yang riang. Tangannya memegang kain berwarna hitam untuk membungkus emas. Ketika kakinya melangkah ke dalam sungai, tiba tiba angin kencang menghadang. Petir mulai berteriak di sela-sela awan. Kilat menyambar membelah gelap. Awan pun tak kuasa menawan beban. Akhirnya hujan mulai menetes menuruni tangga langit.




Hati Inyiak Kalombai berkecamuk menyaksikan alam yang tak bersahabat. Ia percepat langkahnya menuju batu yang berjarak satu meter dari pinggir sungai. Tangan kanannya merengkuh sisi tikar yang digunakan untuk menjemur emas. Tiba-tiba air bergelombang dan angin semakin kencang. Hujan makin lebat. Badaipun tak terbendung. Tikar yang terletak diatas batu tersibak oleh angin yang sedang mengamuk. Emas milik Inyiak Kalombai berserakan kedalam sungai. Hatinya marah bercampur sedih. Amarahnya menyala dari dalam dada. Ia tatap langit mencari keadilan. Jantungnya semakin berdegup kencang. Nafasnya tak beraturan. Tangannya kuat mengepal jari-jarinya. Urat aliran darahnya semakin kelihatan dari kulitnya yang sudah mulai keriput. Ia sangat marah dan tak menerima kenyataan ini.




Inyiak Kalombai mengamuk. Batu tempat menjemur emas ia tendang dengan sekuat tenaga. Dengan kesaktiannya batu yang lebar itu melayang di udara hingga jatuh ketengah sungai dalam keadaan terbalik. Bagian bawah batu sekarang menjadi diatas, namun sisinya tak selebar sisi yang digunakan Inyiak Kalombai untuk menjemur emas. Kemarahannya tak berhenti disitu saja, nasi yang sedang ia masak ditumpahkan. Air nasi yang sedang mendidih meleleh hingga ke pinggir sungai dan menjadi anak sungai. Periuk nasi ia lempar ketengah sungai dan dikutuknya menjadi batu. Kucing dan kuda kesayangannyapun menjadi korban kutukan. Peralatan untuk mencari emas ia tendang hingga terjungkal kepinggir sungai dan menjadi batu.




Sore itu juga Inyiak Kalombai pergi meninggalkan rumahnya menuju tanah seberang. Ia berlayar hingga ke muara sungai. Sebelum berangkat ia mengajak semua hewan untuk ikut dengannya. Namun entah mengapa, hewan yang awal mulanya tunduk kepadanya kini menjadi pembangkang dan hengkang meninggalkan Inyiak Kalombai. Hanya tiga ekor hewan yang tersisa yaitu singa, sapi dan kerbau. Sang singa ikut berangkat dengan Inyiak Kalombai. Sapi dan kerbau yang waktu itu masih liar enggan untuk pergi. Sehingga Inyiak Kalombai menyumpahi keduanya dengan mengatakan akan diperbudak dan hidungnya akan dipasang tali oleh manusia. Iapun bertolak ke Tanah Seberang ditemani Sang Singa meninggalkan kawasan lumbung emas Nagari Sungai Kambuik.




Kawasan yang ditinggalkan Inyiak Kalombai itu hingga saat ini diakui semua orang banyak terdapat emas. Namun tak seorangpun yang berani mencari emas disana. Karena diyakini ada penunggu dan penjaganya dari golongan jin yang menyerupai ikan besar seperti predator. Bagi yang berani mencari emas disana pasti akan berjumpa dengan ikan predator itu. Orang yang sudah bertemu dengan penjaga itu, mata orang tersebut akan berwarna merah untuk selamanya. Ditahun sembilan puluhan pernah ada orang amerika yang turun disana menggunakan helikopter untuk meneliti kawasan itu. Dengan alat pendeteksi emas yang canggih ia mengakui bahwa memang banyak terdapat emas di kawasan itu. Namun sayang, peneliti dari Amerika itu tak berani menurunkan tim untuk mengambil emas disana. Masyarakat menduga kuat, bahwa orang Amerika itu telah berjumpa dengan penjaga kawasan itu dan ketakutan. Hingga saat ini, tak seorangpun yang berani mencari emas dikawasan itu, walaupun daerah sepanjang aliran sungai Batang Hari sudah diobrak abrik oleh penambang emas liar. Kawasan Inyiak Kalombai itu masih belum terjamah.




Sampai hari ini, kisah Inyiak Kalombui sangat masyhur ditelinga semua orang. Ditambah lagi dengan peninggalannya masih terdapat disana. Semua hewan dan peralatan yang telah dikutuk menjadi batu oleh Inyiak Kalombai masih awet dilokasi itu . Batu tempat Inyiak Kalombai menjemur emas basah sekarang masyarakat menyebutnya dengan Batu Panjamuan. Kucing yang dikutuk menjadi batu dikenal dengan Batu Kuciang. Sementara kuda milik Inyiak Kalombai yang juga telah jadi batu dikenal dengan Batu Kudo. Tempat menyimpan emas basah miliknya dinamai dengan Tungga Biawak. Periuk yang dilemparnya ke tengah sungai disebut Ombak Pariuak. Anak sungai yang berasal dari air nasi yang sedang mendidih yang ditumpahkan oleh Inyiak Kalombai hingga hari ini tak berhenti mengalir. Sapi dan kerbau yang disumpahinya sekarang menjadi jinak dan hidungnya telah dipasang tali oleh manusia. Di hutan Nagari Sungai Kambuik berbagai macam hewan liar masih bisa kita jumpai kecuali Singa. Karena Singa ikut dengan Inyiak Kalombai ke Tanah Seberang. Semua itu menjadi saksi sejarah akan kesaktian Inyiak Kalombai.




Sumber : Pak Haji Harmonis (Tokoh Ampek Jini Nagari Sungai Kambuik)




***




Arti kata-kata :




- Jae : Alat untuk memisahkan pasir dengan emas terbuat dari kayu berbentuk bulat.




- Baladi Biawak : Tempat menyimpan emas yang terbuat dari bambu.




- Predator : Hewan besar pemangsa manusia dan hewan.




- Panjamuan : Tempat menjemur sesuatu.




- Kuciang : Kucing




- Kudo : Kuda




- Pariuak : Periuk untuk menanak basi
Read more ...

Cerita Rakyat - Legenda Batu Agung




Di Kampung Surau hiduplah sebuah keluarga miskin di sebuah gubuk dekat aliran sungai. Gubuk kecil itu dihuni oleh seorang Ibu yang sudah paruh baya dan anak laki-lakinya yang masih belia. Negeri Kampung Surau yang damai ternyata tak sedamai hidupnya keluarga kecil itu. Suaminya yang telah tiada memaksa sang Ibu berjuang sendirian. Sang Ibu menghidupi anaknya dengan hasil tanaman yang ditanam disekitar gubuk. Walaupun anaknya tidak bisa ia sekolahkan layaknya anak-anak yang lain, namun sang Ibu tetap mengajari anaknya budaya dan kebiasaan yang baik di rumahnya. Hingga anak ini tumbuh menjadi seorang anak yang matang.
Suatu hari sang anak yang sudah berakal ini menatap langit biru. Melihat burung-burung yang bermain ria. Ia melamun membayangkan masa depan yang indah. Ia ingin merubah nasib keluarga dengan merantau ke negeri seberang, seperti kebanyakan anak muda lain di kampungnya. Pergi merantau dan pulang membawa harta untuk sang Ibu tercinta. Tak sengaja air matanya meleleh ketika melihat keadaan sang Ibu yang makin hari semakin tua. Menanggung beban dunia sendirian. Didalam hati ia bergumam, bahwa ia ingin pergi merantau ke negeri seberang.
Berselang beberapa hari, hatinya pun semakin kuat untuk mengadu nasib di tanah jawa. Niat itupun akhirnya diutarakan pada Ibunda. Dengan berat hati akhirnya sang Ibu pun mengizinkan. Mengingat sang anak berhak menentukan masa depannya.
Hari yang pilu pun tiba. Pagi itu, sang Ibu menyiapkan perbekalan untuk anaknya dengan muka mengiba. Satu demi satu kristal bening keluar dari sudut matanya. Bagaimana tidak, anak satu-satunya yang ia besarkan dengan keringat dan darah, kini akan pergi meninggalkannya. Baju, makanan dan beberapa logam rupiah disiapkan. Dibungkus dengan kain yang sudah mulai lusuh.
Dipinggir sungai ia melepas anaknya yang akan berlayar ke negeri seberang. Ibunda langsung memeluk putranya dengan erat seiring kapal yang membawa anaknya pergi sedang menepi. Pelukan terakhir seakan tak mau dilepas. Sang Ibu takut anaknya tak kembali. Berkali-kali ia ciumi anaknya dengan rasa cemas.
“Hati-hati di rantau urang Nak. Capek pulang kalau lah berhasil.” Itulah kata-kata terakhir yang terlontar dari mulut sang Ibu. Anaknyapun mengangguk, tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya kelu dan air matanya berlinang. Yang ada dalam benaknya adalah bagaimana ia bisa merubah nasib keluarganya. Ia akan berjuang sekuat tenaga untuk membahagiakan Ibunda. Ia peluk Ibunda erat-erat penuh rindu.
Kapal pun akhirnya berangkat, meninggal negeri Kampung Surau. Berlayar menuju tanah seberang, tempat sang anak mengadu nasib. Mewarisi keteguhan ibunya, Sang anak pun sangat giat bekerja. Pesan ibunda selalu diingat. Wajah orang tua yang semakin hari semakin keriput dimakan usia, dijadikan campuk untuk terus berjaya. Hari berganti hari, tak terasa sudah dua puluh tahun lebih ia merantau. Jerih payah selama ini akhirnya berbuah manis. Dulu pakaian anak ingusan Kampung Surau itu tidak terurus, kini telah berubah menjadi necys bak pakaian seorang raja. Dulu musiknya hanyalah Pupuik Batang Padi, kini sudah punya Gitar, Angklung Tanah Jawa , Kecapi dan Gong yang sangat besar. Ia hobi memainkan musik dan bernyanyi, sebagai obat rindu pada kampung halaman.
Sekarang sang Anak sudah berhasil dan berjaya di rantau orang. Ia sudah mempunyai puluhan orang anak buah dan pelayan. Ia mempunyai seorang isteri yang selalu setia menemaninya. Isterinya mempunyai wajah yang cantik jelita dan bodi yang berbentuk gitar Spanyol. Bak putri seorang raja.
Suatu hari sang Anak teringat Ibunda sendirian di tanah kelahiran. Ia ingin pulang kampung, menyilau Ibunda tercinta di kampung halaman. Membawa janji yang dulu pernah ia utarakan.
“Caliaklah anak amak ko, Mak. Nasib kito lah barubah dan Amak berhak manikmatinyo.” Ucap sang Anak didalam hati ketika teringat ibunya yang hidup sendirian di kampung tercinta, di negeri Kampung Surau.
Hari yang baik pun tiba. Sang Anak menyiapkan segala keperluan untuk pulang. Oleh-oleh untuk ibunda tersayang disiapkan paling duluan. Isterinya ikut membantu mengemasi barang-barang. Kapal laut ia beli untuk menyeberang pulang ke Pulau Sumatera. Puluhan anak buah dan pengiring ikut dalam rombongannya. Alat musik kesayangannya ia bawa pulang untuk kenang-kenangan. Kapal mulai meninggalkan tanah jawa, kabar kepulangan sang Anak terdengar sampai ke telinga ibunda. Sang Ibu bergembira menanti kedatangan anaknya di pinggir sungai tempat ia tinggal. Ia tidak sabar bertemu anaknya yang telah berhasil di rantau orang. Ia bayangkan wajah anaknya.
“Dia pasti tampan dan gagah”. Bisik sang Ibu dalam hati.
Dua puluh hari telah berselang. Rombongan kapal sang Anak hampir sampai di Kampung Surau. Sang Anakpun tak sabar bertemu ibunya. Sudah dua puluh tahun ia tinggalkan orang tua tercintanya. Kapal pun menepi ke daratan. Sang Anak melihat kampungnya dengan wajah bersinar. Kampungnya yang nyaris tak ada perubahan sejak ia tinggalkan.
Sang Ibu melihat kedatangan kapal itu dari atas bukit dimana gubuk reyotnya dibangun. Bergegas ia turuni lereng bukit itu dan sampai ditepi sungai walaupun dengan langkah kaki diseret. Sang Anak yang masih berada diatas kapal terkejut melihat ibunya, berlari menyongsong kedatangannya. Dilihatnya sang Ibu datang dengan kain yang lusuh dan compang-camping. Kulitnya yang keriput dan rambutnya yang putih penuh uban membuat sang Ibu terlihat tak terurus. Dengan langkah gontai sang Ibu dekati kapal anaknya. Melihat pemandangan itu sang Anak merasa jijik dan malu mengakui bahwa itu ibunya.
Dengan perasaan gembira sang ibu ingin melompat kedalam kapal anaknya yang telah dari tadi menepi di daratan Kampung Surau
“Anakku”. Sang Ibu berteriak gembira.
Sang Anak terdiam kaku dalam kebingungan. Ia malu pada isteri dan anak buahnya, jika mereka mengetahui kalau majikannya yang kaya raya ini mempunyai ibu yang tua renta dan tidak terurus seperti yang datang kehadapan mereka. Cepat-cepat sang Anak menyuruh pengiring dan anak anak buahnya mengambil sebuah gala yang panjang untuk mendorong kapal ketengah sungai dan mengusir wanita tua itu. Sang Anak ingin kembali ke tanah seberang. Dengan sigap anak buahnya mendorong kapal ketengah sungai dan menolak badan sang Ibu dengan gala.
Kapal kembali ketengah dan sang Ibu terjatuh ketepi sungai. Sang Ibu sangat sedih dan menangis menyesali perbuatan anaknya. Ia menyesal melahirkan anak yang durhaka itu. Sang Ibu berusaha naik ke daratan dengan sisa tenaganya. Sesampai di daratan ia berdo’a kepada Allah Swt. Sambil menengadahkan tangan dan berurai air mata ia memohon kepada Yang Kuasa.
“Karam kapal waang handaknyo, Nak dan jadi batu lah waang”.
Tiba-tiba petir menggelegar dari langit yang masih terang, kilat menyambar dan hujan pun turun. Kapal sang Anak tiba-tiba oleng ditengah sungai. Kapal itu miring dan tenggelam. Hartanya berserakan termasuk alat musik yang dibawanya. Do’a sang Ibu langsung dijawab Allah Swt, kapal yang sudah miring ke sungai tiba-tiba mengeras menjadi batu. Sang Anak, isteri dan rombongannya tertimbun oleh material kapal. Alat musik Gong yang besar itu tersangkut disisi kapal. Riwayat anak durhaka dari Kampung Surau tamatlah sudah.
Sejak kejadian itu kapal sang Anak yang berubah menjadi batu akibat dikutuk oleh ibunya dinamai Batu Gong, karena ada alat musik Gong yang besar menempel disisi kapal. Orang Kampung Kampung Surau hingga saat ini menyebutnya Batu Aguang atau Batu Agung.

* * * Cerita ini sudah dilombakan pada Lomba Menulis Cerita Rakyat Tingkat Kab. Dharmasraya dan mendapat Peringkat Pertama.
** Penulis adalah Guru SDIT ASA DHARMASRAYA


Arti kosa kata :
1. Hati-hati di rantau urang Nak. : Hati-hati dirantau orang, Nak
2. Capek pulang kalau lah berhasil. : Cepat pulang kalau sudah berhasil
3. Necys : Rapi
4. Pupuik Batang Padi : Seruling dari batang padi.
5. Caliaklah anak Amak ko, Mak. : Lihatlah anakmu ini, Bu.
6. Nasib kito lah barubah : Nasib kita sudah berubah.
7. Dan Amak berhak manikmatinyo. : Dan Ibu berhak menikmatinya.
8. Karam kapal waang handaknyo, Nak. : Mudah-mudahan Tenggelamlah kapalmu, wahai anakku.
9. Dan jadi batu lah waang. : Mudah-mudahan engkau jadi batu.
Read more ...

Thursday, September 6, 2018

Cerpen "Andai Dulu Di Kairo Aku Menikah"

Entah pada siapa akan ku ceritakan? Tentang hati yang masih terpenjara sepi, tentang cinta yang masih pudarkan warna pelangi. Kulangkahkan kaki, namun mataku masih terpejam perih. Mengingat cerita duka yang belum usai dan terus mendekati. Kucoba untuk terus berdiri, namun ombak berapi menghantamku kini.

Entah kapan waktu itu akan datang, sementara malam masih terus kelam, hitamnya menyerang kaburkan cahaya yang masih ku genggam. Dan kutakut dinginnya akan menusuk pori-pori kehidupan, sehingga ku menggigil tuk gapai hari esok yang penuh sinar harapan.

Mengharapkan munculnya rembulan, tentulah sebuah khayalan, sebab umurku kini bak sepertiga malam. Sepertiga malam yang tak berbintang. Hanya do'a di dua rakaatku yang selalu kuhaturkan.

Tuhan.

Walau malam ini tiada rembulan, namun jangan engkau padamkan cahaya-Mu yang selalu kugenggam, agar kubisa terus putarkan roda kehidupanku dengan senyuman.

Tuhan.

Walau malam ini dinginnya menusuk ketulang, namun jangan engkau biarkan aku menggigil kedinginan. Agar kubisa untuk bangun kembali menyemai benih kehidupan.

Tuhan

Biarlah malam terus dinginkankan hatiku. Biarlah rembulan tak akan hadir menerangi lorong anganku, Biarlah bebintang tak akan pernah berkedip di rongga jiwaku.

Namun, tetap satu yang selalu menjadi keyakinanku, esok mentari pasti akan menyinari ragaku. Sinarnya akan terangi rongga jiwaku , cahayanya akan masuk kelorong anganku, hingga hatiku tak akan pernah jadi beku.

Iya, hanya itu yang selalu terpatri dalam hatiku. Sampai-sampai orang tuaku jadi malu bila orang sekampung menanyakan perihal itu. Perihal yang juga aku malu bila seandainya kawan-kawan di Kairo tau. Lulusan Al-azhar, sekarang sudah berkepala tiga, namun belum jadi kepala rumah tangga. Untung saja aku tinggal di daerah dimana kawan-kawan Kairo jarang sekali berasal dari tanah kelahiranku. Kalau tidak, pasti kelajanganku akan sampai ketelinga mereka.

Aku memang tak seberuntung teman-temanku waktu aliyah dulu. Setelah tamat, mereka langsung melamar kerja di PEMDA. Kabupaten kami waktu itu baru berumur 3 bulan dan baru memisahkan diri dari Kabupaten Induk. Sementara aku melanjutkan study di Al-azhar-Mesir. Aku prihatin melihat sinar agama Islam yang telah redup dikampungku. Bisa dibilang dari 5 orang warga dikampungku, kemungkinan hanya satu atau dua orang yang masih sembahyang.

Enam tahun di Mesir telah kulewati dan empat tahun aku telah berjuang di negeri ini. Negeri yang telah dijuluki dengan Dollar Sumatera. Seperti yang diimpikan oleh masyarakat kampungku. Pembangunan semakin pesat, jalan Lintas Sumatera semakin lebar dan ramai. Pasar yang luas, serta rakyatnya yang suka berdagang membuat kota ini tampak seperti Pasar Malam bila kelam telah datang.

Sampai-sampai aku telah merasa asing di negeriku sendiri. Dakwahku di Mesjid-mesjid dan mengajari anak-anak mengaji malah menjadi bahan cemoohan dimata orang kampungku. Pekerjan yang mulia itu dianggap hina karena tidak menghasilkan uang. Awalnya aku biasa-biasa saja. Dan tak aku hiraukan omongan mereka. walau terkadang mereka telah memfitnahku dengan yang bukan-bukan. Hingga hari ini, ketika Ibu mengjakku bicara.

" Nak, kapan kamu menikah?" pertanyaan Ibu membuatku tersentak.

" Ibu malu Nak, orang-orang selalu bertanya tentang itu pada ibu. Sudah empat tahun kamu disini, tapi kamu belum bilang dan ceritakan tentang hal itu pada ibu. "

" Maafkan Ananda Bu. Bukan Ananda belum cerita pada ibu, tapi Ananda memang belum ada calon. "

" Yang benar? "

" Iya Bu…" jawabku dengan polos.

" Kawan kuliahmu dulu di Mesir juga tidak ada?"

Aku menggeleng. Angin kencang yang berhembus dari arah sungai Batang Hari membelai mesra pipiku. Aura dinginnya membawaku kembali pada peristiwa di lembah Nil dulu. Usai shalat Isya aku ada janji dengan Bang Faishol dirumahnya, dikawasan Swesry A. Aku melangkah penuh mantap, semantap hatiku untuk melamar seorang gadis dari Padang Panjang. Semua kata telah kupersiapkan seperti seorang khatib yang akan khutbah jum'at. Shalat istikharah sudah kulakukan hampir penuh dua minggu. Hatiku semakin mantap untuk maju. Dan sebentar lagi niat itu akan ku utarakan pada Bang Faishol, yang masih ada pertalian darah dengan bakal calon isteriku. Sesampai dirumahnya, ku ketuk pintu penuh malu. Bang Faishol pun menyahut dari dalam, dan mengintruksikan bahwa aku disuruh menunggu sebentar. Ini sudah menjadi adat bila bertamu kerumah para Usrah. Aku maklum. Tiba-tiba ponselku berbunyi, private number. Ini telepon dari Indonesia.

" Halo!!! "

" Fadhli, ini Pak Odang. Ayahmu tadi pagi telah mendahului kita, beliau jatuh dari tangga rumah ketika hendak pergi shalat shubuh. Pak Odang berharap agar kamu tabah atas musibah ini."

Tanpa sempat mulutku membalas kata-kata dari Abang Ayahku itu, puncak kesedihanku datang untuk meluluh-lantakan persendianku. Tapi aku berusaha tegar. Namun air mata bukti kesucian cintaku pada Ayah tak bisa kubendung, kini ia mengalir sederas sedih yang terus menusuk hatiku. Tanpa aba-aba, aku berlari meninggalkan rumah Bang Faishol. Aku terus berlari hingga sampai di Suq Sayarat. Disana kuhempaskan tangis sejadi-jadinya. Ingatanku hanya satu, cepat selesai kuliah dan berbakti pada Ibu. Satu-satunya orang tuaku yang masih hidup.

" Fadhli, kamu kenapa Nak? " suara Ibu menyadarkan aku dari lamunan. Aku angkat kepalaku.

" Benar tidak ada calon dari Mesir?" Ibu memastikan kembali.

Aku kembali menggeleng.

Pagi itu, ibu memberi tau ku bahwa beliau akan pergi kerumah Datuak Rajo Panghulu. Ibu rencananya akan meminangkan keponakan Penghulu itu untukku. Aku menurut saja. Aku yakin Ibu akan memilihkan yang terbaik untuk putra Ibu satu-satunya. Ba'da Zuhur ibu telah sampai dirumah. Kata ibu, nanti utusan mereka yang akan memberikan jawabannya langsung kepadaku. Aku disuruh ibu untuk menunggu mereka di depan swalayan Batang Hari, dekat dengan Mushalla tempat aku jadi Imam, setelah shalat Isya.

Seharian kujalani hari dan tugas mengajarku di Mushalla Al-falah dengan kikuk, aku jadi grogi menjalani semua ini. Seolah-olah ada suasana baru yang menelusup kerelung hatiku. Ada rasa bahagia yang ingin menjelma di raut wajahku, namun tak mampu aku lukiskan. Dan ada rasa takut yang datang, tapi aku kalut untuk ungkapkan. Hanya pikiranku yang selalu berlari-lari dari tadi, ingin ia menerobos apa yang akan terjadi malam ini, namun masih tetap saja kabur.

Shalat Isya di Mushalla Al-Falah, ku Imami dengan khusyuk. Air mataku menetes ketika do'aku di sujud terakhir kulantunkan penuh harap. Tangisku kembali terisak waktu do'a ba'da shalat fardu kusampaikan pada Allah SWT dengan sesungguh hati.

Satu persatu jama'ah mulai meninggalkan Mushalla, ada yang telah sampai dijalan Lintas. Sementara sebagiannya masih sibuk mendaki anak tangga. Sebab Mushalla kami terletak 15 meter di bawah jalan Lintas Sumatera. Swalayan Batang Hari tampak semakin ramai didatangi pengunjung. Swalayan itu terletak pas di tepi Lintas, tak jauh dari Mushalla ini.

Aku lansung menuju kesana, mungkin utusan mereka telah menunggu di Swalayan. Baru saja aku berhasil menyelesaikan anak tangga paling atas, sepasang suami isteri separuh baya telah menungguku. Seorang gadis beljilbab agak dalam dan tiga orang temannya tanpa hijab kepala ikut berdiri dibelakang mereka. Mereka ini pasti keluarga calonku. Kuucapkan salam pembuka bicara. Namun Bapak yang didepanku telah memotong salamku. Tanpa menjawabnya lebih dulu.

" Hei anak muda ! Apakah kau tidak bercermin sebelum bertindak? "

" Apa maksud Bapak? " aku terkejut mendengar pertanyaan mendadak itu, tapi aku berusaha tenang dan bersahabat.

" Orang tuamu berani-beraninya melamar Putriku untukmu. Apakah telinga kau tuli? Sehingga kau tidak mendengar ocehan orang kampung tentang perangaimu. Pulang dari Mesir bukannya membangun moral kampung, tapi malah kau yang merusak akhlak kampung ini. Semua orang mengatakan kau telah mencabuli anak-anak yang belajar ngaji denganmu. "

" Apa yang Bapak katakan? Aku tidak mengerti? "

" Jangan berpura-pura sok Alim kau. Hei, ingat! Apakah kau kira cukup untuk membiyai anakku hanya dengan modal mengajar ngaji saja? Lebih baik kau ulangi saja sekolahmu dari ibtidaiah. Dari pada kau sekarang mengajarkan agama sesat di kampung kita. Lihatlah, celanamu sekarang tak sampai ke mata kaki. Jenggotmu panjang seperti kambing hutan. Ajaran apa yang kau bawa? Apa kau belajar menjadi teroris di Mesir sana? Waktu kau baru pulang dulu, memang banyak orang yang ingin mengambilmu jadi menantu. Tapi kenyataannya sekarang , mencari pekerjaan saja kau tidak bisa. Orang saja yang tidak kuliah bisa bekerja, kau malah memilih untuk bermain-main dengan anak didikmu. Laki-laki macam apa kau? " telingaku panas mendengar perkatannya yang tak jelas. Itu semua fitnah. Tapi aku tersadar, kiranya inilah yang selalu menjadi pangkal cemoohan orang kampung terhadapku. Dan sekarang aku juga telah difitnah mencabuli anak mengajiku. Astaghfirullah…

" Hei Bang Ustad, jangan Abang kira aku mau dengan Abang. Abang sangka dengan Gelar Luar Negeri Abang itu , Abang bisa melamar gadis yang Abang Ustad suka? Ngaca dong Stad… Jadi guru ngaji itu tak akan bisa menghidupiku. Atau abang kira, kertas-kertas Al-Qur'an itu bisa berubah menjadi Dollar? "

" Hei diam kau !!! " Kutunjuk dan kudekati gadis berjilbab pendek yang baru saja berkomentar itu dengan penuh amarah. Aku kehilangan kontrol. Ternyata ia lebih ganas dari pada ayahnya. Ia boleh saja mencaciku sepuas hatinya, tapi jangan sekali-kali berani menginjak-injak Al-Quran di depan mataku. Aku tidak bisa membiarkan itu. Walaupun yang berbicara itu adalah gadis yang dipilihkan Ibu untukku. Aku tau, ini bukan salah Ibuku, sebab mencari gadis berkerudung saja memang susah disini. Memang banyak yang pakai jilbab , tapi itu hanya waktu pergi sekolah atau ke kantor.

Gadis itu menjerit ketakutan. Tiba-tiba segerombolan preman muncul dari arah Swalayan Batang Hari. Satu pukulan keras dari ayah gadis itu telah mendarat di pipiku. Segerombolan preman itu langsung menyerbu ke arahku. Aku diam terpaku kaku. Hanya do'a yang sempat kuselipkan diantara keteganganku. Ya Allah, selamatkan aku dari kaum yang zalim. Belum sempat aku melakukan apa-apa. Belasan pukulan dan tendangan telah mematahkan seluruh persendianku. Aku roboh dipinggir jalan. Sayup-sayup aku mendengar teriakan lantang dari mulut mereka.

" Bunuh saja Pencabul itu. Kalau tidak, anak-anak kita akan banyak jadi korban lagi karena perangainya. Ayo,,, bunuh saja!!! " Serempak suara mereka menyentakan tali nadiku, lagi-lagi batinku mengadu pada Yang Maha Kuasa. Ini adalah Fitnah…

Tak terhitung lagi, entah telah berapa banyak tendangan mereka menghantam tubuhku, hingga akhirnya pandanganku kelam. Buang saja dia ke sungai Batang Hari, biar bangkainya dimakan buaya Jambi. Putus-putus kudengar ucapan itu, telingaku masih berfungsi. Aku diseret kearah sungai yang letaknya hampir lima ratus meter dari tempat ini.

Badanku tergoyang-goyang lembut dan tergontai-gontai, karena preman yang menyeretku setengah berlari. Seoalah-olah aku sedang berada diatas Qithar Mesir yang sedang membawaku pulang ke Hay Tsamin dari Maidan Roxy. Didepan Kuliyatul Banat aku melihat segerombolan mahasiswi Indonesia berbaju hitam dan memakai jilbab serta niqab putih. Pemandangan itu sangat indah kurasakan. Lalu kuambil secarik kertas yang telah lusuh. Kutulis dengan pena penyesalan dan berurai air mata….

Andai dulu di Kairo aku menikah.

Mungkin bunga cinta ini tak akan menemui nestapa.

Ia akan tetap mekar walau diri dirundung derita.

Karena air penyiramnya diambilkan dari sungai Nil yang berkah.

Bukan dari sungai Batang Hari yang kini telah mulai bersampah.

Andai dulu di Kairo aku menikah.

Mungkin lambung cinta ini tak akan pernah terluka.

Ia akan tetap terjaga walau makan hanya dengan sebutir telur dikeping dua.

Karena uang untuk membelinya dikumpulkan dari sisa ongkos kuliah.

Bukan dari Dollar yang dikejar dengan ijazah.

Andai dulu di Kairo aku menikah.

Mungkin aku akan bahagia bana.

Rumah tangga ku akan benderang dan berkilau indah.

Karena mata gadisnya berkilau bak permata Asfour dari Shubra.

Bukan silau karena melihat kilauanya dunia beserta iisinya.

Buat kawan-kawan di Kairo

Yang belum menikah…

Pernah dimuat di Majalah MITRA ( Majalah Mahasiswa Minangkabau di Mesir)
Dan juga pernah dimuat di Situs Cimbuak.net ( Salah satu Situs Terpopuler Orang Minangkabau)
*** Abuya 'Ain Syams.
25 Desember 2008

Cat
Read more ...

Cerpen " Kau Mesirku"

Masih teringat dalam ingatanku, kenangan pahit ketika aku kuliah di Al-azhar Mesir. Sepuluh tahun yang lalu. Kenangan itu begitu berharga bagiku. Namun, aku sangat sedih ketika aku kembali teringat pada teman-temanku. Dimanakah mereka sekarang? Peristiwa itu kembali lagi berputar-putar di alam sadarku. Siang itu,,,

* * *

Pasar Khan El-khalily kian ramai, seiring matahari kian naik ke sepenggalah langit. Hampir pas diatas ubun-ubunku. Baru saja aku selesai Talaqy dengan Syekh Thal'at Abdul Lathif. Guru Fiqh Safe'i yang sering dipuji-puji oleh mu-rid-muridnya. Termasuk aku. Aku harus cepat-cepat ke tempat kerjaku. Ammu Shalah, bapak angkatku di Mesir pasti sudah menungguku dari tadi. Kulirik jam ditanganku.

" Ouh… Aku terlambat hampir setengah jam."

Kupercepat langkahku. Seoarang tourist tersenggol oleh sikutku yang men-gembang, karena aku menjepit buku disana. Kiri-kanan orang Mesir sibuk berteriak menawarkan dagangan mereka. Terlihat jejeran Pyramid mungil menghiasi meja didepan tokonya. Lengkap dengan Singa berkepala manusia yang selalu setia menemani ketiga Pyramid itu. Sesetia sungai Nil menemani Mesir. Setelah dua lorong dari pintu utama pasar itu aku belok kanan. Lorong ini akan tembus hingga ke pasar alumunium Bab El Sya'riyyah. Sebelum pa-sar itu kita akan melewati tempat-tempat bersejarah di Mesir. Seperti, Per-pustakaan peninggalan Raja Mamalik. Dan beberapa mesjid Raja Mesir. Dan sebelum Perpustakaan Raja Mamalik itulah toko buku tempat aku bekerja dan tinggal sehari-hari terletak. Dan kini mataku telah tertuju pada gerbangnya yang berjeruji besi tua itu.

" Kok tutup?" Lirihku dalam hati. Biasanya Ammu Shalah telah menunggu disana. Aku berlari kecil kesana. Tapi tiba-tiba aku dicegat oleh Ammu Ik-ram, sang penjual kiswah dan berbagai jenis Papyrus.

" Riko, sebaiknya cepat-cepat kau tinggalkan tempat ini. Sebelum Syurthah-syurthah kurang ajar itu mencarimu."

" Apa yang telah terjadi?" Pertanyaan itu spontan melompat dari mulutku. Aku tegang. Ammu Ikram membawaku kedalam tokonya. Dia ceritakan apa yang telah terjadi sebelum aku datang. Ternyata, Ammu Shalah telah dibawa oleh rombongan mabahits. Ia diseret kedalam mobil biru putih bagaikan bi-natang ternak. Beliau diduga telah menjual kitab-kitab yang dilarang beredar oleh Pemerintah. Semua isi perpustakaan dan lengkap dengan barang-barangku dibawa oleh mobil Naql milik mereka.

Aku terhenyak mendengar penjelasan dari Ammu Ikram. Segala persendian melemas, mataku berkunang-kunang. Disudut mata itu mengalir air panas sederas derita yang mengalir keseluruh sarafku. Semua harta milikku telah ludes dibawa polisi-polisi terkutuk itu. Termasuk baju-bajuku, kitab-kitab yang telah menemaniku. Semua telah lenyap. Hanya baju yang kupakai be-serta kitab Fiqh 'ala Mazhab syafe'I ini saja yang tertinggal.

" Nak, cepat-cepatlah kau pergi dari sini. Aku takut polisi-polisi itu akan kembali lagi kesini, untuk mencarimu. Lekaslah pergi! " Ammu Ikram mena-tapku lekat-lekat. Aku memang harus pergi dari sini. Tapi, entah kemana aku akan pergi. Polisi-polisi itu pasti akan mencariku. Sebab foto-foto dan bio-dataku berserakan di kamar perpustakaan itu. Tanpa kata-kata aku lansung kabur lewat jalan belakang. Orang Indonesia pasti belum pernah menapaki jalan ini. Ialah sebuah lorong yang berbelok-belok. Kalau kita salah melewati satu lorong saja pasti akan berputar-putar di perumahan kumuh dibelakang mesjid Husain. Lorong itu akan tembus di dekat ujung Qal'ah perbatasan kota Kairo tempo dulu. Aku sering melewati lorong ini kalau hendak menemui sahabatku yang tinggal di Madinatul Bu'uts. Kutelusuri lorong itu selangkah demi selangkah. Sementara mataku masih meneteskan air kesediahan. Ia menetes di setiap langkahku. Andai ada polisi yang mengikuti air suci itu, pasti ia akan mudah mendapatiku.

Terus saja aku berjalan, kakiku telah hafal betul dengan jalanan lorong ku-muh itu. Bau busuk yang keluar dari sampah yang berjejer di dinding imarah menusuk hidungku berkali-kali. Aku tak peduli. Aku ingin ke Raba'ah El-adawiayah, tempat si Rudi dan teman-teman lainnya ngekost. Besok mereka akan dipulangkan ke Tanah Air dengan pesawat Garuda yang pulang men-gantar jama'ah haji. Pesawat itu sengaja singgah di Kairom, untuk mengang-kut mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang kekurangan biaya kuliah, ka-rena ciprakan krisis moneter yang sedang membadai di Indonesia. Bagai-mana tidak, jangankan untuk ongkos ke kuliah untuk bertahan hidup di Mesir saja susah. Dan aku adalah orang yang memilih bertahan hidup disini. Dari pada pulang tanpa ijazah. Aku belum mendapatkan apa yang aku cari di Negeri Seribu Menara ini. Untung saja ada Ammu Shalah yang telah memberi tumpangan tempat tinggal di maktabahnya. Kalau tidak, aku akan tinggal ber-sama bawwab-bawwab di perkuburan Bab En-nasr. Seperti Joko dan kawan-kawan dari Sumatera lainnya. Tapi, sekarang$#@^%&

Ku urungkan niat ke Rab'ah, karena aku teringat tidak membawa uang seper-sen pun. Langkahku tertegun sejenak. Lalu kumantapkan langkah menuju rumah Joko di tepi perkuburan. Karena untuk kesana tidak perlu naik Bus. Cukup dengan berjalan kaki saja. Perkuburan itu tak jauh dari sini. Lagi pula kalau aku paksakan ke Rab'ah, aku pasti akan didesak untuk pulang oleh kawan-kawan disana. Malah kata Rudi seminggu yang lalu namaku juga te-lah didaftarkan sebagai calon yang akan pulang ke Indonesia. Kasihan sekali Joko dan kawan-kawan. Ia pasti menderita di gubuk itu. Makan apa adanya. Minum air mentah yang didinginkan didalam kendi-kendi dipinggiran jalan. Tapi, kemulian para penjaga kuburan itu sangatlah tak ternilai, bila diband-ingkan dengan penderitaan para mujahid Indonesia yang menumpang hidup di rumah mereka. Mereka rela menumpangkan para mahasiwa dirumahnya. Tanpa membayar walau se Qirsy pun.

Kupercepat langkahku, sekarang perkuburan itu telah berada didepan ma-taku. Namun aku harus menyeberangi jalan raya yang berarus deras. Jalan ini adalah jalan menuju Qal’ah Shalahudiin Al Ayubi. Jalan ini juga bisa tembus ke Maidan Saidah ‘Aisyah. Tepat didepan Masyikhah Al-azhar ada jalan ba-wah tanah. Aku tak tau ujung jalan itu akan tembus kemana. Sebab aku be-lum pernah melaluinya.

Ku berlari untuk menyeberangi jalan. Kalau tidak, aku akan ditabrak mati oleh mobil-mobil yang berkecepatan sangat tinggi. Sebab jalan yang aku se-berangi tidak ada trotoar dan tidak ada lampu merah. Jalan ini seperti jalan tol di Jakarta. Langsung aku menuju ke rumah yang ditempati Joko dan kawan-kawan. Rumahnya terletak di pinggiran kuburan ujung sana. Aku harus melewati kuburan-kuburan yang berdinding tinggi sejauh tujuh ratus meter untuk sampai kesana. Kuburan di kawasan Bab En-nasr ini sangat luas sekali. Panjangnya kurang lebih 2 km, sementara lebarnya sekitar 700 meter. Kuburan ini sebagian adalah kubuaran para Syuhada yang meninggal pada perang Salib II yang dipimpin oleh Shalahuddin Al-ayubi. Dan sebagian lagi kuburan masyarakat Mesir.

Kuhentikan langkahku ketika mataku tertuju pada rumah yang ditumpangi Joko. Polisi-polisi berseragam biru telah berkumpul disana. Cepat-cepat aku masuk kesalah satu bangunan kuburan. Dari sela-sela jendela yang rusak ku-perhatikan apa yang dilakukan Polisi itu terhadap Joko dan yang lainnya. As-taghfirullah, Joko, Andi, Rozi dan Ahmad dimasukkan kedalam mobil Naql berwarna biru gelap. Barang-barang mereka juga ikut dibawa. Aku jadi ce-mas, jantungku berdegup cepat. Mobil Naql dan dua mobil Jip lainnya ber-gegas meninggalkan rumah para penunggu kuburan itu. Aku harus memas-tikan keadaan aman terlebih dahulu, sebelum aku keluar dari tempatku. Hampir sepuluh menit aku menunggu, namun jantungku masih berdetak kencang dan terburu-buru.

Kuberanikan diri untuk keluar dari persembunyianku. Dengan ragu aku me-langkah mendekati rumah penjaga kuburan itu. Kulihat kiri dan kanan, tak ada apa-apa. Aku bergegas menuju pintu rumah itu. Sambil mengucapkan salam, aku masuk ke rumah yang pintunya masih terbuka. Kontan saja orang yang ada didalam kaget melihat kedatanganku secara tiba-tiba.

“ Maaf, aku Riko temannya Joko. Apa yang telah terjadi dengan mereka?” Tanyaku pada seorang Madame yang aku masih ingat wajahnya, ketika aku menziarahi Joko dua minggu yang lalu.

“ Joko dan teman-temannya dibawa kekantor Polisi. Karena mereka tidak di-izinkan tinggal bersama penduduk Mesir. Apalagi tinggal bersama kami di pemakaman ini. Pemerintah takut akan terjadi apa-apa dengan masyarakat Mesir. Kamu kan tau, sekarang Pemerintah sedang gencar-gencarnya memer-angi salah satu pergerakan yang dianggap akan mengancam terhadap kea-manan negara ini.”

“ Ikhwanul Muslimin maksud Madame?”

“ Iya. Cepat-cepatlah kau pergi dari sini. Nanti kau bisa saja ditangkap mere-ka, walaupun aku tau kalian adalah manusia-manusia yang berhati putih. Maaf, aku bukan bermaksud mengusir. Tapi ini demi keselamatanmu.”

“ Tapi, bolehkah aku menumpang untuk shalat Dzuhur sebentar saja.”

“ Boleh, silahkan! Dan disana tempat wudhu’nya.”

Aku langsung menuju tempat wudhu yang ditunjukan Madame tadi. Setelah selesai menunaikan Shalat Dzuhur, hatiku agak tenang. Rasa damai menghi-asi jiwaku. Teduh sekali. Kuhaturkan do’a pada Yang Maha Kuasa. Aku tau Polisi pasti akan mencariku, karena Ammu Shalah memang termasuk ke-dalam pergerakan itu. Biodataku sangat lengkap di perpustakaan, tempat aku tinggal. Apakah aku harus pulang juga seperti halnya Rudi dan kawan-kawan yang tinggal di Rab’ah Al-adawiyah? Mau tidak mau aku harus ke Rab’ah. Yang terpenting adalah aku harus selamatkan jiwaku dari Polisi Keamanan. Aku sekarang sedang dicari. Wanted! Namun, aku tidak punya uang untuk kesana. Apakah aku harus meminjam uang kepada pemilik ru-mah ini? Tapi tak mungkin, mereka saja hidup dari roti ‘Isy yang disubsidi Pemerintah Mesir. Ya Allah, berikanlah jalan yang terbaik untuk hamba-Mu ini.

Aku pamitan pada yang punya rumah, kuucapakan terima kasih atas kebai-kan hati mereka. Air mataku sempat berlinang ketika aku minta maaf pada mereka. Aku, Joko dan teman-teman lainnya telah merepotkan mereka. Aku tidak bisa memastikan keselamatan penjaga-penjaga kuburan itu, mereka pasti akan berurusan dengan polisi karena telah menumpangkan orang asing di rumah mereka. Padahal rumah itu adalah rumah milik Pemerintah. Di Me-sir, kalau sudah behubungan dengan Polisi pasti akan rumit masalahnya. Namanya saja polisi kurang pekerjaan. Bayangkan saja, dari tiga orang pen-duduk Mesir ada satu orang yang polisi.

Kulangkahkan kaki penuh kegontaian, sebab entah kemana kaki ini akan ku-langkahkan. Hanya satu yang baru terpikir olehku, yaitu pergi ke Rab’ah Al-adawiyah. Untuk kesana butuh dua jam perjalanan dengan berjalan kaki. Ba-ru dua meter aku meninggalkan para penjaga kuburan itu, sebuah sedan berwarna hitam pekat melaju cepat kearah kami. Aku lansung lari masuk ke-dalam rumah penjaga kuburan. Namun suara seseorang perempuan yang se-pertinya aku kenal memanggil namaku dari dalam mobil.

“ Riko, tunggu… Ini aku. “

“ Fathma…” jawabku memastikan siapa yang memanggil namaku. Fathma keluar dari pintu belakang. Ia datang dengan seorang sopir. Fathma adalah anak dari Ammu Shalah. Ia memang sering datang ke toko buku ayahnya. Ia putri dan anak Ammu Shalah satu-satunya. Aku sering berdiskusi den-gannya, ia adalah pengikut Mazhab Syafe’i. Berbeda dengan orang-orang Mesir yang lain, yang rata-rata adalah pengikut Mazhab Hanbali. Dan aku sering mengajarkannya bahasa Indonesia, seperti yang selalu ia pinta. Ia sangat marah ketika aku bisa dengan mudah melafazkan bahasa arab, bahasa negerinya. Sementara ia tak mengerti satu kata pun dengan bahasa Indonesia. Fathma malah menjadi tertarik untuk melancong ke Indonesia, ketika aku menceritakan tentang indahnya alam Indonesia.

“ Aku tau tempat ini dari Ammu Ikram, si penjual kiswah. Ayah menitipkan surat ini untukmu. Dan harus kau baca sekarang juga.” Fathma mengulurkan sebuah amplop padaku. Segera kubuka amplop itu. Dan kubaca surat yang ditulis tangan oleh Ammu Shalah.

Anakku. Ketika kau baca surat ini, mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi. Aku sudah tau, hari ini aku pasti akan ditangkap polisi-polisi biadab itu. Karena kemarin aku sudah diancam mereka.

Anakku. Kau masih muda, masa depan masih terbentang luas dihadapanmu. Aku ha-rap kau kembali saja ke Indonesia, itu lebih baik untukmu. Baju-bajumu yang ditoko buku tidak bisa aku selamatkan. Tapi biodata dan foto-fotomu, Alhamdulillah selamat. Namun aku yakin polisi pasti akan mencarimu. Mereka lebih hebat daripada anjing pelacak.

Anakku. Aku butuh pertolonganmu. Bisakah kau membantuku? Aku menitipkan Fathma padamu. Kasihanilah ia, kemarin Ibunya baru meninggal gara-gara aku tidak mau menyerahkan diri pada polisi. Aku takut polisi juga akan menyeretnya. Ia harus pergi meninggalkan Mesir ini.

Anakku. Nikahilah anakku Fathma. Bawalah ia ke Indonesia. Menyelamatkan nyawa dari kaum yang zalim adalah wajib, dibanding kau paksakan untuk terus menuntut ilmu. Kalau kau bersedia, engkau akan dinikahkan oleh adikku Salman.

Masalah biaya jangan kau pikirkan. Semuanya telah aku urus, tiket kalian berdua pun telah aku beli. Dan kau juga bisa hidup dengan warisan yang telah aku berikan kepada Fathma. Aku mohon kau mengerti maksudku dan bersedia menikahi putriku satu-satunya. Dia sangat membutuhkanmu.

Wassalam aku yang memohon padamu.

Ammu Shalah

Setelah berpikir masak-masak, kuberikan jawaban pada Fathma. Aku setuju dengan permintaan ayahnya. Seketika itu juga, kami langsung menunaikan sunnah rasul yang mulia. Ammu Salman itu ternyata adalah sopir yang membawa Fathma kesini. Kami laksanakan rangkaian akad nikah secara syar’i dengan penuh khidmat. Setelah selesai akad, Fathma mendekatiku dengan perlahan. Aku serasa tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Fathma yang dulu sering kupuji kecantikannya walau hanya dalam hati, kini telah menjadi isteriku yang syah. Ia membuka niqab penutup mukanya, aku gugup. Walau dulu juga aku sudah pernah melihat muka Fathma waktu di toko. Tapi kini yang kulihat lain. Matanya begitu bersinar menatapku, hara-pan itu terpancar dari kedua mata indahnya. Aku seakan bermimpi, ternyata Fathma jauh lebih cantik dari pada apa yang aku bayangkan. Matanya yang indah dengan bulu mata yang panjang dan lentik membuat jantungku se-makin berdebar-debar. Pipinya yang putih dam memerah membuat nafasku susah diatur. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku lihat. Ia tersenyum padaku, bibirnya yang tipis dan mungil menambah keindahan senyum itu. Ia menyalami dan mencium tanganku penuh ta’zhim. Aku kecup keningnya dengan perlahan, ia merunduk dan memejamkan matanya.

Air mataku menetes ke jilbab abu-abu Fathma. Air mata perpisahan dengan orang yang telah memberi tumpangan hidup serta masa depan kepadaku. Air mata perpisahan dengan Mesir yang sangat aku kagumi. Air mata kesedihan ketika aku teringat kepada krisis moneter yang menimpa Tanah Air. Cipra-kan krisis itu telah menjadikan aku dan teman-teman lainnya di Kairo tidak bisa melanjutkan kuliah karena tak punya biaya. Namun aku sangat bersyu-kur pada Allah SWT. Allah telah memberiku bidadari dari sorga untuk me-nemaniku. Menemani kesedihanku. Untuk bisa menjalani kehidupan yang panjang dan telah terbentang.

* * *

“Ayah! Ayah kenapa?” Isteriku Fathma membuyarkan lamunanku yang pan-jang. Kuseka air mataku yang mengalir ketika aku mengingat peristiwa siang itu. Fathma memelukku dari belakang, tangannya mendekap tubuhku den-gan erat dan penuh cinta. Ia tau, kalau aku menangis pasti karena mengingat peristiwa siang itu. Ia bisikkan kata cinta ditelingaku.

Perahu berlayar meninggalkan teluk.
Nakhodanya sibuk menentukan angin.
Ditengah lautan ia berjalan.
Badai hujan yang di elakkan
Kakanda selalu akan dinda peluk.
Karena berpisah kita tak ingin.
Syukur pada Allah kita haturkan.
Karena hati tak bisa dipisahkan.


Rabu, 13 Agustus 2008
Cerita ini ditulis untuk mengenang kawan-kawan yang sempat berhenti kuliah dari Al-azhar, karena ciprakan krisis moneter yang melanda Tanah Air. Pada tahun 1995-1997 M.
Read more ...

Cerpen "Mak Aku Ingin Menikah"


" Mak, ada telepon dari anak kesayangan Amak nan di Mesir." Teriakan Rika, anak dan putri satu-satunya dari keluarga Almarhum Buya Datuak Rajo Panghulu itu mengejutkan Maknya yang sedang menyiang padi. Luluak dan air sawah menghiasi baju dinas Mak. Kuning, bak baju dinas Pak Gubernur. Untung saja baju itu hanya dipakai untuk ke sawah. Mencari sesuap reski, demi menyumpal perut anak-anak tercinta. Handphone Nokia 2100 milik anaknya Rika, yang kini telah bekerja di KUA Tanjung Karang kembali berbunyi.

" Nih Mak. "

Mak yang berusia setengah abad itu bergegas mengambil handphone yang dijulurkan putrinya. Sebenarnya handphone itu dulu adalah milik anaknya yang sekarang tingkat III di Al-azhar Mesir. Handphone itu sengaja dikirimkan buat kakaknya, karena adiknya tak sanggup membeli kartu Perdana yang harganya sangat mahal di Mesir. Sekitar 250.000 uang Indonesianya. Banyak urang awak yang punya HP waktu itu, namun bisa dihitung jari yang memiliki kartu Mesir sekaligus pulsanya. Padahal rata-rata anak baru waktu itu banyak yang bawa handphone dari Indonesia.

Mak seka tangannya yang basah dengan kain songkok yang bertengger di kepalanya. Lalu duduk diatas pematang yang ditumbuhi rumput banto sambil melepaskan penatnya. Ia genggam handphone penuh grogi, namun pasti.

" Assalamu'alaikum. " Mak mulai bicara setelah ia tekan tombol hijau yang terletak di kiri atas keypad.

" Wa'alaikum salam, Mak gimana kabarnya? "

Muka Mak lansung merekah waktu itu, air wajahnya tampak berseri. Senyum termanis Mak terumbar seketika. Sudah lama Mak tak mendengarkan suara anak bujangnya yang paling gadang itu.

" Mak, ada yang mau Ananda sampaikan pada Mak, penting! "

" Sampaikanlah. "

" Tapi Mak jangan berang ya! ”

Kening Mak berkerut, menyiratkan tak mengerti. Sebab ia tak pernah marah sama anaknya itu. Anak yang kata kakak dan adik-adiknya dibilang anak kesayangan Mak. Tapi bagi Mak semuanya sama. Cuma ada sekelumit rasa harap yang berlebihan dari Mak pada anaknya yang di Mesir itu. Wajar saja, anaknya itu adalah laki-laki paling tua. Dan sekarang Mak terbawa serius oleh ucapan anaknya yang berbicara soal yang penting. Terdengar desusan nafas dari seberang sana, sepertinya sang anak lagi mengambil nafas yang dalam untuk mengungkapkannya. Mak agak gugup.

" Fadhil ingin menikah Mak! " Kaliamat itu keluar dengan mantap, tanpa sedikit pun ragu. Seketika itu juga petir di langit hati Mak menggelegar sangat dasyat. Kilat menyambar persendiannya. Mak jadi lemas dan tak berdaya. Harapan yang Mak gantung agaknya akan sirna.

" Dengan siapa Nak? " Suara Mak sedikit berubah. Ada kecewa dan mendung yang berat disana.

" Dengan urang awak yang kuliah disini. Mak setuju? " sebenarnya tak perlu ia menanyakan itu, sebab jawabannya telah terselip dari suara Mak yang parau dan berat.

" Mak tidak akan setuju…." Tak kuat Mak menahan sedih. Petir yang tadi bergelegar kuat, kini menghantam hati kecilnya. Akhirnya hujan pun turun ditengah panasnya matahari harapan Mak. Mata Mak berair dan berkunang-kunang, seluruh badannya melemas. Handphone yang ia genggam perlahan terlepas.

" Mak, Mak kenapa Mak? " Mak tak sadarkan diri. Rika menjadi panik. Sementara air mata Mak terus mengalir di wajah pucatnya. Mak gemetaran seperti orang kedinginan. Rika berteriak-teriak meminta pertolongan. Semerta-merta orang kampung yang tadinya sibuk dengan sawah masing-masing, kini mereka berlari-lari menuju sawah tempat Rika berteriak histeris. Mak lansung dibawa ke rumah, adeknya Romi dan Rozi terkejut melihat Maknya yang digopong tetangganya.

" Mak kenapa Kak? " Serempak kedua adi-beradik itu bertanya. Kakaknya diam, sementara orang yang mengantarkan tadi minta pamit. Rika berterima kasih. Badan Mak terasa dingin, putrinya lansung mengganti pakaian Mak dan menyelimutinya.

Sudah tiga hari Mak duduk berbaring di tempat tidur. Tak satupun makanan yang masuk keperutnya, kecuali teh panas yang selalu dibuatkan putrinya sebagai penambah tenaga. Mak belum banyak buka mulut, hanya pada Rika ia bercerita. Rika jadi tambah murung, sebab sudah sebulan ia bercerita pada Pamannya tentang rencana ia akan menikah. Namun, bukan pertolongan yang didapatinya.

" Kalau nggak ada duit, nggak usah nikah dulu. Dengan apa anak akan dibarelekan. " Begitu kata Paman pada Mak sewaktu Mak menceritakan bahwa dari pihak laki-laki telah mendesak untuk segera dilansungkan pernikahan. Sebab calon suami Rika, hanya memiliki waktu cuti yang terbatas. Batinnya bergejolak, hatinya mencoba untuk meraba-raba. Bagaimana perasaan Mak ya? Duit untuk nikah aku saja belum ada. Dan sekarang malah adikku yang minta nikah. Mak pasti tersiksa. Andai Ayah masih ada, mungkin tidak seberat ini nasib yang dipikul Mak. Tak terasa air matanya telah membasahi pipi dan kerudung putihnya. Sedih benar-benar telah menyelimuti seluruh raganya. Ia tersentak ketika handphone disakunya berbunyi.

" Halo…"

" Kak, Mak kemarin kenapa? "

" Tidak usah kamu tanya Dik, lebih baik cepat-cepat kamu batalkan pernikahan itu. Daripada nanti kamu tidak bisa lagi bertemu Mak. Kalau kamu mau menikah, dengan apa anak orang nanti akan kamu kasih makan? "

" Insya Allah saya sanggup Kak, Saya akan bekerja. "

" Bagus, lebih baik sekarang kamu bekerja disana dan sekolahkan adik-adikmu disini."

" Tapi kak,,," Tangis Fadhil terisak dibalik ganggang teleponnya. Ia tak bisa menahan pilu yang datang menyayat hatinya. Hanya pada kakaknya ia bisa minta tolong untuk memberi pengertian pada Mak. Waktu bagi Fadhil tinggal beberapa minggu lagi, berita pernikahannya kini telah menyebar ke seluruh pelosok Kairo. Bahkan Wali dari pihak calon isterinya sudah siap terbang ke Kairo untuk mengawinkan putri sulungnya. Dan berkali-kali Fadhil telah ditelepon oleh calon mertuanya itu, agar mempercepat akad nikah. Sementara izin dari Mak dan surat pengantar dari kantor KUA dikampungnya belum ada.

" Kak, kakak kan bekerja di KUA. Buatkan sajalah surat pengantar dari sana bahwa pernikahan Fadhil dilakukan di Kairo. Kak, tolong Kak. " Suara Fadhil yang biasanya tak pernah manja pada kakaknya kini seperti anak kecil yang merengek. Denyut jantung Rika tertegun sejenak, ia dapat merasakan apa yang dirasakan adiknya di Mesir. Ia ikut sedih.

" Bukannya Kakak tidak mau menolong kamu Dik, apa kata Paman dan orang kampung nanti. Pernikahan Kakak dengan Bang Samy juga belum diurusin oleh mereka. " Terang Rika dengan nada terisak. Kini Rika juga ikut menangis dibalik handphonenya. Kata curhat itu keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Kepada siapa lagi ia akan mengadu, kalau bukan kepada adiknya. Toh kalau dia menikah, adiknya jualah yang akan jadi walinya. Rika benar-benar melepaskan tangisnya, seolah-olah ia menangis dipelukan ayahnya. Isak tangis kakak-beradik itu kini benar-benar telah bermuara di samudera kesedihan. Fadhil mengerti apa yang dirasakan Kakaknya, ia bisa merasakan betapa sedih kakaknya yang tak ada tempat untuk diminta pertolongan. Dan Rika pun mengerti akan nasib adiknya yang tidak mendapatkan izin. Hati mereka berdua telah tersambung oleh signal perasaan, sebagaimana signal handphone menyambungkan suara mereka.

" Aku akan segera pulang Kak! " Kalimat itu lantang dan tegas keluar dari mulut Fahil.

Sementara Mak yang masih terbaring di kamar depan, tidur dengan kaki selonjor. Tak seorang pun tetangga yang tau tentang sebab Mak sakit. Mata Mak tak mau terpejam, perutnya tak mau menerima makanan, hanya pikiran dan hati Mak yang dari tadi berkelana kesana-kemari. Ia teringat akan anak bujangnya di Mesir yang meminta untuk nikah. Bukannya Mak tidak setuju dengan permintaannya. Tapi ada rasa kehilangan yang mengerogoti jiwanya. Ada rasa kecemasan yang tersirat di wajah keriputnya. Nak, kalau seandainya Mak sudah tua. Kepada siapa nanti Mak akan menggantungkan hidup. Sementara umur Mak sekarang sudah 50 tahun. Dan kau adalah satu-satunya putra Mak yang sudah dewasa. Lirih Mak dalam hati. Nak, kalau kamu menikah disana. Apa nanti yang akan Mak jawab bila orang kampung bertanya. Mak takut mereka berpikiran yang tidak-tidak tentang kamu. Sementara kamu adalah Putra kebanggaan Nagari kita ini. Nak, Mak tak melarang kamu untuk menikah. Tapi Mak tak mau kamu menikah di Mesir. Kalau mau menikah, menikahlah disisi Mak. Mak pasti akan bahagia, karena Kau adalah anak Mak. Harapan Mak. Tapi itu tak mungkin nak! Kita orang tak punya, Kakakmu saja belum ada biaya untuk nikahnya.

* * *

Pagi itu udara di kampung sejuk sekali, burung berkicau riang sambil berterbangan di angkasa. Puncak gunung Merapi dan Singgalang tampak berkilau disenggol sinar sang surya. Awan putih dilangit bersusun indah. Wajah Rika kelihatan mempesona dan menawan hati. Senyumnya mengembang disetiap sudut waktu. Ia sungguh bahagia mendengarkan kabar dari adiknya ditelepon kemaren sore.

" Saya akan pulang Kak, paling lambat seminggu lagi. "

Kata-kata itu tegas dan bijaksana, walaupun ia tau adiknya pasti akan berhutang untuk mengusahakan tiket pulang. Ia sangat menghargai niat baik dari adiknya, adiknya pulang untuk meminta maaf pada Mak yang kini sakit di pembaringan. Ia sangat bersalah sekali. Ia tak ingin kehilangan ibunya. Adiknya pulang sebagai wali pada pernikahannya. Menggantikan posisi Almarhum Ayahnya. " Dik, Kakak akan tunggu kamu di rumah kita." Bisik Rika dalam hati.

Seminggu kemudian, tibalah waktu yang dinantikan Rika. Fadhil datang dari Kairo, parasnya tampak bersih dan agak putih. Seperti orang luar negri kebanyakan. Bahkan didalam angkot yang membawanya kerumah, tak satu orang pun yang mengenalinya. Padahal Fadhil kenal betul dengan mereka. Barulah setelah Fadhil mau turun di depan rumahnya, orang didalam angkot menebak siapa dia. Wajar saja, dulu Fadhil hitam karena sering maojek untuk menambah uang belanjanya waktu Aliyah.

Mak pun sempat kaget besar, melihat Fadhil tiba-tiba berdiri disampingnya. Rika sengaja tidak mengasih tau Mak. Kata Rika, biar Mak lansung sembuh melihat Putra kesayangannya datang. Sebab Rika tau obat yang paling mujarab untuk Mak. Kalau Mak dikasih tau, Mak pasti akan tambah sakit karena memikirkan dari mana anaknya akan mendapatkan uang untuk tiket pesawat. Ternyanta benar apa yang di prediksikan Rika. Setelah Mak di peluk oleh Fadhil, dengan izin Allah Mak lansung bisa ngobrol dengan semangat. Bahkan Mak makan buah kurma dengan lahap, yang dibawakan Fadhil dari Kairo.

Berkah Allah memang turun pada keluarga itu. Di sore hari kedatangan Fadhil, Bapak Wali Nagari berkunjung kerumah mereka. Beliau memberitahukan bahwa proposal yang dikirim Fadhil tiga bulan yang lalu, yang akan diajukan ke Gubernur telah keluar. Orang yang bersangkutan lansung yang akan mengambilnya. Sebab proposal itu dalam jumlah yang besar. Lima puluh juta bagi mahasiswa berprestasi Dalam Negeri dan 80 juta bagi mahasiswa berprestasi Luar Negeri.

Alhamdulillah! Semua ahli keluarga itu lansung sujud syukur. Gema tahmid terus berkumandang di rumah itu. Hingga akhirnya Mak bersuara disela-sela kalimat suci itu.

" Nak, kapan kamu akan menikah? "

Fadhil takajuik gadang mendengar lontaran pertanyaan Mak. Antara percaya dan tidak. Namun hatinya lansung menjawab dengan riang.

" Akad dan baraleknyo sama dengan kakak Rika. " Jawabnya mantap. Mak tersenyum. Sementara Rika, sang kakak senyumannyalah yang paling lebar. Romi dan Rozi, adik mereka pun tak ketinggalan.

***

Buat Para Orang Tua
Yang Anaknya Menikah
Di waktu Kuliah.
Kairo, 27 Desember 2008
Arti kata-kata:
- Luluak : Lumpur
- Urang awak : Sebutan untuk orang Minang.
- Keypad : Tombol.
- Gadang : Besar.
- Dibarelekan : Dinikahkan.
- Signal : Sinyal.
- Maojek : Ojek.
- Takajuik gadang: Kaget sekali.
- Baraleknyo : Pesta Perkawinan
Read more ...

Cerpen Perdana "Pelangi Tertutup Awan"

Bergegas kuturunkan koper Polo biru yang terbungkus plastik hitam dari atas lemari. Kutepiskan debu yang yang menempel.
“ Prakkkk. “ Bukan debu saja yang tersingkir, plastik hitam pembungkus koperpun robek. Wajar saja, selama empat tahun aku di Kairo baru satu kali aku mengganti plastik pengaman koper itu. Kubuka rasletingnya perlahan, semerbak bau wangi keluar dari dalam koper. Wangi itu sangat khas sekali, wanginya membawaku kepada memori empat tahun yang lalu. Auranya mengingatkanku ketika aku dilepas oleh orang-orang terdekatku dari bandara Tabing Padang. Aku masih ingat dengan pelukan hangat Papa dan Mama di hari perpisahan itu. Dan satu hal yang tak pernah aku lupa. Perkataan Papa di awal keberangkatan, sebagai jawaban keinginanku untuk mempersunting teman Aliyahku. Nadya, Sang Ketua Keputrian di OSIS yang aku kepalai. 


“ Syamil, Papa dan Mama tau akan niatmu yang suci itu. Namun, kami tidak bisa mengabulkannya pada saat ini.. Dan kemarin Papa telah menghubungi Pak Abdullah, papanya Nadya. Kami telah sepakat, bahwa kami setuju akan perjodohan kalian. Tapi dengan satu syarat.”
“ Syarat apa Pa?”
“ Selesaikanlah dulu kalian di Al-azhar. Papa dan Papa Nadya tidak mau melihat kalian berdua gagal. Kalian harus berhasil menggapai cita-cita. Bukankah kuliah di al-azhar adalah cita-cita kamu sewaktu kecil?”
“ Tapi Pa, Syamil belum tau akan bisa menjaga diri selama kuliah disana. Bagi Syamil biarlah kami hidup seadanya dari pada hidup yang tak menentu, apalagi hidup diluar negeri. Syamil takut jatuh ke lembah dosa, Pa”
“ Ini telah menjadi keputusan Papa dan Pak Abdullah.” Jawaban Papa menciutkan nyaliku.
“ Bagaimana dengan Nadya, Pa? Apa dia setuju? Selama di Kairo pasti banyak hal yang akan berubah.”

“ Tapi ini bukan semata-mata keputusan Papa dan Pak Abdullahm, ini adalah permintaan Nadya? Dan ini harus kalian jalani.”
“ Kalau memang ini permintaan Nadya, Syamil juga setuju, Pa.” jawabku sambil tersenyum malu.
“ Papa dan Mama bangga padamu, Nak. Kau cepat dewasa, dan beda sekali dengan anak-anak muda yang lain. Ghirah keislamanmu sangat kuat. Kau sudah bisa mengambil keputusan yang tepat untuk menjaga dirimu dari maksiat. Yakinlah, keputusan Papa dan Papa Nadya sangatlah tepat. Ini demi masa depan kalian yang cerah.”
“ Makasih Pa.”
Kata-kata itu memang tak pernah lupa dalam ingatanku. Ia bagaikan penyemangat jiwaku, ketika hatiku kendor dihantam badai keindahan bumi Kinanah. Baru kini aku sadari akan keinginanku yang terlalu cepat itu. Andai saja aku bersikeras untuk menikah sewaktu tamat aliyah dulu, mungkin kuliahku belum kelar seperti saat ini. Namun, entah mengapa aku jadi ragu akan keinginan itu. Aku ragu pada Nadya. Bagaimana tidak, Nanang sahabatku yang aktif di PPMI selalu membawa berita hangat tentang Nadya. Seminggu yang lalu ia bercerita tentang bidadariku itu.
“ Syamil, kau tau nggak? Nadya teman kita di sekolah dulu, sekarang jadi buah bibir masyarakat Kairo.”
“ Maksudmu?”
“ Setelah ia lengser dari ketua WIHDAH ia telah dilamar lima kali oleh para senior Kairo. Dan katanya lagi salah satu staf KBRI juga pernah melamarnya. Belum lagi para cowok-cowok nakal yang ingin jadi pacarnya. Tapi semuanya ditolak. Bego banget dia ya!”
“ Apa kamu bilang? Bego’?”
“ Ya iya lah. Kau tau nggak siapa saja yang melamarnya. Ustadz Rizki yang jago balaghah dan Sastra Arab, ustadz Syahroni sang pengonsep Bank Syari’ah. Bang Faisol mantan ketua PPMI juga. Semuanya kan orang-orang hebat, bro. Katanya orang-orang, kalau akhwat yang pulang dari Kairo belum mmenikah, pasti nanti di Indonesia bakal susah lakunya. Kau ingatkan dengan Kak Rina. Sampai sekarang ia belum menikah, padahal umurnya telah lebih dari tiga puluh tahun. Orang-orang Indonesia mana berani meminang gadis dari Kairo yang pada pintar dan dikenal shalehah.”
Ini bukan pertama kali aku mendengar berita dari Nanang. Telingaku sudah panas dari dulu, sejak Nadya menjadi utusan Kekeluargaan kami untuk menjadi kader di WIHDAH hingga ia telah jadi mantan ketua organisasi itu. Cerita-cerita tentangnya selalu sampai ketelingaku. Andai saja Nanang tau bahwa aku adalah calon suami Nadya, mungkin ia tak akan berani menceritakan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di PPMI dan WIHDAH. Apalagi cerita hangat tentanmg Nadya. nanang memang sangat aktif di organisasi manapun. Sementara aku, aku telah putuskan untuk tidak berorganisasi lagi setelah di Kairo. Aku lebih memilih menjadi seorang penerjemah buku. Walau sebenarnya statusku hanya sebagai pembantu Ustadz Kamal Hermawan yang kini menjadi Presiden PPMI Kairo. Beliau memang telah terikat dengan salah satu penerbit terkenal di Indonesia. Jadi, selama ia sibuk di PPMI tugas terjemah itu diserahkan padaku. Dan Alhamdulillah, dengan hasil terjemahan itu aku telah bisa membeli tiket pulang ke tanah air. Dua minggu lagi aku akan terbang meninggalkan Kairo, menuju negeri kelahiranku. Setelah seminggu bersama keluarga, rencananya aku akan melamar Nadya. Melamar bidadariku sejak aliyah dulu.
Segera kutepiskan bayangan tentang Nadya. Walau dibagaian hatiku yang lain aku telah ragu padanya, namun sudut hatiku yang paling dalam masih percaya akan janji yang telah keluarga kami sepakati. Aku tau betul tentang Nadya. Semoga saja ia tetap seperti Nadya yang dulu.
Kukeluarkan semua isi koper, surat-surat penting dan album yang aku bawa dari Indonesia masih tersusun rapi disana. Entah mengapa tiba-tiba saja aku ingin membuka album yang bersampul putih itu. Dihalaman pertama, fotoku dan keluarga masih terpasang rapi. Kubuka lembaran kedua, ada fotoku dan teman-teman OSIS dulu. Mataku langsung tertuju pada foto Nadya. Hatiku bergetar hebat ketika mataku dan matanya yang di foto beradu. Aku tak sanggup menatap mata itu. Mata hitamnya yang dihiasi bulu mata yang panjang dan lentik menatapku dengan tajam. Aku semakin gugup. Namun jilbabnya yang panjang dan dalam meneduhkan hatiku yang takut. Andai saja ia tau akan perasaanku saat ini, pasti akan kubisikan tentang cerita hati ini padanya. Ingin kukatakan bahwa aku telah berhasil menjalani tekad yang dulu pernah kami bina. Ingin segera kutagih tentang janji yang telah kujalani.
Namun entah mengapa aku menjadi gugup, padahal empat tahun itu telah aku lalui. Apakah karena aku tak pernah berjumpa dengannya, atau karena aku tak pernah menghubunginya selama di Kairo ini. Mungkinkah hati ini ragu karena aku tak pernah menanyakan akan hal itu padanya. Hanya satu yang menjadi keyakiananku, bahwa tidak berhubungan dengannya selama di Kairo ini adalah hal yang terbaik bagi hubunganku. Daripada syetan selalu akan menggodaku untuk bermaksiat kepada Pemilik Cinta.
“ Allahu, Allahu, Allahu……” Handphone ku berdering beriramakan nasyid Samy Yusuf. Langsung saja kuangkat, tanpa melihat siapa yang menelpon terlebih dulu.
“Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam, Syamil kamu sedang apa? Ustadz butuh bantuan kamu nih, sekalian mau menagih janjimu dulu.”
“ Janji apa Stadz? Aku sekarang lagi memasukan barang belanjaan untuk oleh-oleh yang mau dibawa ke Indonesia. Aku akan pulang dua minggu lagi.”
“ Oh ya! Tapi kamu nggak lupakan akan janji kamu dulu. Katanya kamu siap jadi ketua panitia kalau Ustadz menikah.”
“ Benarkah? Kapan akadnya Stadz?” aku senang sekali mendengar kabar gembira itu. Ustadz Kamal Hermawan, ketua PPMI dan mahasiswa pasca sarjana Universitas Al-azhar akan menikah. Ini pasti menjadi berita yang sangat heboh di kalangan Masisir ( Mahasiswa Mesir ). Ustadz Kamal adalah figur yang sangat popular di Mesir. Beliau bukan saja dikenal baik dikalangan mahasiswa tapi juga terkenal dikalangan Diplomat KBRI. Pestanya pasti sangat wah.
“ Seminggu lagi.”
“Insya Allah aku bisa Stadz.”
“ Gitu dong. Ustadz sangat berharap kamu yang jadi ketua panitiannya. Sebab kamu adalah orang yang paling dekat dengan Ustadz.”
“ Sip deh, tapi dengan siapa Stadz?” tanyaku penasaran.
“ Itu masih rahasia. Nanti kalau tiba waktunya akan Ustadz kasih tau.” Aku geleng-geleng kepala, kebiasaan merasiakan hal-hal penting tak pernah hilang dari seniorku itu. Sampai-sampai aku yang jadi ketua panitia untuk pernikahannya tidak dikasih tau siapa calonnya.
“ Iya deh kalau begitu.”
“ Kamu hubungi saja Nanang, semua biaya dan susunan panitia ada padanya. Ustadz percayakan pada kalian berdua. Ok.”
Segera kurubah jadwal belanjaanku, yang tadinya seminggu ini aku akan pergi foto-foto ketempat wisata terdekat, kini kuurungkan. Lagi pula masih ada waktu seminggu lagi setelah pernikahan Ustadz Kamal.
Dua hari telah kulewati tugas mulia ini. Semua panitia telah kuserahi tugas masing-masing. Mulai dari peminjaman Aula Masjid Assalam Nasr City, pemesanan katering ke catering paling terpercaya di Kairo, kateringnya Bunda Elfi. Sampai kepada pendekoran kamar pengantin dirumah yang baru disewa beberapa hari yang lalu oleh ustadz Kamal. Semuanya berjalan dengan lancar. Tinggal undangan yang akan aku buat dan desain sendiri. Besok undangan itu harus telah disebarkan. Pestanya besar-besaran, bahkan paling wah setauku. Undangannya saja untuk seribu lima ratus orang. Hampir sama dengan porsi jama’ah shalat Idul Fitri masyarakat Indonesia di Kairo yang berjumlah kurang lebih dua ribu orang.
Kuhidupkan laptop acer kesayanganku, segera kupilih program Microsoft Office Publisher 2007. Belum lagi sempat aku memulainya, aku teringat akan nama calon isteri ustadz Kamal. Aku belum tau tentang nama itu. Aku yakin, calonnya bukan akhwat sembarangan. Buktinya saja, sampai saat ini Ustadz Kamal masih merahasiakannya kepada kami. Padahal waktunya sudah dekat. Begitu sangat berharganya calon isterinya bagi seniorku yang telah empat tahun membimbingku.
Kusambar si Panda 6600 yang berada disampingku.
“ Assalamu’alaikum…”
“ Wa’alaikumsalam, sehat Stadz.” Sapaku penuh hormat.
“ Alhamdulillah, ada apa nih? Ada masalah?”
“ Iya. Kayaknya hari Ahad nanti pernikahan Ustadz nggak jadi deh. Soalnya…”
“ Soalnya kenapa?” Ustadz Kamal berhasil kubuat kaget. Walau aku sangat hormat pada kepribadiannya, namun aku masih bisa bercanda dengannya. Karena kami telah seperti adik dan kakak saja.
“ Karena aku belum tau nama calonnya isteri Ustadz. Sementara undangan sudah harus disebar besok.”
“ Kamu nih Syamil, bikin Ustadz takut saja. Ustadz kira ada apa-apa. Baiklah kalau begitu. Kamu siapkan pulpen ya.”
“ Ok.”
“ Jangan sampai salah menulisnya, ini penting.” Seperti biasa, ustadz Kamal pasti cerewet pada hal-hal yang dianggap penting.
“ Namanya siapa Stadz?”
“ En, Aa, De, Ye, Aa.”
“ Nadya?” nama itu keluar spontan dari mulutku tanda aku terkejut.
“ Iya, Nadya. Masak kamu tidak mengenalnya. Itu loh Nadya si ketua WIHDAH.
“ Apa?” aku tak sanggup lagi meneruskan pembicaraan dengan Ustadz Kamal. Jantungku terasa copot. Aku bagai disambar petir disiang bolong. Semua persendianku melemah. Nama yang disebutkan Ustadz meluluh-lantakkan saraf-sarafku. Nadya telah mengkhianatiku. Padahal empat tahun itu telah aku lalui sesuai permintaannya. Tidak sabarkah ia menunggu tiga minggu lagi. Atau Kairo telah merubah pendiriannya. Air mataku mengalir sebagai bukti kesedihan. Sia-sia aku telah menunggu empat tahun ini.
“ Nadya… Kenapa kamu tega lakukan ini padaku? Apakah aku tidak pantas lagi untuk mendampingmu? Karena aku tak punya nama di Kairo ini. Ataukah menjadi Presiden PPMI adalah syarat untuk mempersuntingmu? Nadya, kalau itu memang syaratnya kenapa kamu tidak bilang kepadaku dari dulu. Menjadi Presiden PPMI tidaklah susah bagiku, jika itu adalah syarat untuk mendapatkanmu. Nadya? Apa yang kamu ingin sebenarnya? Kenapa kamu tega padamkan api cinta ini di ujung penantianku? Rasa perih dihatiku tak bisa lagi maku tahan. Semuanya melebur menjadi tangisan dan ratapan.
“ Allahu, Allahu, Allahu…” Handphone ku berbunyi. Kulihat ada panggilan dari ustadz Kamal. Segera kuusap mataku dan aku telan air liur yang masih tersangkut di kerongkonganku. Aku harus tegar menerima kenyataan ini. Aku tidak ingin Ustadz Kamal tau.
“ Ya, Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam. Kamu tadi kenapa Syam? Kok langsung main matikan handphone saja. Ya udah gak apa-apa. Tolong dilengkapi ya nama yang tadi. Nadya binti Nasrullah. Sebab setahu Ustadz, mantan ketua WIHDAH tahun lalu namanya juga Nadya, kalau nggak salah namanya…”
“ Nadya binti Abdullah.” Jawabku sigap. Memastikan bahwa Nadyaku bukanlah Nadya yang mau dikawini Ustadz Kamal Hermawan.
“ Bener.” Tanggap Ustadz Kamal tanpa merasakan apa-apa.
“ Oh, Nadyaku!” aku telah berburuk sangka pada Nadya, bisa jadi sekarang ia menanti kabar dariku. Tentang yang dulu.
“ Apa kamu bilang? Nadyamu?”
“ Iya…” jawabku tegas, seperti memainkan senior yang hampir saja meleburkan anganku itu.
“ Hei…” segera kupencet tombol off yang berwarna merah.
Ya Allah. Engkau sembunyikan cahaya mentari dari pandanganku. Engkau hadirkan awan hitam, petir dan kilat untuk mengujiku. Rupanya Engkau ingin perlihatkan pelangi di langit hatiku.

Kairo, Januari 2005


Arti kata-kata :
- Ghirah : Semangat.
- Kinanah : Salah satu sebutan untuk Mesir.
- WIHDAH : Organisasi Keputrian mahasiswi Indonesia di Mesir.
- Bego’ : Bodoh.
- PPMI : Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia
Read more ...

Sekapur Sirih

Selamat Datang di Catatan AIR (Abuya Irfan Rahman)


Perkenalkan Akhukum Fillah Irfan Rahman, Lc
Seorang manusia yang ingin hidup seribu tahun lagi yang menebar kebaikan setiap harinya. Selalu berusaha meniru Manusia Paling Agung yang menjadi Rahmatan Lil 'Alamin.

Hidup Hanya Sekali, Maka Hiduplah Yang Menginspirasi.

Semoga Blog ini bisa bermanfaat bagi sahabat semua.

 


Read more ...
Designed By