Breaking News

Catatan A I R (Abuya Irfan Rahman)

Hidup Hanya Sekali - Hiduplah Untuk Menginspirasi Agar Kau Hidup Abadi

Friday, September 7, 2018

Cerita Rakyat - Si Bunian Gunuang Lalo, Raima ingin kembali







Di Kampung Surau terdapatlah sebuah rumah papan yang terletak dilereng Gunung Lalo. Keluarga miskin menghuni rumah tua itu. Keluarga itu mempunyai empat orang anak. Ayah dan ibu mereka hanyalah petani tradisional. Pergi ke ladang ketika matahari belum muncul dan pulangnya ketika matahari sudah tenggelam. Kadang-kadang anak-anak mereka diajak pergi ke ladang untuk membantu mereka. Begitulah keseharian keluarga miskin itu.

Suatu hari, mereka sekeluarga sedang memanen hasil ladang yang terletak dua kilo meter dari belakang rumah, tepatnya di Pulau Alai. Semua anak-anak mereka ikut membantu, kecuali si Binguang, anak mereka nomor tiga. Si Binguang dititipkan di rumah tetangga, karena si Binguang agak kurang akalnya, alias idiot. Mereka sangat gembira menyambut musim panen.

Tak terasa hari sudah beranjak sore, sementara panen belum selesai. Sang Ayah memerintahkan anaknya memasukkan hasil panen kedalam karung. Semuanya sibuk berkemas dan bersiap pulang, termasuk Raima putri sulung mereka. Raima yang berumur 12 tahun ini adalah anak yang paling tua. Matahari kian condong di ufuk barat, jengkrik-jengkrik bernyanyi sahut-sahutan, menandakan hari sudah maghrib. Hasil panen sudah selesai di packing. Ayah dan ibu membawa karung yang paling besar, anak-anaknya membawa hasil panen sesuai kemampuan mereka. Hasil panen yang dimasukkan kedalam karung, diletakkan diatas kepala.

Semua beranjak pulang. Ayah dan ibu berjalan paling depan. Hari yang sudah semakin gelap memaksa mereka berjalan perlahan. Raima kakak sulung berjalan paling belakang. Didalam keheningan mereka telusuri jalan setapak menuju rumah mereka. Setapak demi setapak langkah mereka diayunkan, tak satupun diantara mereka yang berbicara, hanya nyanyian binatang-binatang rimba yang terdengar menyibak kesunyian.

Tak lama berselang waktu merekapun sampai di rumah dikala malam sudah semakin pekat. Sang Ayah langsung meletakkan hasil panen di dapur, begitu juga ibu. Semuanya melepas penat sambil meneguk segelas air yang dituangkan ibu dari cerek alumunium, namun Raima belum juga sampai. Ia memang berjalan paling belakang. Hati ibunya semakin cemas ketika sudah hampir setengah jam Raima ditunggu belum juga nampak batang hidungnya. Sang Ayah memutuskan untuk menyusul Raima ke jalan yang dilewati tadi. Langkah kaki sang Ayah terburu-buru. Dadanya penuh sesak. Tangan kanannya memegang obor yang terbuat dari bambu yang diisi minyak tanah. Sumbu obor itu terbuat dari kain-kain yang sudah tidak dipakai lagi, cukup untuk menerangi jalan.

Hampir setengah perjalanan sang Ayah menyongsong kedalam hutan menuju ladang mereka di Pulau Alai. Namun Raima belum ketemu. Hati sang Ayah cemas bercampur takut. Ia panggil-panggil anak sulungnya dikerumunan malam.

"Raima".

Sang Ayah memanggil berkali-kali. Namun tak ada sahutan. Sang Ayah merasa bersalah, mengapa membiarkan Raima berjalan dibelakang, Padahal ia tahu bahwa anaknya jarang melalui jalan ini. Ketakutan Ayah semakin menghantui ketika sesampai di ladang Raima tak juga ditemukan. Ayah memanggil nama Raima berulang-ulang. Hanya kehinangan malam yang terdengar. Hasil panen yang dibawa Raima pun tidak ditemukan.

Ayahnya bergegas pulang, dengan persaan kalut ia percepat langkahnya. Ia beritahu para tetangga dan sanak famili. Warga Kampung Surau mendadak gempar mendengar berita bahwa Raima hilang di ladang. Wargapun bergegas menuju rumah orang tua Raima. Masing-masing mereka membawa obor. Hampir tiga puluh orang telah berkumpul. Mereka mengatur strategi. Sebagaian kelompok warga ada yang ditugaskan mencari ulang ke ladang Raima di Pulau Alai, adapula sekelompok warga yang ditugaskan menelusuri persimpangan jalan yang tidak jauh dari ladang Raima. Mana tahu Raima salah jalan dan tersesat.

Semua warga sudah masuk ke hutan mencari Raima, semua sisi jalan yang kemungkinan dilewati Raima telah disisir. Sudah lima jam mereka mencari. Nama Raima dipanggil berulang-ulang, namun hasilnya nihil. Wargapun akhirnya sepakat untuk pulang dan melanjutkan pencarian besok pagi. Ayah Raima semakin cemas dengan penuh penyesalan. Sang Ibu pun tak sanggup menahan tangis dan meratapi kehilangan Raima. Warga menenangkan hati keluarga Raima dengan menasehati untuk tetap sabar dan banyak berdo'a. Warga Kampung Surau kembali ke rumah masing-masing, karena sudah lewat tengah malam.

Keesokan harinya, wargapun kembali mencari Raima. Mereka tidak saja mencari dijalan-jalan setapak, akan tetapi juga mencari sampai kedalam hutan, menelusuri semak belukar. Bahkan sebagian warga menyisir sungai hingga ke hilir. Mencari disiang hari lebih memudahkan warga. Jarak pandang disiang hari jauh lebih leluasa dari pada malam hari. Tak terasa, matahari sudah condong kearah barat, namun Raima belum juga ditemukan. Rencananya, jika tidak bertemu hingga waktu maghrib, pencarian akan dihentikan dan akan dilanjutkan pada hari selanjutnya.

Pencarian hari itu tidak membuahkan hasil, bahkan jejak dan tanda-tanda keberadaan Raima pun belum ditemukan. Tidak ada petunjuk dihari itu, Raima seperti ditelan bumi. Sebagian warga beranggapan, bahwa Raima dibawa oleh makhluk halus kealamnya atau dibawa oleh si Bunian Gunung Lalo. Namun keluarga dan famili Raima tidak mau berfikiran macam-macam. Mereka yakin Raima tersesat karena ketika pulang dari ladang hari sudah gelap.

Pencarian dihari kedua lebih ramai lagi, tidak saja warga Kampung Surau yang ikut, masyarakat dari Gunung Selasih, Pulau Punjung dan Lubuk Bulang ikut membantu. Walaupun sudah banyak warga yang ikut mencari Raima, namun hasil pencarian sama dengan hari kemarin, Raima belum juga ditemukan. Pencarian dilanjutkan pada hari ketiga, akan tetapi belum juga membuahkan hasil.

Sudah seminggu lebih Raima dicari oleh warga ke segala penjuru hutan, tetapi belum ditemukan. Akhirnya sebagian warga banyak yang sudah putus asa. Diminggu kedua, hanya Ayah dan Ibu Raima yang masih tetap mencari. Warga sudah mundur dan minta maaf karena harus bekerja seperti hari biasanya. Sebulan kemudian Ayah dan Ibu Raima terpaksa menghentikan niat untuk mencari Raima. Perbekalan di rumah sudah habis dan mereka sudah harus kembali bekerja jika tetap ingin makan. Mereka putus asa karena siang dan malam mereka mencari anak sulungnya, namun Tuhan belum juga menunjukan keberadaan Raima.

Hari ini Sang Ayah dan Ibu kembali bekerja di ladang seperti semula. Mereka sudah pasrah. Menyerahkan urusan Raima kepada Yang Maha Kuasa. Tuhan tidak menyia-nyiakan mereka, kepasrahan mereka ternyata dijawab Tuhan. Malam harinya si Binguang bermimpi bertemu dengan Raima. Didalam mimpi itu Raima mengatakan bahwa ia masih hidup dan sudah dipelihara serta dijaga oleh para pendahulu-pendahulu diatas Gunung Lalo. Keesokan malamnya si Binguang bermimpi yang sama, sampai dimalam ketiga ia juga bermimpi didatangi kakaknya si Raima.

Keesokan harinya, Si Binguang menceritakan mimpinya kepada Ayah dan ibunya. Kedua orang tuanya merasa gembira namun dibelakang itu mereka mati kecemasan. Mereka gembira mengetahui bahwa Raima masih hidup, namun disisi lain mereka khawatir karena anaknya dibawa ke alam jin oleh si Bunian. Mereka berfikir bagaimana mencari dan menyelamatkan Raima dari si Bunian Gunung Lalo. Sang Ayah dan ibu mencari akal untuk menyelamatkan Raima. Mereka minta tolong ke dukun dan orang-orang pintar, namun dukun dan orang pintar tak mampu menolongnya, karena Raima sudah masuk ke alam jin dan diawasi si Bunian.

Seminggu kemudian si Binguang bermimpi lagi. Kini Raima mengatakan bahwa ia ingin pulang ke rumah. Raima sudah rindu rumah dan keluarganya. Didalam mimpi itu Raima menyuruh keluarganya untuk mempersiapkan kedatangannya. Keluarga diminta untuk membakar kemenyan pada malam hari yang ditentukan serta menghiasi rumah untuk menyambut kepulangan Raima. Mimpi itu tiga kali berturut turut didapatkan si Binguang. Ia ceritakan mimpi itu kepada keluarganya. Keluarga merasa senang alang kepalang mendengar berita baik itu. Dengan senang hati semua keluarga mempersiapkan apa yang diminta Raima. Demi Raima kembali ke rumah.

Malam yang ditunggu pun tiba. Keluarga sudah menunggu dengan segala persiapan. Kemenyan dibakar, asapnya menyebar keseluruh ruangan rumah, menusuk hidung para keluarga yang hadir. Suasana terasa agak tegang ketika jam sudah menunjukan pukul nol-nol tengah malam. Dimana waktu yang disepakati Raima akan pulang ke rumah. Kemenyan yang sudah padam diganti dengan kemenyan baru. Semua keluarga yang hadir membuat lingkaran didalam rumah, yang laki-laki duduk bersila dan yang perempuan duduk bersimpuh. Mereka dihantui perasaan cemas dan takut. Tak satupun yang berani berbicara. Tanda-tanda kedatangan Raima belum tampak. Diluar rumah udara semakin dingin, malam yang hitam menjadikan suasana mistik yang mencekam. Kelam dan sunyi menghampiri setiap yang hadir. Asap kemenyan yang menari dilangit-langit rumah membuat sebagian tamu menjadi ciut.

Tiga jam sudah berlalu, namun Raima belum juga datang. Keluarga cemas jika Raima benar-benar tak pernah kembali lagi ke rumah. Azan shubuh berkumandang membelah kesunyian malam. Ayam jantan berkokok sahut-sahutan. Hampir semua keluarga yang hadir dirumah itu berangkat ke surau untuk melaksanakan shalat shubuh. Sepulang dari surau, mereka kembali kerumah masing-masing. Sebagian tetangga beranggapan, bahwa Raima tak akan kembali. Si Bunian Gunung Lalo tak mau melepaskan Raima.

Pagi itu sang Ibu pergi ke dapur untuk memasak. Ia kaget melihat ada telapak kaki di abu kayu dekat tungku tempat ia biasa memasak. Ia pandangi betul-betul dan mendekat jejak kaki itu. Bentuknya persis sebesar telapak kaki anaknya Raima yang berumur 12 tahun. Ia beri tahu pada sang Ayah, mereka yakin Raima pulang tadi malam sesuai janjinya ketika mereka menunggu Raima bersama-sama dengan keluarga didalam rumah. Namun Raima datang bukan untuk kembali seperti manusia sebelumnya dan berkumpul dengan keluarganya. Tetapi sebagai bangsa Bunian.

Setelah kejadian itu, hampir tiap manghrib sang Ibu mendengar tangisan Raima dari belakang rumah dan hampir tiap pagi menemukan jejak kaki Raima diatas abu tempat ia memasak. Semua keluarga sudah pasrah dan tawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa, merelakan kepergian Raima yang dibawa si Bunian Gunung Lalo. Walaupun mereka tahu dengan jejak kaki itu dan tangisan diwaktu maghrib yang ia temui hampir setiap hari, menandakan bahwa Raima selalu pulang ke rumah dan menagis minta kembali.

Sejak kejadian itu, anak-anak di Kampung Surau menjadi takut keluar rumah jika maghrib sudah menjelang, takut dibawa oleh si Bunian Gunung Lalo seperti yang dialami Raima.

* * * Cerita ini sudah dilombakan pada Lomba Menulis Cerita Rakyat Tingkat Kab. Dharmasraya dan mendapat Peringkat Harapan Satu.

**Penulis adalah Dosen STIT-NU Sakinah Dharmasraya

Arti kosa-kata:

1. Packing : Dikemasi.

2. Si Bunian : Sebangsa Jin.








No comments:

Post a Comment

Designed By