Breaking News

Catatan A I R (Abuya Irfan Rahman)

Hidup Hanya Sekali - Hiduplah Untuk Menginspirasi Agar Kau Hidup Abadi

Friday, September 7, 2018

Cerita Rakyat - Misteri Taman BUah Di Bukit Tambun





Di Pulau Punjung hiduplah seorang pemuda yang suka menangkap burung. Namanya Pendekar Kuning. Hari-harinya ia habiskan di hutan untuk memukat burung. Hobi itu telah menjadi mata pencarian oleh Pendekar Kuning. Suatu ketika Pendekar Kuning pergi berburu burung ke hutan dekat bukit Tambun. Menurut cerita orang tua-tua dulu, di bukit Tambun terdapat kebun buah. Semua jenis buah-buahan ada disana dan tinggal dipetik. Tapi tak semua orang yang bisa menemukan kebun buah itu. Masyarakat menamainya dengan Taman Surga.

Kedatangan Pendekar Kuning kesana bukan untuk mencari taman Surga itu, melainkan menangkap burung yang sangat langka. Hanya ada di bukit Tambun. Ia mencari burung Anto. Suara burung Anto sangat khas. Suaranya seperti suara anak kecil sedang tertawa. Konon katanya burung ini adalah jelmaan anak yang bernama Anto. Ia pemalas dan tidak mau menolong orang tuanya yang miskin. Ia dikutuk oleh ibunya menjadi burung. Orang kampung itu menamai burung itu dengan nama Anto memakai nama anak yang pemalas itu. Warnanya agak kehitaman dan berbadan agak besar. Beratnya bisa mencapai dua kilogram. Burung itu banyak dijumpai di bukit Tambun. Burung itulah yang akan ditangkap oleh Pendekar Kuning dan akan dijualnya dengan harga yang tinggi kepada Toke Burung di Pelayangan dekat pasar Pulau Punjung.

Pagi itu, ia telusuri jalan setapak menuju Kampung Surau. Sebelum sampai di Gunung Selasih ia belok kiri menuju hutan Bukit Tambun. Sebungkus nasi dan sebotol air minum ia siapkan untuk perbekalan. Kaki Pendekar Kuning semakin dalam melangkah menelusuri hutan. Namun sarang burung Anto belum juga dijumpainya. Tak terasa matahari sudah naik sepenggala langit. Pendekar Kuning merasa capek dan lapar. Ia berhenti sejenak untuk melepas penat. Tak biasanya ia bernasib sial seperti ini karena biasanya ia telah menemukan tiga sarang burung Anto hingga tengah hari. Ia buka bungkus nasi yang terbuat dari daun pisang. Aroma samba lado jengkol menguak dari sela-sela nasi. Jakun-jakunnya naik turun. Air liurnya otomatis memberontak keluar dari sisi lidahnya. Ia cuci tangannya dengan air seadanya. Belum sempat ia menyuap nasi dengan suapan pertama, burung Anto lewat diatas kepalanya. Burung itu terbang menuju puncak bukit Tambun. Pendekar Kuning tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia buntuti burung itu kearah manapun terbangnya. Nasi yang akan dia makan tadi ditinggalkan begitu saja. Air minumpun lupa dibawa. Tak terasa, semakin lama ia membututi burung Anto semakin dalam ia memasuki hutan belantara itu, hingga sampai di sisi lereng selatan bukit Tambun.

Usahanya tak sia-sia. Akhirnya burung Anto hinggap di sarangnya, lalu berlalu lagi kearah barat. Pendekar Kuning memasang perangkap di sarang burung itu. Burung Anto bersarang di tanah yang diatasnya ada daun-daun kering sebagai alasnya. Tak satupun rumput atau ilalang tumbuh disarangnya. Burung Anto terkenal bersih dan tak membiarkan satupun rumput tumbuh di sarangnya. Perangkap Pendekar Kuning terbuat dari bambu yang dipecah-pecah diujungnya. Ujung bambu yang pecah-pecah itu ditancapkan di tanah. Ketika burung Anto berusaha memindahkan bambu dengan kaki atau kepalanya, maka otomatis akan terjepit diantara pecahan bambu. Ketika saat itulah Pendekar Kuning akan langsung menangkap burung itu.

Perangkap telah dipasang. Pendekar Kuning mengawasi sarang itu dari kejauhan dan bersembunyi di dibalik semak-belukar. Kini tinggal menunggu burung Anto kembali ke sarangnya. Matahari mulai menuruni langit. Sesekali ia bersembunyi dibalik awan. Namun burung Anto belum juga datang. Pendekar Kuning merasa kesal, apalagi perutnya semakin lapar. Ia menyesal meninggalkan bekalnya tadi di tempat ia beristirahat. Ia sudah tak sabar. Mumpung burung Anto belum datang, ia mencari buah-buahan rimba untuk pengganjal perut. Sekitar seratus meter ia meninggalkan tempat perangkap dipasang, tiba-tiba matanya tertuju ke pohon duku yang sedang berbuah lebat. Disamping pohon itu ada pohon mangga, pisang, apel, anggur dan jeruk. Semuanya sedang berbuah lebat dan siap di panen.

Pendekar Kuning yang sedang lapar terperangah melihat pemandangan itu. Ia berfikir dan bertanya dalam hati. Siapa yang punya kebun buah ini? Hampir semua buah ada di kebun ini. Tapi mungkinkah ada orang yang berkebun di hutan lebat ini, sementara bianatang pemakan buah banyak berkeliaran? Mungkin ini yang disebut oleh pendahulunya dulu dengan Taman Surga di bukit Tambun. Belum sempat ia menemukan jawaban dari pertanyaan hatinya, perutnya sudah meronta meminta makan. Ia petik buah itu satu demi satu. Ia makan dengan lahap sampai perutnya kenyang. Setelah kenyang ia petik lagi untuk dibawa pulang. Buah itu ia simpan didalam tas punggungnya. Kemudian ia kembali kearah perangkap yang telah dipasangnya. Burung Anto belum juga datang.

Hari sudah mulai gelap. Pertanda maghrib akan menjelang. Pendekar Kuning putuskan untuk pulang saja. Walaupun tak mendapatkan satu ekor burungpun, tapi hatinya sudah cukup puas dengan buah-buahan yang ia gendong di punggungnya. Ia beranjak pulang kearah barat daya menuju Pulau Punjung. Ia menyusup diantara semak belukar. Baginya, berada didalam hutan sampai sore hari sudah biasa walaupun sendirian. Satu jam sudah ia membelah hutan, namun ia kaget, ternyata ia berbalik lagi ke tempat semula. Tempat dimana ia memasang perangkap untuk menangkap burung Anto. Ia tersadar, bahwa ia sudah tersesat. Hatinya kacau -balau. Bulu remangnya berdiri. Jangan-jangan ia berada didalam hutan larangan. Ia berdo’a dan berfikir. Apakah ia akan paksakan pulang atau bertahan di hutan ini sampai esok pagi menjelang. Hatinya semakin berkecamuk. Kini ia benar-benar ketakutan. Lalu ia putuskan untuk pulang dalam kekalutan.

Pendekar Kuning berusaha berjalan selangkah demi selangkah. Hampir setengah jam ia berjalan mencari jalan keluar dari hutan itu. Tiba-tiba ia terperangah, karena kembali lagi ke tempat semula. Kemudian ia coba lagi untuk ketiga kalinya, namun hasilnya tetap sama. Ia semakin takut. Entah kepada siapa ia akan minta tolong. Mentalnya yang tadi masih kuat kini mulai menciut. Ia duduk di tanah sambil memeluk kedua kakinya. Tiba-tiba terdengar suara harimau mengaum dengan kencang dari arah depan. Pendekar Kuning makin ketakutan. Harimau itu mendekatinya. Nafas Pendekar Kuning menjadi tak beraturan. Kencingnya keluar tanpa pamitan. Harimau yang berada dihadapannya seolah mendapat mangsa. Lalu Pendekar Kuning berkata kepada Sang Harimau dengan suara parau.

“Wahai Harimau, kalau engkau akan memakan aku, maka makanlah. Aku sudah pasrah. Tapi kalau engkau adalah Penjaga Nagari maka beritahulah aku jalan pulang.”

Sang Harimau menatap tajam kearah Pendekar Kuning. Wajah Pendekar Kuning pucat-pasi. Keringatnya bercucuran disekujur tubuh. Harimau menjawab dengan suara menyerupai kakek tua.

“Aku adalah Harimau Penjaga Nagari. Akan aku tunjukan jalan pulang padamu. Tapi sebelumnya kau keluarkan semua buah yang telah kau masukan kedalam tasmu. Sebab buah itu bukan milikmu. Kau boleh memakan buah itu sepuasnya, tapi pantang untuk dibawa pulang.”

Pendekar Kuning menuruti perintah sang Harimau. Tiba-tiba jalan pulang terlihat begitu lapang. Seperti jalan yang sudah lama ada. Sang Harimau mempersilahkan Pendekar Kuning untuk pulang. Dengan bantuan cahaya bulan seadanya, ia telususri jalan itu dengan hati lega. Sesampainya di Gunung Selasih ia melihat kakinya sudah berlumuran darah. Seperti tersayat ranting-ranting kayu. Ia menoleh kebelakang, ternyata jalan itu sudah hilang. Berarti jalan yang ia anggap bagus tadi itu ternyata fatamorgana. Sebenarnya ia melewati semak-belukar yang berduri-duri. Tapi ia tetap bersyukur bisa keluar dari hutan bukit Tambun.

Keesokan harinya Pulau Punjung menjadi gempar mendengar cerita Pendekar Kuning. Mereka jadi tahu, ternyata Taman Surga yang diceritakan nenek moyang mereka dulu bukan dongeng belaka. Mereka juga paham, agar tidak tersesat di bukit Tambun jangan membawa pulang buah yang ada disana. Dimakan boleh, dibawa pulang jangan! Itulah kata-kata yang tepat untuk Taman Surga di bukit Tambun.

* * *

Sumber Cerita : Bapak H. Harmonis (Tokoh Masyarakat Pulau Punjung)

Arti kata-kata :

- Samba lado : Sambal dari cabe.









No comments:

Post a Comment

Designed By