Masih teringat dalam ingatanku, kenangan pahit ketika aku kuliah di
Al-azhar Mesir. Sepuluh tahun yang lalu. Kenangan itu begitu berharga
bagiku. Namun, aku sangat sedih ketika aku kembali teringat pada
teman-temanku. Dimanakah mereka sekarang? Peristiwa itu kembali lagi
berputar-putar di alam sadarku. Siang itu,,,
* * *
Pasar
Khan El-khalily kian ramai, seiring matahari kian naik ke sepenggalah
langit. Hampir pas diatas ubun-ubunku. Baru saja aku selesai Talaqy
dengan Syekh Thal'at Abdul Lathif. Guru Fiqh Safe'i yang sering
dipuji-puji oleh mu-rid-muridnya. Termasuk aku. Aku harus cepat-cepat ke
tempat kerjaku. Ammu Shalah, bapak angkatku di Mesir pasti sudah
menungguku dari tadi. Kulirik jam ditanganku.
" Ouh… Aku terlambat hampir setengah jam."
Kupercepat
langkahku. Seoarang tourist tersenggol oleh sikutku yang men-gembang,
karena aku menjepit buku disana. Kiri-kanan orang Mesir sibuk berteriak
menawarkan dagangan mereka. Terlihat jejeran Pyramid mungil menghiasi
meja didepan tokonya. Lengkap dengan Singa berkepala manusia yang selalu
setia menemani ketiga Pyramid itu. Sesetia sungai Nil menemani Mesir.
Setelah dua lorong dari pintu utama pasar itu aku belok kanan. Lorong
ini akan tembus hingga ke pasar alumunium Bab El Sya'riyyah. Sebelum
pa-sar itu kita akan melewati tempat-tempat bersejarah di Mesir.
Seperti, Per-pustakaan peninggalan Raja Mamalik. Dan beberapa mesjid
Raja Mesir. Dan sebelum Perpustakaan Raja Mamalik itulah toko buku
tempat aku bekerja dan tinggal sehari-hari terletak. Dan kini mataku
telah tertuju pada gerbangnya yang berjeruji besi tua itu.
" Kok
tutup?" Lirihku dalam hati. Biasanya Ammu Shalah telah menunggu disana.
Aku berlari kecil kesana. Tapi tiba-tiba aku dicegat oleh Ammu Ik-ram,
sang penjual kiswah dan berbagai jenis Papyrus.
" Riko, sebaiknya cepat-cepat kau tinggalkan tempat ini. Sebelum Syurthah-syurthah kurang ajar itu mencarimu."
"
Apa yang telah terjadi?" Pertanyaan itu spontan melompat dari mulutku.
Aku tegang. Ammu Ikram membawaku kedalam tokonya. Dia ceritakan apa yang
telah terjadi sebelum aku datang. Ternyata, Ammu Shalah telah dibawa
oleh rombongan mabahits. Ia diseret kedalam mobil biru putih bagaikan
bi-natang ternak. Beliau diduga telah menjual kitab-kitab yang dilarang
beredar oleh Pemerintah. Semua isi perpustakaan dan lengkap dengan
barang-barangku dibawa oleh mobil Naql milik mereka.
Aku
terhenyak mendengar penjelasan dari Ammu Ikram. Segala persendian
melemas, mataku berkunang-kunang. Disudut mata itu mengalir air panas
sederas derita yang mengalir keseluruh sarafku. Semua harta milikku
telah ludes dibawa polisi-polisi terkutuk itu. Termasuk baju-bajuku,
kitab-kitab yang telah menemaniku. Semua telah lenyap. Hanya baju yang
kupakai be-serta kitab Fiqh 'ala Mazhab syafe'I ini saja yang
tertinggal.
" Nak, cepat-cepatlah kau pergi dari sini. Aku takut
polisi-polisi itu akan kembali lagi kesini, untuk mencarimu. Lekaslah
pergi! " Ammu Ikram mena-tapku lekat-lekat. Aku memang harus pergi dari
sini. Tapi, entah kemana aku akan pergi. Polisi-polisi itu pasti akan
mencariku. Sebab foto-foto dan bio-dataku berserakan di kamar
perpustakaan itu. Tanpa kata-kata aku lansung kabur lewat jalan
belakang. Orang Indonesia pasti belum pernah menapaki jalan ini. Ialah
sebuah lorong yang berbelok-belok. Kalau kita salah melewati satu lorong
saja pasti akan berputar-putar di perumahan kumuh dibelakang mesjid
Husain. Lorong itu akan tembus di dekat ujung Qal'ah perbatasan kota
Kairo tempo dulu. Aku sering melewati lorong ini kalau hendak menemui
sahabatku yang tinggal di Madinatul Bu'uts. Kutelusuri lorong itu
selangkah demi selangkah. Sementara mataku masih meneteskan air
kesediahan. Ia menetes di setiap langkahku. Andai ada polisi yang
mengikuti air suci itu, pasti ia akan mudah mendapatiku.
Terus
saja aku berjalan, kakiku telah hafal betul dengan jalanan lorong ku-muh
itu. Bau busuk yang keluar dari sampah yang berjejer di dinding imarah
menusuk hidungku berkali-kali. Aku tak peduli. Aku ingin ke Raba'ah
El-adawiayah, tempat si Rudi dan teman-teman lainnya ngekost. Besok
mereka akan dipulangkan ke Tanah Air dengan pesawat Garuda yang pulang
men-gantar jama'ah haji. Pesawat itu sengaja singgah di Kairom, untuk
mengang-kut mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang kekurangan biaya
kuliah, ka-rena ciprakan krisis moneter yang sedang membadai di
Indonesia. Bagai-mana tidak, jangankan untuk ongkos ke kuliah untuk
bertahan hidup di Mesir saja susah. Dan aku adalah orang yang memilih
bertahan hidup disini. Dari pada pulang tanpa ijazah. Aku belum
mendapatkan apa yang aku cari di Negeri Seribu Menara ini. Untung saja
ada Ammu Shalah yang telah memberi tumpangan tempat tinggal di
maktabahnya. Kalau tidak, aku akan tinggal ber-sama bawwab-bawwab di
perkuburan Bab En-nasr. Seperti Joko dan kawan-kawan dari Sumatera
lainnya. Tapi, sekarang$#@^%&
Ku urungkan niat ke Rab'ah,
karena aku teringat tidak membawa uang seper-sen pun. Langkahku tertegun
sejenak. Lalu kumantapkan langkah menuju rumah Joko di tepi perkuburan.
Karena untuk kesana tidak perlu naik Bus. Cukup dengan berjalan kaki
saja. Perkuburan itu tak jauh dari sini. Lagi pula kalau aku paksakan ke
Rab'ah, aku pasti akan didesak untuk pulang oleh kawan-kawan disana.
Malah kata Rudi seminggu yang lalu namaku juga te-lah didaftarkan
sebagai calon yang akan pulang ke Indonesia. Kasihan sekali Joko dan
kawan-kawan. Ia pasti menderita di gubuk itu. Makan apa adanya. Minum
air mentah yang didinginkan didalam kendi-kendi dipinggiran jalan. Tapi,
kemulian para penjaga kuburan itu sangatlah tak ternilai, bila
diband-ingkan dengan penderitaan para mujahid Indonesia yang menumpang
hidup di rumah mereka. Mereka rela menumpangkan para mahasiwa
dirumahnya. Tanpa membayar walau se Qirsy pun.
Kupercepat
langkahku, sekarang perkuburan itu telah berada didepan ma-taku. Namun
aku harus menyeberangi jalan raya yang berarus deras. Jalan ini adalah
jalan menuju Qal’ah Shalahudiin Al Ayubi. Jalan ini juga bisa tembus ke
Maidan Saidah ‘Aisyah. Tepat didepan Masyikhah Al-azhar ada jalan ba-wah
tanah. Aku tak tau ujung jalan itu akan tembus kemana. Sebab aku be-lum
pernah melaluinya.
Ku berlari untuk menyeberangi jalan. Kalau
tidak, aku akan ditabrak mati oleh mobil-mobil yang berkecepatan sangat
tinggi. Sebab jalan yang aku se-berangi tidak ada trotoar dan tidak ada
lampu merah. Jalan ini seperti jalan tol di Jakarta. Langsung aku menuju
ke rumah yang ditempati Joko dan kawan-kawan. Rumahnya terletak di
pinggiran kuburan ujung sana. Aku harus melewati kuburan-kuburan yang
berdinding tinggi sejauh tujuh ratus meter untuk sampai kesana. Kuburan
di kawasan Bab En-nasr ini sangat luas sekali. Panjangnya kurang lebih 2
km, sementara lebarnya sekitar 700 meter. Kuburan ini sebagian adalah
kubuaran para Syuhada yang meninggal pada perang Salib II yang dipimpin
oleh Shalahuddin Al-ayubi. Dan sebagian lagi kuburan masyarakat Mesir.
Kuhentikan
langkahku ketika mataku tertuju pada rumah yang ditumpangi Joko.
Polisi-polisi berseragam biru telah berkumpul disana. Cepat-cepat aku
masuk kesalah satu bangunan kuburan. Dari sela-sela jendela yang rusak
ku-perhatikan apa yang dilakukan Polisi itu terhadap Joko dan yang
lainnya. As-taghfirullah, Joko, Andi, Rozi dan Ahmad dimasukkan kedalam
mobil Naql berwarna biru gelap. Barang-barang mereka juga ikut dibawa.
Aku jadi ce-mas, jantungku berdegup cepat. Mobil Naql dan dua mobil Jip
lainnya ber-gegas meninggalkan rumah para penunggu kuburan itu. Aku
harus memas-tikan keadaan aman terlebih dahulu, sebelum aku keluar dari
tempatku. Hampir sepuluh menit aku menunggu, namun jantungku masih
berdetak kencang dan terburu-buru.
Kuberanikan diri untuk
keluar dari persembunyianku. Dengan ragu aku me-langkah mendekati rumah
penjaga kuburan itu. Kulihat kiri dan kanan, tak ada apa-apa. Aku
bergegas menuju pintu rumah itu. Sambil mengucapkan salam, aku masuk ke
rumah yang pintunya masih terbuka. Kontan saja orang yang ada didalam
kaget melihat kedatanganku secara tiba-tiba.
“ Maaf, aku Riko
temannya Joko. Apa yang telah terjadi dengan mereka?” Tanyaku pada
seorang Madame yang aku masih ingat wajahnya, ketika aku menziarahi Joko
dua minggu yang lalu.
“ Joko dan teman-temannya dibawa kekantor
Polisi. Karena mereka tidak di-izinkan tinggal bersama penduduk Mesir.
Apalagi tinggal bersama kami di pemakaman ini. Pemerintah takut akan
terjadi apa-apa dengan masyarakat Mesir. Kamu kan tau, sekarang
Pemerintah sedang gencar-gencarnya memer-angi salah satu pergerakan yang
dianggap akan mengancam terhadap kea-manan negara ini.”
“ Ikhwanul Muslimin maksud Madame?”
“
Iya. Cepat-cepatlah kau pergi dari sini. Nanti kau bisa saja ditangkap
mere-ka, walaupun aku tau kalian adalah manusia-manusia yang berhati
putih. Maaf, aku bukan bermaksud mengusir. Tapi ini demi keselamatanmu.”
“ Tapi, bolehkah aku menumpang untuk shalat Dzuhur sebentar saja.”
“ Boleh, silahkan! Dan disana tempat wudhu’nya.”
Aku
langsung menuju tempat wudhu yang ditunjukan Madame tadi. Setelah
selesai menunaikan Shalat Dzuhur, hatiku agak tenang. Rasa damai
menghi-asi jiwaku. Teduh sekali. Kuhaturkan do’a pada Yang Maha Kuasa.
Aku tau Polisi pasti akan mencariku, karena Ammu Shalah memang termasuk
ke-dalam pergerakan itu. Biodataku sangat lengkap di perpustakaan,
tempat aku tinggal. Apakah aku harus pulang juga seperti halnya Rudi dan
kawan-kawan yang tinggal di Rab’ah Al-adawiyah? Mau tidak mau aku harus
ke Rab’ah. Yang terpenting adalah aku harus selamatkan jiwaku dari
Polisi Keamanan. Aku sekarang sedang dicari. Wanted! Namun, aku tidak
punya uang untuk kesana. Apakah aku harus meminjam uang kepada pemilik
ru-mah ini? Tapi tak mungkin, mereka saja hidup dari roti ‘Isy yang
disubsidi Pemerintah Mesir. Ya Allah, berikanlah jalan yang terbaik
untuk hamba-Mu ini.
Aku pamitan pada yang punya rumah, kuucapakan
terima kasih atas kebai-kan hati mereka. Air mataku sempat berlinang
ketika aku minta maaf pada mereka. Aku, Joko dan teman-teman lainnya
telah merepotkan mereka. Aku tidak bisa memastikan keselamatan
penjaga-penjaga kuburan itu, mereka pasti akan berurusan dengan polisi
karena telah menumpangkan orang asing di rumah mereka. Padahal rumah itu
adalah rumah milik Pemerintah. Di Me-sir, kalau sudah behubungan dengan
Polisi pasti akan rumit masalahnya. Namanya saja polisi kurang
pekerjaan. Bayangkan saja, dari tiga orang pen-duduk Mesir ada satu
orang yang polisi.
Kulangkahkan kaki penuh kegontaian, sebab
entah kemana kaki ini akan ku-langkahkan. Hanya satu yang baru terpikir
olehku, yaitu pergi ke Rab’ah Al-adawiyah. Untuk kesana butuh dua jam
perjalanan dengan berjalan kaki. Ba-ru dua meter aku meninggalkan para
penjaga kuburan itu, sebuah sedan berwarna hitam pekat melaju cepat
kearah kami. Aku lansung lari masuk ke-dalam rumah penjaga kuburan.
Namun suara seseorang perempuan yang se-pertinya aku kenal memanggil
namaku dari dalam mobil.
“ Riko, tunggu… Ini aku. “
“
Fathma…” jawabku memastikan siapa yang memanggil namaku. Fathma keluar
dari pintu belakang. Ia datang dengan seorang sopir. Fathma adalah anak
dari Ammu Shalah. Ia memang sering datang ke toko buku ayahnya. Ia putri
dan anak Ammu Shalah satu-satunya. Aku sering berdiskusi den-gannya, ia
adalah pengikut Mazhab Syafe’i. Berbeda dengan orang-orang Mesir yang
lain, yang rata-rata adalah pengikut Mazhab Hanbali. Dan aku sering
mengajarkannya bahasa Indonesia, seperti yang selalu ia pinta. Ia sangat
marah ketika aku bisa dengan mudah melafazkan bahasa arab, bahasa
negerinya. Sementara ia tak mengerti satu kata pun dengan bahasa
Indonesia. Fathma malah menjadi tertarik untuk melancong ke Indonesia,
ketika aku menceritakan tentang indahnya alam Indonesia.
“ Aku
tau tempat ini dari Ammu Ikram, si penjual kiswah. Ayah menitipkan surat
ini untukmu. Dan harus kau baca sekarang juga.” Fathma mengulurkan
sebuah amplop padaku. Segera kubuka amplop itu. Dan kubaca surat yang
ditulis tangan oleh Ammu Shalah.
Anakku. Ketika kau baca surat
ini, mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi. Aku sudah tau, hari ini
aku pasti akan ditangkap polisi-polisi biadab itu. Karena kemarin aku
sudah diancam mereka.
Anakku. Kau masih muda, masa depan masih
terbentang luas dihadapanmu. Aku ha-rap kau kembali saja ke Indonesia,
itu lebih baik untukmu. Baju-bajumu yang ditoko buku tidak bisa aku
selamatkan. Tapi biodata dan foto-fotomu, Alhamdulillah selamat. Namun
aku yakin polisi pasti akan mencarimu. Mereka lebih hebat daripada
anjing pelacak.
Anakku. Aku butuh pertolonganmu. Bisakah kau
membantuku? Aku menitipkan Fathma padamu. Kasihanilah ia, kemarin Ibunya
baru meninggal gara-gara aku tidak mau menyerahkan diri pada polisi.
Aku takut polisi juga akan menyeretnya. Ia harus pergi meninggalkan
Mesir ini.
Anakku. Nikahilah anakku Fathma. Bawalah ia ke
Indonesia. Menyelamatkan nyawa dari kaum yang zalim adalah wajib,
dibanding kau paksakan untuk terus menuntut ilmu. Kalau kau bersedia,
engkau akan dinikahkan oleh adikku Salman.
Masalah biaya jangan
kau pikirkan. Semuanya telah aku urus, tiket kalian berdua pun telah aku
beli. Dan kau juga bisa hidup dengan warisan yang telah aku berikan
kepada Fathma. Aku mohon kau mengerti maksudku dan bersedia menikahi
putriku satu-satunya. Dia sangat membutuhkanmu.
Wassalam aku yang memohon padamu.
Ammu Shalah
Setelah
berpikir masak-masak, kuberikan jawaban pada Fathma. Aku setuju dengan
permintaan ayahnya. Seketika itu juga, kami langsung menunaikan sunnah
rasul yang mulia. Ammu Salman itu ternyata adalah sopir yang membawa
Fathma kesini. Kami laksanakan rangkaian akad nikah secara syar’i dengan
penuh khidmat. Setelah selesai akad, Fathma mendekatiku dengan
perlahan. Aku serasa tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Fathma
yang dulu sering kupuji kecantikannya walau hanya dalam hati, kini
telah menjadi isteriku yang syah. Ia membuka niqab penutup mukanya, aku
gugup. Walau dulu juga aku sudah pernah melihat muka Fathma waktu di
toko. Tapi kini yang kulihat lain. Matanya begitu bersinar menatapku,
hara-pan itu terpancar dari kedua mata indahnya. Aku seakan bermimpi,
ternyata Fathma jauh lebih cantik dari pada apa yang aku bayangkan.
Matanya yang indah dengan bulu mata yang panjang dan lentik membuat
jantungku se-makin berdebar-debar. Pipinya yang putih dam memerah
membuat nafasku susah diatur. Aku benar-benar tak percaya dengan apa
yang aku lihat. Ia tersenyum padaku, bibirnya yang tipis dan mungil
menambah keindahan senyum itu. Ia menyalami dan mencium tanganku penuh
ta’zhim. Aku kecup keningnya dengan perlahan, ia merunduk dan memejamkan
matanya.
Air mataku menetes ke jilbab abu-abu Fathma. Air mata
perpisahan dengan orang yang telah memberi tumpangan hidup serta masa
depan kepadaku. Air mata perpisahan dengan Mesir yang sangat aku kagumi.
Air mata kesedihan ketika aku teringat kepada krisis moneter yang
menimpa Tanah Air. Cipra-kan krisis itu telah menjadikan aku dan
teman-teman lainnya di Kairo tidak bisa melanjutkan kuliah karena tak
punya biaya. Namun aku sangat bersyu-kur pada Allah SWT. Allah telah
memberiku bidadari dari sorga untuk me-nemaniku. Menemani kesedihanku.
Untuk bisa menjalani kehidupan yang panjang dan telah terbentang.
* * *
“Ayah!
Ayah kenapa?” Isteriku Fathma membuyarkan lamunanku yang pan-jang.
Kuseka air mataku yang mengalir ketika aku mengingat peristiwa siang
itu. Fathma memelukku dari belakang, tangannya mendekap tubuhku den-gan
erat dan penuh cinta. Ia tau, kalau aku menangis pasti karena mengingat
peristiwa siang itu. Ia bisikkan kata cinta ditelingaku.
Perahu berlayar meninggalkan teluk.
Nakhodanya sibuk menentukan angin.
Ditengah lautan ia berjalan.
Badai hujan yang di elakkan
Kakanda selalu akan dinda peluk.
Karena berpisah kita tak ingin.
Syukur pada Allah kita haturkan.
Karena hati tak bisa dipisahkan.
Rabu, 13 Agustus 2008
Cerita
ini ditulis untuk mengenang kawan-kawan yang sempat berhenti kuliah
dari Al-azhar, karena ciprakan krisis moneter yang melanda Tanah Air.
Pada tahun 1995-1997 M.

No comments:
Post a Comment