Breaking News

Catatan A I R (Abuya Irfan Rahman)

Hidup Hanya Sekali - Hiduplah Untuk Menginspirasi Agar Kau Hidup Abadi

Thursday, September 6, 2018

Cerpen " Kau Mesirku"

Masih teringat dalam ingatanku, kenangan pahit ketika aku kuliah di Al-azhar Mesir. Sepuluh tahun yang lalu. Kenangan itu begitu berharga bagiku. Namun, aku sangat sedih ketika aku kembali teringat pada teman-temanku. Dimanakah mereka sekarang? Peristiwa itu kembali lagi berputar-putar di alam sadarku. Siang itu,,,

* * *

Pasar Khan El-khalily kian ramai, seiring matahari kian naik ke sepenggalah langit. Hampir pas diatas ubun-ubunku. Baru saja aku selesai Talaqy dengan Syekh Thal'at Abdul Lathif. Guru Fiqh Safe'i yang sering dipuji-puji oleh mu-rid-muridnya. Termasuk aku. Aku harus cepat-cepat ke tempat kerjaku. Ammu Shalah, bapak angkatku di Mesir pasti sudah menungguku dari tadi. Kulirik jam ditanganku.

" Ouh… Aku terlambat hampir setengah jam."

Kupercepat langkahku. Seoarang tourist tersenggol oleh sikutku yang men-gembang, karena aku menjepit buku disana. Kiri-kanan orang Mesir sibuk berteriak menawarkan dagangan mereka. Terlihat jejeran Pyramid mungil menghiasi meja didepan tokonya. Lengkap dengan Singa berkepala manusia yang selalu setia menemani ketiga Pyramid itu. Sesetia sungai Nil menemani Mesir. Setelah dua lorong dari pintu utama pasar itu aku belok kanan. Lorong ini akan tembus hingga ke pasar alumunium Bab El Sya'riyyah. Sebelum pa-sar itu kita akan melewati tempat-tempat bersejarah di Mesir. Seperti, Per-pustakaan peninggalan Raja Mamalik. Dan beberapa mesjid Raja Mesir. Dan sebelum Perpustakaan Raja Mamalik itulah toko buku tempat aku bekerja dan tinggal sehari-hari terletak. Dan kini mataku telah tertuju pada gerbangnya yang berjeruji besi tua itu.

" Kok tutup?" Lirihku dalam hati. Biasanya Ammu Shalah telah menunggu disana. Aku berlari kecil kesana. Tapi tiba-tiba aku dicegat oleh Ammu Ik-ram, sang penjual kiswah dan berbagai jenis Papyrus.

" Riko, sebaiknya cepat-cepat kau tinggalkan tempat ini. Sebelum Syurthah-syurthah kurang ajar itu mencarimu."

" Apa yang telah terjadi?" Pertanyaan itu spontan melompat dari mulutku. Aku tegang. Ammu Ikram membawaku kedalam tokonya. Dia ceritakan apa yang telah terjadi sebelum aku datang. Ternyata, Ammu Shalah telah dibawa oleh rombongan mabahits. Ia diseret kedalam mobil biru putih bagaikan bi-natang ternak. Beliau diduga telah menjual kitab-kitab yang dilarang beredar oleh Pemerintah. Semua isi perpustakaan dan lengkap dengan barang-barangku dibawa oleh mobil Naql milik mereka.

Aku terhenyak mendengar penjelasan dari Ammu Ikram. Segala persendian melemas, mataku berkunang-kunang. Disudut mata itu mengalir air panas sederas derita yang mengalir keseluruh sarafku. Semua harta milikku telah ludes dibawa polisi-polisi terkutuk itu. Termasuk baju-bajuku, kitab-kitab yang telah menemaniku. Semua telah lenyap. Hanya baju yang kupakai be-serta kitab Fiqh 'ala Mazhab syafe'I ini saja yang tertinggal.

" Nak, cepat-cepatlah kau pergi dari sini. Aku takut polisi-polisi itu akan kembali lagi kesini, untuk mencarimu. Lekaslah pergi! " Ammu Ikram mena-tapku lekat-lekat. Aku memang harus pergi dari sini. Tapi, entah kemana aku akan pergi. Polisi-polisi itu pasti akan mencariku. Sebab foto-foto dan bio-dataku berserakan di kamar perpustakaan itu. Tanpa kata-kata aku lansung kabur lewat jalan belakang. Orang Indonesia pasti belum pernah menapaki jalan ini. Ialah sebuah lorong yang berbelok-belok. Kalau kita salah melewati satu lorong saja pasti akan berputar-putar di perumahan kumuh dibelakang mesjid Husain. Lorong itu akan tembus di dekat ujung Qal'ah perbatasan kota Kairo tempo dulu. Aku sering melewati lorong ini kalau hendak menemui sahabatku yang tinggal di Madinatul Bu'uts. Kutelusuri lorong itu selangkah demi selangkah. Sementara mataku masih meneteskan air kesediahan. Ia menetes di setiap langkahku. Andai ada polisi yang mengikuti air suci itu, pasti ia akan mudah mendapatiku.

Terus saja aku berjalan, kakiku telah hafal betul dengan jalanan lorong ku-muh itu. Bau busuk yang keluar dari sampah yang berjejer di dinding imarah menusuk hidungku berkali-kali. Aku tak peduli. Aku ingin ke Raba'ah El-adawiayah, tempat si Rudi dan teman-teman lainnya ngekost. Besok mereka akan dipulangkan ke Tanah Air dengan pesawat Garuda yang pulang men-gantar jama'ah haji. Pesawat itu sengaja singgah di Kairom, untuk mengang-kut mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang kekurangan biaya kuliah, ka-rena ciprakan krisis moneter yang sedang membadai di Indonesia. Bagai-mana tidak, jangankan untuk ongkos ke kuliah untuk bertahan hidup di Mesir saja susah. Dan aku adalah orang yang memilih bertahan hidup disini. Dari pada pulang tanpa ijazah. Aku belum mendapatkan apa yang aku cari di Negeri Seribu Menara ini. Untung saja ada Ammu Shalah yang telah memberi tumpangan tempat tinggal di maktabahnya. Kalau tidak, aku akan tinggal ber-sama bawwab-bawwab di perkuburan Bab En-nasr. Seperti Joko dan kawan-kawan dari Sumatera lainnya. Tapi, sekarang$#@^%&

Ku urungkan niat ke Rab'ah, karena aku teringat tidak membawa uang seper-sen pun. Langkahku tertegun sejenak. Lalu kumantapkan langkah menuju rumah Joko di tepi perkuburan. Karena untuk kesana tidak perlu naik Bus. Cukup dengan berjalan kaki saja. Perkuburan itu tak jauh dari sini. Lagi pula kalau aku paksakan ke Rab'ah, aku pasti akan didesak untuk pulang oleh kawan-kawan disana. Malah kata Rudi seminggu yang lalu namaku juga te-lah didaftarkan sebagai calon yang akan pulang ke Indonesia. Kasihan sekali Joko dan kawan-kawan. Ia pasti menderita di gubuk itu. Makan apa adanya. Minum air mentah yang didinginkan didalam kendi-kendi dipinggiran jalan. Tapi, kemulian para penjaga kuburan itu sangatlah tak ternilai, bila diband-ingkan dengan penderitaan para mujahid Indonesia yang menumpang hidup di rumah mereka. Mereka rela menumpangkan para mahasiwa dirumahnya. Tanpa membayar walau se Qirsy pun.

Kupercepat langkahku, sekarang perkuburan itu telah berada didepan ma-taku. Namun aku harus menyeberangi jalan raya yang berarus deras. Jalan ini adalah jalan menuju Qal’ah Shalahudiin Al Ayubi. Jalan ini juga bisa tembus ke Maidan Saidah ‘Aisyah. Tepat didepan Masyikhah Al-azhar ada jalan ba-wah tanah. Aku tak tau ujung jalan itu akan tembus kemana. Sebab aku be-lum pernah melaluinya.

Ku berlari untuk menyeberangi jalan. Kalau tidak, aku akan ditabrak mati oleh mobil-mobil yang berkecepatan sangat tinggi. Sebab jalan yang aku se-berangi tidak ada trotoar dan tidak ada lampu merah. Jalan ini seperti jalan tol di Jakarta. Langsung aku menuju ke rumah yang ditempati Joko dan kawan-kawan. Rumahnya terletak di pinggiran kuburan ujung sana. Aku harus melewati kuburan-kuburan yang berdinding tinggi sejauh tujuh ratus meter untuk sampai kesana. Kuburan di kawasan Bab En-nasr ini sangat luas sekali. Panjangnya kurang lebih 2 km, sementara lebarnya sekitar 700 meter. Kuburan ini sebagian adalah kubuaran para Syuhada yang meninggal pada perang Salib II yang dipimpin oleh Shalahuddin Al-ayubi. Dan sebagian lagi kuburan masyarakat Mesir.

Kuhentikan langkahku ketika mataku tertuju pada rumah yang ditumpangi Joko. Polisi-polisi berseragam biru telah berkumpul disana. Cepat-cepat aku masuk kesalah satu bangunan kuburan. Dari sela-sela jendela yang rusak ku-perhatikan apa yang dilakukan Polisi itu terhadap Joko dan yang lainnya. As-taghfirullah, Joko, Andi, Rozi dan Ahmad dimasukkan kedalam mobil Naql berwarna biru gelap. Barang-barang mereka juga ikut dibawa. Aku jadi ce-mas, jantungku berdegup cepat. Mobil Naql dan dua mobil Jip lainnya ber-gegas meninggalkan rumah para penunggu kuburan itu. Aku harus memas-tikan keadaan aman terlebih dahulu, sebelum aku keluar dari tempatku. Hampir sepuluh menit aku menunggu, namun jantungku masih berdetak kencang dan terburu-buru.

Kuberanikan diri untuk keluar dari persembunyianku. Dengan ragu aku me-langkah mendekati rumah penjaga kuburan itu. Kulihat kiri dan kanan, tak ada apa-apa. Aku bergegas menuju pintu rumah itu. Sambil mengucapkan salam, aku masuk ke rumah yang pintunya masih terbuka. Kontan saja orang yang ada didalam kaget melihat kedatanganku secara tiba-tiba.

“ Maaf, aku Riko temannya Joko. Apa yang telah terjadi dengan mereka?” Tanyaku pada seorang Madame yang aku masih ingat wajahnya, ketika aku menziarahi Joko dua minggu yang lalu.

“ Joko dan teman-temannya dibawa kekantor Polisi. Karena mereka tidak di-izinkan tinggal bersama penduduk Mesir. Apalagi tinggal bersama kami di pemakaman ini. Pemerintah takut akan terjadi apa-apa dengan masyarakat Mesir. Kamu kan tau, sekarang Pemerintah sedang gencar-gencarnya memer-angi salah satu pergerakan yang dianggap akan mengancam terhadap kea-manan negara ini.”

“ Ikhwanul Muslimin maksud Madame?”

“ Iya. Cepat-cepatlah kau pergi dari sini. Nanti kau bisa saja ditangkap mere-ka, walaupun aku tau kalian adalah manusia-manusia yang berhati putih. Maaf, aku bukan bermaksud mengusir. Tapi ini demi keselamatanmu.”

“ Tapi, bolehkah aku menumpang untuk shalat Dzuhur sebentar saja.”

“ Boleh, silahkan! Dan disana tempat wudhu’nya.”

Aku langsung menuju tempat wudhu yang ditunjukan Madame tadi. Setelah selesai menunaikan Shalat Dzuhur, hatiku agak tenang. Rasa damai menghi-asi jiwaku. Teduh sekali. Kuhaturkan do’a pada Yang Maha Kuasa. Aku tau Polisi pasti akan mencariku, karena Ammu Shalah memang termasuk ke-dalam pergerakan itu. Biodataku sangat lengkap di perpustakaan, tempat aku tinggal. Apakah aku harus pulang juga seperti halnya Rudi dan kawan-kawan yang tinggal di Rab’ah Al-adawiyah? Mau tidak mau aku harus ke Rab’ah. Yang terpenting adalah aku harus selamatkan jiwaku dari Polisi Keamanan. Aku sekarang sedang dicari. Wanted! Namun, aku tidak punya uang untuk kesana. Apakah aku harus meminjam uang kepada pemilik ru-mah ini? Tapi tak mungkin, mereka saja hidup dari roti ‘Isy yang disubsidi Pemerintah Mesir. Ya Allah, berikanlah jalan yang terbaik untuk hamba-Mu ini.

Aku pamitan pada yang punya rumah, kuucapakan terima kasih atas kebai-kan hati mereka. Air mataku sempat berlinang ketika aku minta maaf pada mereka. Aku, Joko dan teman-teman lainnya telah merepotkan mereka. Aku tidak bisa memastikan keselamatan penjaga-penjaga kuburan itu, mereka pasti akan berurusan dengan polisi karena telah menumpangkan orang asing di rumah mereka. Padahal rumah itu adalah rumah milik Pemerintah. Di Me-sir, kalau sudah behubungan dengan Polisi pasti akan rumit masalahnya. Namanya saja polisi kurang pekerjaan. Bayangkan saja, dari tiga orang pen-duduk Mesir ada satu orang yang polisi.

Kulangkahkan kaki penuh kegontaian, sebab entah kemana kaki ini akan ku-langkahkan. Hanya satu yang baru terpikir olehku, yaitu pergi ke Rab’ah Al-adawiyah. Untuk kesana butuh dua jam perjalanan dengan berjalan kaki. Ba-ru dua meter aku meninggalkan para penjaga kuburan itu, sebuah sedan berwarna hitam pekat melaju cepat kearah kami. Aku lansung lari masuk ke-dalam rumah penjaga kuburan. Namun suara seseorang perempuan yang se-pertinya aku kenal memanggil namaku dari dalam mobil.

“ Riko, tunggu… Ini aku. “

“ Fathma…” jawabku memastikan siapa yang memanggil namaku. Fathma keluar dari pintu belakang. Ia datang dengan seorang sopir. Fathma adalah anak dari Ammu Shalah. Ia memang sering datang ke toko buku ayahnya. Ia putri dan anak Ammu Shalah satu-satunya. Aku sering berdiskusi den-gannya, ia adalah pengikut Mazhab Syafe’i. Berbeda dengan orang-orang Mesir yang lain, yang rata-rata adalah pengikut Mazhab Hanbali. Dan aku sering mengajarkannya bahasa Indonesia, seperti yang selalu ia pinta. Ia sangat marah ketika aku bisa dengan mudah melafazkan bahasa arab, bahasa negerinya. Sementara ia tak mengerti satu kata pun dengan bahasa Indonesia. Fathma malah menjadi tertarik untuk melancong ke Indonesia, ketika aku menceritakan tentang indahnya alam Indonesia.

“ Aku tau tempat ini dari Ammu Ikram, si penjual kiswah. Ayah menitipkan surat ini untukmu. Dan harus kau baca sekarang juga.” Fathma mengulurkan sebuah amplop padaku. Segera kubuka amplop itu. Dan kubaca surat yang ditulis tangan oleh Ammu Shalah.

Anakku. Ketika kau baca surat ini, mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi. Aku sudah tau, hari ini aku pasti akan ditangkap polisi-polisi biadab itu. Karena kemarin aku sudah diancam mereka.

Anakku. Kau masih muda, masa depan masih terbentang luas dihadapanmu. Aku ha-rap kau kembali saja ke Indonesia, itu lebih baik untukmu. Baju-bajumu yang ditoko buku tidak bisa aku selamatkan. Tapi biodata dan foto-fotomu, Alhamdulillah selamat. Namun aku yakin polisi pasti akan mencarimu. Mereka lebih hebat daripada anjing pelacak.

Anakku. Aku butuh pertolonganmu. Bisakah kau membantuku? Aku menitipkan Fathma padamu. Kasihanilah ia, kemarin Ibunya baru meninggal gara-gara aku tidak mau menyerahkan diri pada polisi. Aku takut polisi juga akan menyeretnya. Ia harus pergi meninggalkan Mesir ini.

Anakku. Nikahilah anakku Fathma. Bawalah ia ke Indonesia. Menyelamatkan nyawa dari kaum yang zalim adalah wajib, dibanding kau paksakan untuk terus menuntut ilmu. Kalau kau bersedia, engkau akan dinikahkan oleh adikku Salman.

Masalah biaya jangan kau pikirkan. Semuanya telah aku urus, tiket kalian berdua pun telah aku beli. Dan kau juga bisa hidup dengan warisan yang telah aku berikan kepada Fathma. Aku mohon kau mengerti maksudku dan bersedia menikahi putriku satu-satunya. Dia sangat membutuhkanmu.

Wassalam aku yang memohon padamu.

Ammu Shalah

Setelah berpikir masak-masak, kuberikan jawaban pada Fathma. Aku setuju dengan permintaan ayahnya. Seketika itu juga, kami langsung menunaikan sunnah rasul yang mulia. Ammu Salman itu ternyata adalah sopir yang membawa Fathma kesini. Kami laksanakan rangkaian akad nikah secara syar’i dengan penuh khidmat. Setelah selesai akad, Fathma mendekatiku dengan perlahan. Aku serasa tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Fathma yang dulu sering kupuji kecantikannya walau hanya dalam hati, kini telah menjadi isteriku yang syah. Ia membuka niqab penutup mukanya, aku gugup. Walau dulu juga aku sudah pernah melihat muka Fathma waktu di toko. Tapi kini yang kulihat lain. Matanya begitu bersinar menatapku, hara-pan itu terpancar dari kedua mata indahnya. Aku seakan bermimpi, ternyata Fathma jauh lebih cantik dari pada apa yang aku bayangkan. Matanya yang indah dengan bulu mata yang panjang dan lentik membuat jantungku se-makin berdebar-debar. Pipinya yang putih dam memerah membuat nafasku susah diatur. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku lihat. Ia tersenyum padaku, bibirnya yang tipis dan mungil menambah keindahan senyum itu. Ia menyalami dan mencium tanganku penuh ta’zhim. Aku kecup keningnya dengan perlahan, ia merunduk dan memejamkan matanya.

Air mataku menetes ke jilbab abu-abu Fathma. Air mata perpisahan dengan orang yang telah memberi tumpangan hidup serta masa depan kepadaku. Air mata perpisahan dengan Mesir yang sangat aku kagumi. Air mata kesedihan ketika aku teringat kepada krisis moneter yang menimpa Tanah Air. Cipra-kan krisis itu telah menjadikan aku dan teman-teman lainnya di Kairo tidak bisa melanjutkan kuliah karena tak punya biaya. Namun aku sangat bersyu-kur pada Allah SWT. Allah telah memberiku bidadari dari sorga untuk me-nemaniku. Menemani kesedihanku. Untuk bisa menjalani kehidupan yang panjang dan telah terbentang.

* * *

“Ayah! Ayah kenapa?” Isteriku Fathma membuyarkan lamunanku yang pan-jang. Kuseka air mataku yang mengalir ketika aku mengingat peristiwa siang itu. Fathma memelukku dari belakang, tangannya mendekap tubuhku den-gan erat dan penuh cinta. Ia tau, kalau aku menangis pasti karena mengingat peristiwa siang itu. Ia bisikkan kata cinta ditelingaku.

Perahu berlayar meninggalkan teluk.
Nakhodanya sibuk menentukan angin.
Ditengah lautan ia berjalan.
Badai hujan yang di elakkan
Kakanda selalu akan dinda peluk.
Karena berpisah kita tak ingin.
Syukur pada Allah kita haturkan.
Karena hati tak bisa dipisahkan.


Rabu, 13 Agustus 2008
Cerita ini ditulis untuk mengenang kawan-kawan yang sempat berhenti kuliah dari Al-azhar, karena ciprakan krisis moneter yang melanda Tanah Air. Pada tahun 1995-1997 M.

No comments:

Post a Comment

Designed By