Bergegas kuturunkan koper Polo biru yang terbungkus plastik hitam dari atas lemari. Kutepiskan debu yang yang menempel.
“
Prakkkk. “ Bukan debu saja yang tersingkir, plastik hitam pembungkus
koperpun robek. Wajar saja, selama empat tahun aku di Kairo baru satu
kali aku mengganti plastik pengaman koper itu. Kubuka rasletingnya
perlahan, semerbak bau wangi keluar dari dalam koper. Wangi itu sangat
khas sekali, wanginya membawaku kepada memori empat tahun yang lalu.
Auranya mengingatkanku ketika aku dilepas oleh orang-orang terdekatku
dari bandara Tabing Padang. Aku masih ingat dengan pelukan hangat Papa
dan Mama di hari perpisahan itu. Dan satu hal yang tak pernah aku lupa.
Perkataan Papa di awal keberangkatan, sebagai jawaban keinginanku untuk
mempersunting teman Aliyahku. Nadya, Sang Ketua Keputrian di OSIS yang
aku kepalai.
“ Syamil, Papa dan Mama tau akan niatmu yang suci itu.
Namun, kami tidak bisa mengabulkannya pada saat ini.. Dan kemarin Papa
telah menghubungi Pak Abdullah, papanya Nadya. Kami telah sepakat, bahwa
kami setuju akan perjodohan kalian. Tapi dengan satu syarat.”
“ Syarat apa Pa?”
“
Selesaikanlah dulu kalian di Al-azhar. Papa dan Papa Nadya tidak mau
melihat kalian berdua gagal. Kalian harus berhasil menggapai cita-cita.
Bukankah kuliah di al-azhar adalah cita-cita kamu sewaktu kecil?”
“
Tapi Pa, Syamil belum tau akan bisa menjaga diri selama kuliah disana.
Bagi Syamil biarlah kami hidup seadanya dari pada hidup yang tak
menentu, apalagi hidup diluar negeri. Syamil takut jatuh ke lembah dosa,
Pa”
“ Ini telah menjadi keputusan Papa dan Pak Abdullah.” Jawaban Papa menciutkan nyaliku.
“ Bagaimana dengan Nadya, Pa? Apa dia setuju? Selama di Kairo pasti banyak hal yang akan berubah.”
“ Tapi ini bukan semata-mata keputusan Papa dan Pak Abdullahm, ini adalah permintaan Nadya? Dan ini harus kalian jalani.”
“ Kalau memang ini permintaan Nadya, Syamil juga setuju, Pa.” jawabku sambil tersenyum malu.
“
Papa dan Mama bangga padamu, Nak. Kau cepat dewasa, dan beda sekali
dengan anak-anak muda yang lain. Ghirah keislamanmu sangat kuat. Kau
sudah bisa mengambil keputusan yang tepat untuk menjaga dirimu dari
maksiat. Yakinlah, keputusan Papa dan Papa Nadya sangatlah tepat. Ini
demi masa depan kalian yang cerah.”
“ Makasih Pa.”
Kata-kata itu
memang tak pernah lupa dalam ingatanku. Ia bagaikan penyemangat jiwaku,
ketika hatiku kendor dihantam badai keindahan bumi Kinanah. Baru kini
aku sadari akan keinginanku yang terlalu cepat itu. Andai saja aku
bersikeras untuk menikah sewaktu tamat aliyah dulu, mungkin kuliahku
belum kelar seperti saat ini. Namun, entah mengapa aku jadi ragu akan
keinginan itu. Aku ragu pada Nadya. Bagaimana tidak, Nanang sahabatku
yang aktif di PPMI selalu membawa berita hangat tentang Nadya. Seminggu
yang lalu ia bercerita tentang bidadariku itu.
“ Syamil, kau tau nggak? Nadya teman kita di sekolah dulu, sekarang jadi buah bibir masyarakat Kairo.”
“ Maksudmu?”
“
Setelah ia lengser dari ketua WIHDAH ia telah dilamar lima kali oleh
para senior Kairo. Dan katanya lagi salah satu staf KBRI juga pernah
melamarnya. Belum lagi para cowok-cowok nakal yang ingin jadi pacarnya.
Tapi semuanya ditolak. Bego banget dia ya!”
“ Apa kamu bilang? Bego’?”
“
Ya iya lah. Kau tau nggak siapa saja yang melamarnya. Ustadz Rizki yang
jago balaghah dan Sastra Arab, ustadz Syahroni sang pengonsep Bank
Syari’ah. Bang Faisol mantan ketua PPMI juga. Semuanya kan orang-orang
hebat, bro. Katanya orang-orang, kalau akhwat yang pulang dari Kairo
belum mmenikah, pasti nanti di Indonesia bakal susah lakunya. Kau
ingatkan dengan Kak Rina. Sampai sekarang ia belum menikah, padahal
umurnya telah lebih dari tiga puluh tahun. Orang-orang Indonesia mana
berani meminang gadis dari Kairo yang pada pintar dan dikenal shalehah.”
Ini
bukan pertama kali aku mendengar berita dari Nanang. Telingaku sudah
panas dari dulu, sejak Nadya menjadi utusan Kekeluargaan kami untuk
menjadi kader di WIHDAH hingga ia telah jadi mantan ketua organisasi
itu. Cerita-cerita tentangnya selalu sampai ketelingaku. Andai saja
Nanang tau bahwa aku adalah calon suami Nadya, mungkin ia tak akan
berani menceritakan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di PPMI dan
WIHDAH. Apalagi cerita hangat tentanmg Nadya. nanang memang sangat
aktif di organisasi manapun. Sementara aku, aku telah putuskan untuk
tidak berorganisasi lagi setelah di Kairo. Aku lebih memilih menjadi
seorang penerjemah buku. Walau sebenarnya statusku hanya sebagai
pembantu Ustadz Kamal Hermawan yang kini menjadi Presiden PPMI Kairo.
Beliau memang telah terikat dengan salah satu penerbit terkenal di
Indonesia. Jadi, selama ia sibuk di PPMI tugas terjemah itu diserahkan
padaku. Dan Alhamdulillah, dengan hasil terjemahan itu aku telah bisa
membeli tiket pulang ke tanah air. Dua minggu lagi aku akan terbang
meninggalkan Kairo, menuju negeri kelahiranku. Setelah seminggu bersama
keluarga, rencananya aku akan melamar Nadya. Melamar bidadariku sejak
aliyah dulu.
Segera kutepiskan bayangan tentang Nadya. Walau
dibagaian hatiku yang lain aku telah ragu padanya, namun sudut hatiku
yang paling dalam masih percaya akan janji yang telah keluarga kami
sepakati. Aku tau betul tentang Nadya. Semoga saja ia tetap seperti
Nadya yang dulu.
Kukeluarkan semua isi koper, surat-surat penting
dan album yang aku bawa dari Indonesia masih tersusun rapi disana. Entah
mengapa tiba-tiba saja aku ingin membuka album yang bersampul putih
itu. Dihalaman pertama, fotoku dan keluarga masih terpasang rapi. Kubuka
lembaran kedua, ada fotoku dan teman-teman OSIS dulu. Mataku langsung
tertuju pada foto Nadya. Hatiku bergetar hebat ketika mataku dan matanya
yang di foto beradu. Aku tak sanggup menatap mata itu. Mata hitamnya
yang dihiasi bulu mata yang panjang dan lentik menatapku dengan tajam.
Aku semakin gugup. Namun jilbabnya yang panjang dan dalam meneduhkan
hatiku yang takut. Andai saja ia tau akan perasaanku saat ini, pasti
akan kubisikan tentang cerita hati ini padanya. Ingin kukatakan bahwa
aku telah berhasil menjalani tekad yang dulu pernah kami bina. Ingin
segera kutagih tentang janji yang telah kujalani.
Namun entah mengapa
aku menjadi gugup, padahal empat tahun itu telah aku lalui. Apakah
karena aku tak pernah berjumpa dengannya, atau karena aku tak pernah
menghubunginya selama di Kairo ini. Mungkinkah hati ini ragu karena aku
tak pernah menanyakan akan hal itu padanya. Hanya satu yang menjadi
keyakiananku, bahwa tidak berhubungan dengannya selama di Kairo ini
adalah hal yang terbaik bagi hubunganku. Daripada syetan selalu akan
menggodaku untuk bermaksiat kepada Pemilik Cinta.
“ Allahu, Allahu,
Allahu……” Handphone ku berdering beriramakan nasyid Samy Yusuf. Langsung
saja kuangkat, tanpa melihat siapa yang menelpon terlebih dulu.
“Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam, Syamil kamu sedang apa? Ustadz butuh bantuan kamu nih, sekalian mau menagih janjimu dulu.”
“
Janji apa Stadz? Aku sekarang lagi memasukan barang belanjaan untuk
oleh-oleh yang mau dibawa ke Indonesia. Aku akan pulang dua minggu
lagi.”
“ Oh ya! Tapi kamu nggak lupakan akan janji kamu dulu. Katanya kamu siap jadi ketua panitia kalau Ustadz menikah.”
“
Benarkah? Kapan akadnya Stadz?” aku senang sekali mendengar kabar
gembira itu. Ustadz Kamal Hermawan, ketua PPMI dan mahasiswa pasca
sarjana Universitas Al-azhar akan menikah. Ini pasti menjadi berita yang
sangat heboh di kalangan Masisir ( Mahasiswa Mesir ). Ustadz Kamal
adalah figur yang sangat popular di Mesir. Beliau bukan saja dikenal
baik dikalangan mahasiswa tapi juga terkenal dikalangan Diplomat KBRI.
Pestanya pasti sangat wah.
“ Seminggu lagi.”
“Insya Allah aku bisa Stadz.”
“ Gitu dong. Ustadz sangat berharap kamu yang jadi ketua panitiannya. Sebab kamu adalah orang yang paling dekat dengan Ustadz.”
“ Sip deh, tapi dengan siapa Stadz?” tanyaku penasaran.
“
Itu masih rahasia. Nanti kalau tiba waktunya akan Ustadz kasih tau.”
Aku geleng-geleng kepala, kebiasaan merasiakan hal-hal penting tak
pernah hilang dari seniorku itu. Sampai-sampai aku yang jadi ketua
panitia untuk pernikahannya tidak dikasih tau siapa calonnya.
“ Iya deh kalau begitu.”
“ Kamu hubungi saja Nanang, semua biaya dan susunan panitia ada padanya. Ustadz percayakan pada kalian berdua. Ok.”
Segera
kurubah jadwal belanjaanku, yang tadinya seminggu ini aku akan pergi
foto-foto ketempat wisata terdekat, kini kuurungkan. Lagi pula masih ada
waktu seminggu lagi setelah pernikahan Ustadz Kamal.
Dua hari telah
kulewati tugas mulia ini. Semua panitia telah kuserahi tugas
masing-masing. Mulai dari peminjaman Aula Masjid Assalam Nasr City,
pemesanan katering ke catering paling terpercaya di Kairo, kateringnya
Bunda Elfi. Sampai kepada pendekoran kamar pengantin dirumah yang baru
disewa beberapa hari yang lalu oleh ustadz Kamal. Semuanya berjalan
dengan lancar. Tinggal undangan yang akan aku buat dan desain sendiri.
Besok undangan itu harus telah disebarkan. Pestanya besar-besaran,
bahkan paling wah setauku. Undangannya saja untuk seribu lima ratus
orang. Hampir sama dengan porsi jama’ah shalat Idul Fitri masyarakat
Indonesia di Kairo yang berjumlah kurang lebih dua ribu orang.
Kuhidupkan
laptop acer kesayanganku, segera kupilih program Microsoft Office
Publisher 2007. Belum lagi sempat aku memulainya, aku teringat akan nama
calon isteri ustadz Kamal. Aku belum tau tentang nama itu. Aku yakin,
calonnya bukan akhwat sembarangan. Buktinya saja, sampai saat ini Ustadz
Kamal masih merahasiakannya kepada kami. Padahal waktunya sudah dekat.
Begitu sangat berharganya calon isterinya bagi seniorku yang telah empat
tahun membimbingku.
Kusambar si Panda 6600 yang berada disampingku.
“ Assalamu’alaikum…”
“ Wa’alaikumsalam, sehat Stadz.” Sapaku penuh hormat.
“ Alhamdulillah, ada apa nih? Ada masalah?”
“ Iya. Kayaknya hari Ahad nanti pernikahan Ustadz nggak jadi deh. Soalnya…”
“
Soalnya kenapa?” Ustadz Kamal berhasil kubuat kaget. Walau aku sangat
hormat pada kepribadiannya, namun aku masih bisa bercanda dengannya.
Karena kami telah seperti adik dan kakak saja.
“ Karena aku belum tau nama calonnya isteri Ustadz. Sementara undangan sudah harus disebar besok.”
“ Kamu nih Syamil, bikin Ustadz takut saja. Ustadz kira ada apa-apa. Baiklah kalau begitu. Kamu siapkan pulpen ya.”
“ Ok.”
“ Jangan sampai salah menulisnya, ini penting.” Seperti biasa, ustadz Kamal pasti cerewet pada hal-hal yang dianggap penting.
“ Namanya siapa Stadz?”
“ En, Aa, De, Ye, Aa.”
“ Nadya?” nama itu keluar spontan dari mulutku tanda aku terkejut.
“ Iya, Nadya. Masak kamu tidak mengenalnya. Itu loh Nadya si ketua WIHDAH.
“
Apa?” aku tak sanggup lagi meneruskan pembicaraan dengan Ustadz Kamal.
Jantungku terasa copot. Aku bagai disambar petir disiang bolong. Semua
persendianku melemah. Nama yang disebutkan Ustadz meluluh-lantakkan
saraf-sarafku. Nadya telah mengkhianatiku. Padahal empat tahun itu telah
aku lalui sesuai permintaannya. Tidak sabarkah ia menunggu tiga minggu
lagi. Atau Kairo telah merubah pendiriannya. Air mataku mengalir sebagai
bukti kesedihan. Sia-sia aku telah menunggu empat tahun ini.
“
Nadya… Kenapa kamu tega lakukan ini padaku? Apakah aku tidak pantas lagi
untuk mendampingmu? Karena aku tak punya nama di Kairo ini. Ataukah
menjadi Presiden PPMI adalah syarat untuk mempersuntingmu? Nadya, kalau
itu memang syaratnya kenapa kamu tidak bilang kepadaku dari dulu.
Menjadi Presiden PPMI tidaklah susah bagiku, jika itu adalah syarat
untuk mendapatkanmu. Nadya? Apa yang kamu ingin sebenarnya? Kenapa kamu
tega padamkan api cinta ini di ujung penantianku? Rasa perih dihatiku
tak bisa lagi maku tahan. Semuanya melebur menjadi tangisan dan ratapan.
“
Allahu, Allahu, Allahu…” Handphone ku berbunyi. Kulihat ada panggilan
dari ustadz Kamal. Segera kuusap mataku dan aku telan air liur yang
masih tersangkut di kerongkonganku. Aku harus tegar menerima kenyataan
ini. Aku tidak ingin Ustadz Kamal tau.
“ Ya, Assalamualaikum.”
“
Waalaikumsalam. Kamu tadi kenapa Syam? Kok langsung main matikan
handphone saja. Ya udah gak apa-apa. Tolong dilengkapi ya nama yang
tadi. Nadya binti Nasrullah. Sebab setahu Ustadz, mantan ketua WIHDAH
tahun lalu namanya juga Nadya, kalau nggak salah namanya…”
“ Nadya binti Abdullah.” Jawabku sigap. Memastikan bahwa Nadyaku bukanlah Nadya yang mau dikawini Ustadz Kamal Hermawan.
“ Bener.” Tanggap Ustadz Kamal tanpa merasakan apa-apa.
“ Oh, Nadyaku!” aku telah berburuk sangka pada Nadya, bisa jadi sekarang ia menanti kabar dariku. Tentang yang dulu.
“ Apa kamu bilang? Nadyamu?”
“ Iya…” jawabku tegas, seperti memainkan senior yang hampir saja meleburkan anganku itu.
“ Hei…” segera kupencet tombol off yang berwarna merah.
Ya
Allah. Engkau sembunyikan cahaya mentari dari pandanganku. Engkau
hadirkan awan hitam, petir dan kilat untuk mengujiku. Rupanya Engkau
ingin perlihatkan pelangi di langit hatiku.
Kairo, Januari 2005
Arti kata-kata :
- Ghirah : Semangat.
- Kinanah : Salah satu sebutan untuk Mesir.
- WIHDAH : Organisasi Keputrian mahasiswi Indonesia di Mesir.
- Bego’ : Bodoh.
- PPMI : Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia

No comments:
Post a Comment