Breaking News

Catatan A I R (Abuya Irfan Rahman)

Hidup Hanya Sekali - Hiduplah Untuk Menginspirasi Agar Kau Hidup Abadi

Thursday, September 6, 2018

Cerpen Perdana "Pelangi Tertutup Awan"

Bergegas kuturunkan koper Polo biru yang terbungkus plastik hitam dari atas lemari. Kutepiskan debu yang yang menempel.
“ Prakkkk. “ Bukan debu saja yang tersingkir, plastik hitam pembungkus koperpun robek. Wajar saja, selama empat tahun aku di Kairo baru satu kali aku mengganti plastik pengaman koper itu. Kubuka rasletingnya perlahan, semerbak bau wangi keluar dari dalam koper. Wangi itu sangat khas sekali, wanginya membawaku kepada memori empat tahun yang lalu. Auranya mengingatkanku ketika aku dilepas oleh orang-orang terdekatku dari bandara Tabing Padang. Aku masih ingat dengan pelukan hangat Papa dan Mama di hari perpisahan itu. Dan satu hal yang tak pernah aku lupa. Perkataan Papa di awal keberangkatan, sebagai jawaban keinginanku untuk mempersunting teman Aliyahku. Nadya, Sang Ketua Keputrian di OSIS yang aku kepalai. 


“ Syamil, Papa dan Mama tau akan niatmu yang suci itu. Namun, kami tidak bisa mengabulkannya pada saat ini.. Dan kemarin Papa telah menghubungi Pak Abdullah, papanya Nadya. Kami telah sepakat, bahwa kami setuju akan perjodohan kalian. Tapi dengan satu syarat.”
“ Syarat apa Pa?”
“ Selesaikanlah dulu kalian di Al-azhar. Papa dan Papa Nadya tidak mau melihat kalian berdua gagal. Kalian harus berhasil menggapai cita-cita. Bukankah kuliah di al-azhar adalah cita-cita kamu sewaktu kecil?”
“ Tapi Pa, Syamil belum tau akan bisa menjaga diri selama kuliah disana. Bagi Syamil biarlah kami hidup seadanya dari pada hidup yang tak menentu, apalagi hidup diluar negeri. Syamil takut jatuh ke lembah dosa, Pa”
“ Ini telah menjadi keputusan Papa dan Pak Abdullah.” Jawaban Papa menciutkan nyaliku.
“ Bagaimana dengan Nadya, Pa? Apa dia setuju? Selama di Kairo pasti banyak hal yang akan berubah.”

“ Tapi ini bukan semata-mata keputusan Papa dan Pak Abdullahm, ini adalah permintaan Nadya? Dan ini harus kalian jalani.”
“ Kalau memang ini permintaan Nadya, Syamil juga setuju, Pa.” jawabku sambil tersenyum malu.
“ Papa dan Mama bangga padamu, Nak. Kau cepat dewasa, dan beda sekali dengan anak-anak muda yang lain. Ghirah keislamanmu sangat kuat. Kau sudah bisa mengambil keputusan yang tepat untuk menjaga dirimu dari maksiat. Yakinlah, keputusan Papa dan Papa Nadya sangatlah tepat. Ini demi masa depan kalian yang cerah.”
“ Makasih Pa.”
Kata-kata itu memang tak pernah lupa dalam ingatanku. Ia bagaikan penyemangat jiwaku, ketika hatiku kendor dihantam badai keindahan bumi Kinanah. Baru kini aku sadari akan keinginanku yang terlalu cepat itu. Andai saja aku bersikeras untuk menikah sewaktu tamat aliyah dulu, mungkin kuliahku belum kelar seperti saat ini. Namun, entah mengapa aku jadi ragu akan keinginan itu. Aku ragu pada Nadya. Bagaimana tidak, Nanang sahabatku yang aktif di PPMI selalu membawa berita hangat tentang Nadya. Seminggu yang lalu ia bercerita tentang bidadariku itu.
“ Syamil, kau tau nggak? Nadya teman kita di sekolah dulu, sekarang jadi buah bibir masyarakat Kairo.”
“ Maksudmu?”
“ Setelah ia lengser dari ketua WIHDAH ia telah dilamar lima kali oleh para senior Kairo. Dan katanya lagi salah satu staf KBRI juga pernah melamarnya. Belum lagi para cowok-cowok nakal yang ingin jadi pacarnya. Tapi semuanya ditolak. Bego banget dia ya!”
“ Apa kamu bilang? Bego’?”
“ Ya iya lah. Kau tau nggak siapa saja yang melamarnya. Ustadz Rizki yang jago balaghah dan Sastra Arab, ustadz Syahroni sang pengonsep Bank Syari’ah. Bang Faisol mantan ketua PPMI juga. Semuanya kan orang-orang hebat, bro. Katanya orang-orang, kalau akhwat yang pulang dari Kairo belum mmenikah, pasti nanti di Indonesia bakal susah lakunya. Kau ingatkan dengan Kak Rina. Sampai sekarang ia belum menikah, padahal umurnya telah lebih dari tiga puluh tahun. Orang-orang Indonesia mana berani meminang gadis dari Kairo yang pada pintar dan dikenal shalehah.”
Ini bukan pertama kali aku mendengar berita dari Nanang. Telingaku sudah panas dari dulu, sejak Nadya menjadi utusan Kekeluargaan kami untuk menjadi kader di WIHDAH hingga ia telah jadi mantan ketua organisasi itu. Cerita-cerita tentangnya selalu sampai ketelingaku. Andai saja Nanang tau bahwa aku adalah calon suami Nadya, mungkin ia tak akan berani menceritakan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di PPMI dan WIHDAH. Apalagi cerita hangat tentanmg Nadya. nanang memang sangat aktif di organisasi manapun. Sementara aku, aku telah putuskan untuk tidak berorganisasi lagi setelah di Kairo. Aku lebih memilih menjadi seorang penerjemah buku. Walau sebenarnya statusku hanya sebagai pembantu Ustadz Kamal Hermawan yang kini menjadi Presiden PPMI Kairo. Beliau memang telah terikat dengan salah satu penerbit terkenal di Indonesia. Jadi, selama ia sibuk di PPMI tugas terjemah itu diserahkan padaku. Dan Alhamdulillah, dengan hasil terjemahan itu aku telah bisa membeli tiket pulang ke tanah air. Dua minggu lagi aku akan terbang meninggalkan Kairo, menuju negeri kelahiranku. Setelah seminggu bersama keluarga, rencananya aku akan melamar Nadya. Melamar bidadariku sejak aliyah dulu.
Segera kutepiskan bayangan tentang Nadya. Walau dibagaian hatiku yang lain aku telah ragu padanya, namun sudut hatiku yang paling dalam masih percaya akan janji yang telah keluarga kami sepakati. Aku tau betul tentang Nadya. Semoga saja ia tetap seperti Nadya yang dulu.
Kukeluarkan semua isi koper, surat-surat penting dan album yang aku bawa dari Indonesia masih tersusun rapi disana. Entah mengapa tiba-tiba saja aku ingin membuka album yang bersampul putih itu. Dihalaman pertama, fotoku dan keluarga masih terpasang rapi. Kubuka lembaran kedua, ada fotoku dan teman-teman OSIS dulu. Mataku langsung tertuju pada foto Nadya. Hatiku bergetar hebat ketika mataku dan matanya yang di foto beradu. Aku tak sanggup menatap mata itu. Mata hitamnya yang dihiasi bulu mata yang panjang dan lentik menatapku dengan tajam. Aku semakin gugup. Namun jilbabnya yang panjang dan dalam meneduhkan hatiku yang takut. Andai saja ia tau akan perasaanku saat ini, pasti akan kubisikan tentang cerita hati ini padanya. Ingin kukatakan bahwa aku telah berhasil menjalani tekad yang dulu pernah kami bina. Ingin segera kutagih tentang janji yang telah kujalani.
Namun entah mengapa aku menjadi gugup, padahal empat tahun itu telah aku lalui. Apakah karena aku tak pernah berjumpa dengannya, atau karena aku tak pernah menghubunginya selama di Kairo ini. Mungkinkah hati ini ragu karena aku tak pernah menanyakan akan hal itu padanya. Hanya satu yang menjadi keyakiananku, bahwa tidak berhubungan dengannya selama di Kairo ini adalah hal yang terbaik bagi hubunganku. Daripada syetan selalu akan menggodaku untuk bermaksiat kepada Pemilik Cinta.
“ Allahu, Allahu, Allahu……” Handphone ku berdering beriramakan nasyid Samy Yusuf. Langsung saja kuangkat, tanpa melihat siapa yang menelpon terlebih dulu.
“Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam, Syamil kamu sedang apa? Ustadz butuh bantuan kamu nih, sekalian mau menagih janjimu dulu.”
“ Janji apa Stadz? Aku sekarang lagi memasukan barang belanjaan untuk oleh-oleh yang mau dibawa ke Indonesia. Aku akan pulang dua minggu lagi.”
“ Oh ya! Tapi kamu nggak lupakan akan janji kamu dulu. Katanya kamu siap jadi ketua panitia kalau Ustadz menikah.”
“ Benarkah? Kapan akadnya Stadz?” aku senang sekali mendengar kabar gembira itu. Ustadz Kamal Hermawan, ketua PPMI dan mahasiswa pasca sarjana Universitas Al-azhar akan menikah. Ini pasti menjadi berita yang sangat heboh di kalangan Masisir ( Mahasiswa Mesir ). Ustadz Kamal adalah figur yang sangat popular di Mesir. Beliau bukan saja dikenal baik dikalangan mahasiswa tapi juga terkenal dikalangan Diplomat KBRI. Pestanya pasti sangat wah.
“ Seminggu lagi.”
“Insya Allah aku bisa Stadz.”
“ Gitu dong. Ustadz sangat berharap kamu yang jadi ketua panitiannya. Sebab kamu adalah orang yang paling dekat dengan Ustadz.”
“ Sip deh, tapi dengan siapa Stadz?” tanyaku penasaran.
“ Itu masih rahasia. Nanti kalau tiba waktunya akan Ustadz kasih tau.” Aku geleng-geleng kepala, kebiasaan merasiakan hal-hal penting tak pernah hilang dari seniorku itu. Sampai-sampai aku yang jadi ketua panitia untuk pernikahannya tidak dikasih tau siapa calonnya.
“ Iya deh kalau begitu.”
“ Kamu hubungi saja Nanang, semua biaya dan susunan panitia ada padanya. Ustadz percayakan pada kalian berdua. Ok.”
Segera kurubah jadwal belanjaanku, yang tadinya seminggu ini aku akan pergi foto-foto ketempat wisata terdekat, kini kuurungkan. Lagi pula masih ada waktu seminggu lagi setelah pernikahan Ustadz Kamal.
Dua hari telah kulewati tugas mulia ini. Semua panitia telah kuserahi tugas masing-masing. Mulai dari peminjaman Aula Masjid Assalam Nasr City, pemesanan katering ke catering paling terpercaya di Kairo, kateringnya Bunda Elfi. Sampai kepada pendekoran kamar pengantin dirumah yang baru disewa beberapa hari yang lalu oleh ustadz Kamal. Semuanya berjalan dengan lancar. Tinggal undangan yang akan aku buat dan desain sendiri. Besok undangan itu harus telah disebarkan. Pestanya besar-besaran, bahkan paling wah setauku. Undangannya saja untuk seribu lima ratus orang. Hampir sama dengan porsi jama’ah shalat Idul Fitri masyarakat Indonesia di Kairo yang berjumlah kurang lebih dua ribu orang.
Kuhidupkan laptop acer kesayanganku, segera kupilih program Microsoft Office Publisher 2007. Belum lagi sempat aku memulainya, aku teringat akan nama calon isteri ustadz Kamal. Aku belum tau tentang nama itu. Aku yakin, calonnya bukan akhwat sembarangan. Buktinya saja, sampai saat ini Ustadz Kamal masih merahasiakannya kepada kami. Padahal waktunya sudah dekat. Begitu sangat berharganya calon isterinya bagi seniorku yang telah empat tahun membimbingku.
Kusambar si Panda 6600 yang berada disampingku.
“ Assalamu’alaikum…”
“ Wa’alaikumsalam, sehat Stadz.” Sapaku penuh hormat.
“ Alhamdulillah, ada apa nih? Ada masalah?”
“ Iya. Kayaknya hari Ahad nanti pernikahan Ustadz nggak jadi deh. Soalnya…”
“ Soalnya kenapa?” Ustadz Kamal berhasil kubuat kaget. Walau aku sangat hormat pada kepribadiannya, namun aku masih bisa bercanda dengannya. Karena kami telah seperti adik dan kakak saja.
“ Karena aku belum tau nama calonnya isteri Ustadz. Sementara undangan sudah harus disebar besok.”
“ Kamu nih Syamil, bikin Ustadz takut saja. Ustadz kira ada apa-apa. Baiklah kalau begitu. Kamu siapkan pulpen ya.”
“ Ok.”
“ Jangan sampai salah menulisnya, ini penting.” Seperti biasa, ustadz Kamal pasti cerewet pada hal-hal yang dianggap penting.
“ Namanya siapa Stadz?”
“ En, Aa, De, Ye, Aa.”
“ Nadya?” nama itu keluar spontan dari mulutku tanda aku terkejut.
“ Iya, Nadya. Masak kamu tidak mengenalnya. Itu loh Nadya si ketua WIHDAH.
“ Apa?” aku tak sanggup lagi meneruskan pembicaraan dengan Ustadz Kamal. Jantungku terasa copot. Aku bagai disambar petir disiang bolong. Semua persendianku melemah. Nama yang disebutkan Ustadz meluluh-lantakkan saraf-sarafku. Nadya telah mengkhianatiku. Padahal empat tahun itu telah aku lalui sesuai permintaannya. Tidak sabarkah ia menunggu tiga minggu lagi. Atau Kairo telah merubah pendiriannya. Air mataku mengalir sebagai bukti kesedihan. Sia-sia aku telah menunggu empat tahun ini.
“ Nadya… Kenapa kamu tega lakukan ini padaku? Apakah aku tidak pantas lagi untuk mendampingmu? Karena aku tak punya nama di Kairo ini. Ataukah menjadi Presiden PPMI adalah syarat untuk mempersuntingmu? Nadya, kalau itu memang syaratnya kenapa kamu tidak bilang kepadaku dari dulu. Menjadi Presiden PPMI tidaklah susah bagiku, jika itu adalah syarat untuk mendapatkanmu. Nadya? Apa yang kamu ingin sebenarnya? Kenapa kamu tega padamkan api cinta ini di ujung penantianku? Rasa perih dihatiku tak bisa lagi maku tahan. Semuanya melebur menjadi tangisan dan ratapan.
“ Allahu, Allahu, Allahu…” Handphone ku berbunyi. Kulihat ada panggilan dari ustadz Kamal. Segera kuusap mataku dan aku telan air liur yang masih tersangkut di kerongkonganku. Aku harus tegar menerima kenyataan ini. Aku tidak ingin Ustadz Kamal tau.
“ Ya, Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam. Kamu tadi kenapa Syam? Kok langsung main matikan handphone saja. Ya udah gak apa-apa. Tolong dilengkapi ya nama yang tadi. Nadya binti Nasrullah. Sebab setahu Ustadz, mantan ketua WIHDAH tahun lalu namanya juga Nadya, kalau nggak salah namanya…”
“ Nadya binti Abdullah.” Jawabku sigap. Memastikan bahwa Nadyaku bukanlah Nadya yang mau dikawini Ustadz Kamal Hermawan.
“ Bener.” Tanggap Ustadz Kamal tanpa merasakan apa-apa.
“ Oh, Nadyaku!” aku telah berburuk sangka pada Nadya, bisa jadi sekarang ia menanti kabar dariku. Tentang yang dulu.
“ Apa kamu bilang? Nadyamu?”
“ Iya…” jawabku tegas, seperti memainkan senior yang hampir saja meleburkan anganku itu.
“ Hei…” segera kupencet tombol off yang berwarna merah.
Ya Allah. Engkau sembunyikan cahaya mentari dari pandanganku. Engkau hadirkan awan hitam, petir dan kilat untuk mengujiku. Rupanya Engkau ingin perlihatkan pelangi di langit hatiku.

Kairo, Januari 2005


Arti kata-kata :
- Ghirah : Semangat.
- Kinanah : Salah satu sebutan untuk Mesir.
- WIHDAH : Organisasi Keputrian mahasiswi Indonesia di Mesir.
- Bego’ : Bodoh.
- PPMI : Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia

No comments:

Post a Comment

Designed By