Entah pada siapa akan ku ceritakan? Tentang hati yang
masih terpenjara sepi, tentang cinta yang masih pudarkan warna pelangi.
Kulangkahkan kaki, namun mataku masih terpejam perih. Mengingat cerita
duka yang belum usai dan terus mendekati. Kucoba untuk terus berdiri,
namun ombak berapi menghantamku kini.
Entah kapan waktu itu akan
datang, sementara malam masih terus kelam, hitamnya menyerang kaburkan
cahaya yang masih ku genggam. Dan kutakut dinginnya akan menusuk
pori-pori kehidupan, sehingga ku menggigil tuk gapai hari esok yang
penuh sinar harapan.
Mengharapkan munculnya rembulan, tentulah
sebuah khayalan, sebab umurku kini bak sepertiga malam. Sepertiga malam
yang tak berbintang. Hanya do'a di dua rakaatku yang selalu kuhaturkan.
Tuhan.
Walau
malam ini tiada rembulan, namun jangan engkau padamkan cahaya-Mu yang
selalu kugenggam, agar kubisa terus putarkan roda kehidupanku dengan
senyuman.
Tuhan.
Walau malam ini dinginnya menusuk
ketulang, namun jangan engkau biarkan aku menggigil kedinginan. Agar
kubisa untuk bangun kembali menyemai benih kehidupan.
Tuhan
Biarlah
malam terus dinginkankan hatiku. Biarlah rembulan tak akan hadir
menerangi lorong anganku, Biarlah bebintang tak akan pernah berkedip di
rongga jiwaku.
Namun, tetap satu yang selalu menjadi keyakinanku,
esok mentari pasti akan menyinari ragaku. Sinarnya akan terangi rongga
jiwaku , cahayanya akan masuk kelorong anganku, hingga hatiku tak akan
pernah jadi beku.
Iya, hanya itu yang
selalu terpatri dalam hatiku. Sampai-sampai orang tuaku jadi malu bila
orang sekampung menanyakan perihal itu. Perihal yang juga aku malu bila
seandainya kawan-kawan di Kairo tau. Lulusan Al-azhar, sekarang sudah
berkepala tiga, namun belum jadi kepala rumah tangga. Untung saja aku
tinggal di daerah dimana kawan-kawan Kairo jarang sekali berasal dari
tanah kelahiranku. Kalau tidak, pasti kelajanganku akan sampai ketelinga
mereka.
Aku memang tak seberuntung teman-temanku waktu aliyah
dulu. Setelah tamat, mereka langsung melamar kerja di PEMDA. Kabupaten
kami waktu itu baru berumur 3 bulan dan baru memisahkan diri dari
Kabupaten Induk. Sementara aku melanjutkan study di Al-azhar-Mesir. Aku
prihatin melihat sinar agama Islam yang telah redup dikampungku. Bisa
dibilang dari 5 orang warga dikampungku, kemungkinan hanya satu atau dua
orang yang masih sembahyang.
Enam tahun di Mesir telah kulewati
dan empat tahun aku telah berjuang di negeri ini. Negeri yang telah
dijuluki dengan Dollar Sumatera. Seperti yang diimpikan oleh masyarakat
kampungku. Pembangunan semakin pesat, jalan Lintas Sumatera semakin
lebar dan ramai. Pasar yang luas, serta rakyatnya yang suka berdagang
membuat kota ini tampak seperti Pasar Malam bila kelam telah datang.
Sampai-sampai
aku telah merasa asing di negeriku sendiri. Dakwahku di Mesjid-mesjid
dan mengajari anak-anak mengaji malah menjadi bahan cemoohan dimata
orang kampungku. Pekerjan yang mulia itu dianggap hina karena tidak
menghasilkan uang. Awalnya aku biasa-biasa saja. Dan tak aku hiraukan
omongan mereka. walau terkadang mereka telah memfitnahku dengan yang
bukan-bukan. Hingga hari ini, ketika Ibu mengjakku bicara.
" Nak, kapan kamu menikah?" pertanyaan Ibu membuatku tersentak.
"
Ibu malu Nak, orang-orang selalu bertanya tentang itu pada ibu. Sudah
empat tahun kamu disini, tapi kamu belum bilang dan ceritakan tentang
hal itu pada ibu. "
" Maafkan Ananda Bu. Bukan Ananda belum cerita pada ibu, tapi Ananda memang belum ada calon. "
" Yang benar? "
" Iya Bu…" jawabku dengan polos.
" Kawan kuliahmu dulu di Mesir juga tidak ada?"
Aku
menggeleng. Angin kencang yang berhembus dari arah sungai Batang Hari
membelai mesra pipiku. Aura dinginnya membawaku kembali pada peristiwa
di lembah Nil dulu. Usai shalat Isya aku ada janji dengan Bang Faishol
dirumahnya, dikawasan Swesry A. Aku melangkah penuh mantap, semantap
hatiku untuk melamar seorang gadis dari Padang Panjang. Semua kata telah
kupersiapkan seperti seorang khatib yang akan khutbah jum'at. Shalat
istikharah sudah kulakukan hampir penuh dua minggu. Hatiku semakin
mantap untuk maju. Dan sebentar lagi niat itu akan ku utarakan pada Bang
Faishol, yang masih ada pertalian darah dengan bakal calon isteriku.
Sesampai dirumahnya, ku ketuk pintu penuh malu. Bang Faishol pun
menyahut dari dalam, dan mengintruksikan bahwa aku disuruh menunggu
sebentar. Ini sudah menjadi adat bila bertamu kerumah para Usrah. Aku
maklum. Tiba-tiba ponselku berbunyi, private number. Ini telepon dari
Indonesia.
" Halo!!! "
" Fadhli, ini Pak Odang. Ayahmu
tadi pagi telah mendahului kita, beliau jatuh dari tangga rumah ketika
hendak pergi shalat shubuh. Pak Odang berharap agar kamu tabah atas
musibah ini."
Tanpa sempat mulutku membalas kata-kata dari Abang
Ayahku itu, puncak kesedihanku datang untuk meluluh-lantakan
persendianku. Tapi aku berusaha tegar. Namun air mata bukti kesucian
cintaku pada Ayah tak bisa kubendung, kini ia mengalir sederas sedih
yang terus menusuk hatiku. Tanpa aba-aba, aku berlari meninggalkan rumah
Bang Faishol. Aku terus berlari hingga sampai di Suq Sayarat. Disana
kuhempaskan tangis sejadi-jadinya. Ingatanku hanya satu, cepat selesai
kuliah dan berbakti pada Ibu. Satu-satunya orang tuaku yang masih hidup.
" Fadhli, kamu kenapa Nak? " suara Ibu menyadarkan aku dari lamunan. Aku angkat kepalaku.
" Benar tidak ada calon dari Mesir?" Ibu memastikan kembali.
Aku kembali menggeleng.
Pagi
itu, ibu memberi tau ku bahwa beliau akan pergi kerumah Datuak Rajo
Panghulu. Ibu rencananya akan meminangkan keponakan Penghulu itu
untukku. Aku menurut saja. Aku yakin Ibu akan memilihkan yang terbaik
untuk putra Ibu satu-satunya. Ba'da Zuhur ibu telah sampai dirumah. Kata
ibu, nanti utusan mereka yang akan memberikan jawabannya langsung
kepadaku. Aku disuruh ibu untuk menunggu mereka di depan swalayan Batang
Hari, dekat dengan Mushalla tempat aku jadi Imam, setelah shalat Isya.
Seharian
kujalani hari dan tugas mengajarku di Mushalla Al-falah dengan kikuk,
aku jadi grogi menjalani semua ini. Seolah-olah ada suasana baru yang
menelusup kerelung hatiku. Ada rasa bahagia yang ingin menjelma di raut
wajahku, namun tak mampu aku lukiskan. Dan ada rasa takut yang datang,
tapi aku kalut untuk ungkapkan. Hanya pikiranku yang selalu berlari-lari
dari tadi, ingin ia menerobos apa yang akan terjadi malam ini, namun
masih tetap saja kabur.
Shalat Isya di Mushalla Al-Falah, ku
Imami dengan khusyuk. Air mataku menetes ketika do'aku di sujud terakhir
kulantunkan penuh harap. Tangisku kembali terisak waktu do'a ba'da
shalat fardu kusampaikan pada Allah SWT dengan sesungguh hati.
Satu
persatu jama'ah mulai meninggalkan Mushalla, ada yang telah sampai
dijalan Lintas. Sementara sebagiannya masih sibuk mendaki anak tangga.
Sebab Mushalla kami terletak 15 meter di bawah jalan Lintas Sumatera.
Swalayan Batang Hari tampak semakin ramai didatangi pengunjung. Swalayan
itu terletak pas di tepi Lintas, tak jauh dari Mushalla ini.
Aku
lansung menuju kesana, mungkin utusan mereka telah menunggu di
Swalayan. Baru saja aku berhasil menyelesaikan anak tangga paling atas,
sepasang suami isteri separuh baya telah menungguku. Seorang gadis
beljilbab agak dalam dan tiga orang temannya tanpa hijab kepala ikut
berdiri dibelakang mereka. Mereka ini pasti keluarga calonku. Kuucapkan
salam pembuka bicara. Namun Bapak yang didepanku telah memotong salamku.
Tanpa menjawabnya lebih dulu.
" Hei anak muda ! Apakah kau tidak bercermin sebelum bertindak? "
" Apa maksud Bapak? " aku terkejut mendengar pertanyaan mendadak itu, tapi aku berusaha tenang dan bersahabat.
"
Orang tuamu berani-beraninya melamar Putriku untukmu. Apakah telinga
kau tuli? Sehingga kau tidak mendengar ocehan orang kampung tentang
perangaimu. Pulang dari Mesir bukannya membangun moral kampung, tapi
malah kau yang merusak akhlak kampung ini. Semua orang mengatakan kau
telah mencabuli anak-anak yang belajar ngaji denganmu. "
" Apa yang Bapak katakan? Aku tidak mengerti? "
"
Jangan berpura-pura sok Alim kau. Hei, ingat! Apakah kau kira cukup
untuk membiyai anakku hanya dengan modal mengajar ngaji saja? Lebih baik
kau ulangi saja sekolahmu dari ibtidaiah. Dari pada kau sekarang
mengajarkan agama sesat di kampung kita. Lihatlah, celanamu sekarang tak
sampai ke mata kaki. Jenggotmu panjang seperti kambing hutan. Ajaran
apa yang kau bawa? Apa kau belajar menjadi teroris di Mesir sana? Waktu
kau baru pulang dulu, memang banyak orang yang ingin mengambilmu jadi
menantu. Tapi kenyataannya sekarang , mencari pekerjaan saja kau tidak
bisa. Orang saja yang tidak kuliah bisa bekerja, kau malah memilih untuk
bermain-main dengan anak didikmu. Laki-laki macam apa kau? " telingaku
panas mendengar perkatannya yang tak jelas. Itu semua fitnah. Tapi aku
tersadar, kiranya inilah yang selalu menjadi pangkal cemoohan orang
kampung terhadapku. Dan sekarang aku juga telah difitnah mencabuli anak
mengajiku. Astaghfirullah…
" Hei Bang Ustad, jangan Abang kira
aku mau dengan Abang. Abang sangka dengan Gelar Luar Negeri Abang itu ,
Abang bisa melamar gadis yang Abang Ustad suka? Ngaca dong Stad… Jadi
guru ngaji itu tak akan bisa menghidupiku. Atau abang kira,
kertas-kertas Al-Qur'an itu bisa berubah menjadi Dollar? "
" Hei
diam kau !!! " Kutunjuk dan kudekati gadis berjilbab pendek yang baru
saja berkomentar itu dengan penuh amarah. Aku kehilangan kontrol.
Ternyata ia lebih ganas dari pada ayahnya. Ia boleh saja mencaciku
sepuas hatinya, tapi jangan sekali-kali berani menginjak-injak Al-Quran
di depan mataku. Aku tidak bisa membiarkan itu. Walaupun yang berbicara
itu adalah gadis yang dipilihkan Ibu untukku. Aku tau, ini bukan salah
Ibuku, sebab mencari gadis berkerudung saja memang susah disini. Memang
banyak yang pakai jilbab , tapi itu hanya waktu pergi sekolah atau ke
kantor.
Gadis itu menjerit ketakutan. Tiba-tiba segerombolan
preman muncul dari arah Swalayan Batang Hari. Satu pukulan keras dari
ayah gadis itu telah mendarat di pipiku. Segerombolan preman itu
langsung menyerbu ke arahku. Aku diam terpaku kaku. Hanya do'a yang
sempat kuselipkan diantara keteganganku. Ya Allah, selamatkan aku dari
kaum yang zalim. Belum sempat aku melakukan apa-apa. Belasan pukulan dan
tendangan telah mematahkan seluruh persendianku. Aku roboh dipinggir
jalan. Sayup-sayup aku mendengar teriakan lantang dari mulut mereka.
"
Bunuh saja Pencabul itu. Kalau tidak, anak-anak kita akan banyak jadi
korban lagi karena perangainya. Ayo,,, bunuh saja!!! " Serempak suara
mereka menyentakan tali nadiku, lagi-lagi batinku mengadu pada Yang Maha
Kuasa. Ini adalah Fitnah…
Tak terhitung lagi, entah telah berapa
banyak tendangan mereka menghantam tubuhku, hingga akhirnya pandanganku
kelam. Buang saja dia ke sungai Batang Hari, biar bangkainya dimakan
buaya Jambi. Putus-putus kudengar ucapan itu, telingaku masih berfungsi.
Aku diseret kearah sungai yang letaknya hampir lima ratus meter dari
tempat ini.
Badanku tergoyang-goyang lembut dan tergontai-gontai,
karena preman yang menyeretku setengah berlari. Seoalah-olah aku sedang
berada diatas Qithar Mesir yang sedang membawaku pulang ke Hay Tsamin
dari Maidan Roxy. Didepan Kuliyatul Banat aku melihat segerombolan
mahasiswi Indonesia berbaju hitam dan memakai jilbab serta niqab putih.
Pemandangan itu sangat indah kurasakan. Lalu kuambil secarik kertas yang
telah lusuh. Kutulis dengan pena penyesalan dan berurai air mata….
Andai dulu di Kairo aku menikah.
Mungkin bunga cinta ini tak akan menemui nestapa.
Ia akan tetap mekar walau diri dirundung derita.
Karena air penyiramnya diambilkan dari sungai Nil yang berkah.
Bukan dari sungai Batang Hari yang kini telah mulai bersampah.
Andai dulu di Kairo aku menikah.
Mungkin lambung cinta ini tak akan pernah terluka.
Ia akan tetap terjaga walau makan hanya dengan sebutir telur dikeping dua.
Karena uang untuk membelinya dikumpulkan dari sisa ongkos kuliah.
Bukan dari Dollar yang dikejar dengan ijazah.
Andai dulu di Kairo aku menikah.
Mungkin aku akan bahagia bana.
Rumah tangga ku akan benderang dan berkilau indah.
Karena mata gadisnya berkilau bak permata Asfour dari Shubra.
Bukan silau karena melihat kilauanya dunia beserta iisinya.
Buat kawan-kawan di Kairo
Yang belum menikah…
Pernah dimuat di Majalah MITRA ( Majalah Mahasiswa Minangkabau di Mesir)
Dan juga pernah dimuat di Situs Cimbuak.net ( Salah satu Situs Terpopuler Orang Minangkabau)
*** Abuya 'Ain Syams.
25 Desember 2008
Cat

No comments:
Post a Comment