Breaking News

Catatan A I R (Abuya Irfan Rahman)

Hidup Hanya Sekali - Hiduplah Untuk Menginspirasi Agar Kau Hidup Abadi

Thursday, September 6, 2018

Cerpen "Andai Dulu Di Kairo Aku Menikah"

Entah pada siapa akan ku ceritakan? Tentang hati yang masih terpenjara sepi, tentang cinta yang masih pudarkan warna pelangi. Kulangkahkan kaki, namun mataku masih terpejam perih. Mengingat cerita duka yang belum usai dan terus mendekati. Kucoba untuk terus berdiri, namun ombak berapi menghantamku kini.

Entah kapan waktu itu akan datang, sementara malam masih terus kelam, hitamnya menyerang kaburkan cahaya yang masih ku genggam. Dan kutakut dinginnya akan menusuk pori-pori kehidupan, sehingga ku menggigil tuk gapai hari esok yang penuh sinar harapan.

Mengharapkan munculnya rembulan, tentulah sebuah khayalan, sebab umurku kini bak sepertiga malam. Sepertiga malam yang tak berbintang. Hanya do'a di dua rakaatku yang selalu kuhaturkan.

Tuhan.

Walau malam ini tiada rembulan, namun jangan engkau padamkan cahaya-Mu yang selalu kugenggam, agar kubisa terus putarkan roda kehidupanku dengan senyuman.

Tuhan.

Walau malam ini dinginnya menusuk ketulang, namun jangan engkau biarkan aku menggigil kedinginan. Agar kubisa untuk bangun kembali menyemai benih kehidupan.

Tuhan

Biarlah malam terus dinginkankan hatiku. Biarlah rembulan tak akan hadir menerangi lorong anganku, Biarlah bebintang tak akan pernah berkedip di rongga jiwaku.

Namun, tetap satu yang selalu menjadi keyakinanku, esok mentari pasti akan menyinari ragaku. Sinarnya akan terangi rongga jiwaku , cahayanya akan masuk kelorong anganku, hingga hatiku tak akan pernah jadi beku.

Iya, hanya itu yang selalu terpatri dalam hatiku. Sampai-sampai orang tuaku jadi malu bila orang sekampung menanyakan perihal itu. Perihal yang juga aku malu bila seandainya kawan-kawan di Kairo tau. Lulusan Al-azhar, sekarang sudah berkepala tiga, namun belum jadi kepala rumah tangga. Untung saja aku tinggal di daerah dimana kawan-kawan Kairo jarang sekali berasal dari tanah kelahiranku. Kalau tidak, pasti kelajanganku akan sampai ketelinga mereka.

Aku memang tak seberuntung teman-temanku waktu aliyah dulu. Setelah tamat, mereka langsung melamar kerja di PEMDA. Kabupaten kami waktu itu baru berumur 3 bulan dan baru memisahkan diri dari Kabupaten Induk. Sementara aku melanjutkan study di Al-azhar-Mesir. Aku prihatin melihat sinar agama Islam yang telah redup dikampungku. Bisa dibilang dari 5 orang warga dikampungku, kemungkinan hanya satu atau dua orang yang masih sembahyang.

Enam tahun di Mesir telah kulewati dan empat tahun aku telah berjuang di negeri ini. Negeri yang telah dijuluki dengan Dollar Sumatera. Seperti yang diimpikan oleh masyarakat kampungku. Pembangunan semakin pesat, jalan Lintas Sumatera semakin lebar dan ramai. Pasar yang luas, serta rakyatnya yang suka berdagang membuat kota ini tampak seperti Pasar Malam bila kelam telah datang.

Sampai-sampai aku telah merasa asing di negeriku sendiri. Dakwahku di Mesjid-mesjid dan mengajari anak-anak mengaji malah menjadi bahan cemoohan dimata orang kampungku. Pekerjan yang mulia itu dianggap hina karena tidak menghasilkan uang. Awalnya aku biasa-biasa saja. Dan tak aku hiraukan omongan mereka. walau terkadang mereka telah memfitnahku dengan yang bukan-bukan. Hingga hari ini, ketika Ibu mengjakku bicara.

" Nak, kapan kamu menikah?" pertanyaan Ibu membuatku tersentak.

" Ibu malu Nak, orang-orang selalu bertanya tentang itu pada ibu. Sudah empat tahun kamu disini, tapi kamu belum bilang dan ceritakan tentang hal itu pada ibu. "

" Maafkan Ananda Bu. Bukan Ananda belum cerita pada ibu, tapi Ananda memang belum ada calon. "

" Yang benar? "

" Iya Bu…" jawabku dengan polos.

" Kawan kuliahmu dulu di Mesir juga tidak ada?"

Aku menggeleng. Angin kencang yang berhembus dari arah sungai Batang Hari membelai mesra pipiku. Aura dinginnya membawaku kembali pada peristiwa di lembah Nil dulu. Usai shalat Isya aku ada janji dengan Bang Faishol dirumahnya, dikawasan Swesry A. Aku melangkah penuh mantap, semantap hatiku untuk melamar seorang gadis dari Padang Panjang. Semua kata telah kupersiapkan seperti seorang khatib yang akan khutbah jum'at. Shalat istikharah sudah kulakukan hampir penuh dua minggu. Hatiku semakin mantap untuk maju. Dan sebentar lagi niat itu akan ku utarakan pada Bang Faishol, yang masih ada pertalian darah dengan bakal calon isteriku. Sesampai dirumahnya, ku ketuk pintu penuh malu. Bang Faishol pun menyahut dari dalam, dan mengintruksikan bahwa aku disuruh menunggu sebentar. Ini sudah menjadi adat bila bertamu kerumah para Usrah. Aku maklum. Tiba-tiba ponselku berbunyi, private number. Ini telepon dari Indonesia.

" Halo!!! "

" Fadhli, ini Pak Odang. Ayahmu tadi pagi telah mendahului kita, beliau jatuh dari tangga rumah ketika hendak pergi shalat shubuh. Pak Odang berharap agar kamu tabah atas musibah ini."

Tanpa sempat mulutku membalas kata-kata dari Abang Ayahku itu, puncak kesedihanku datang untuk meluluh-lantakan persendianku. Tapi aku berusaha tegar. Namun air mata bukti kesucian cintaku pada Ayah tak bisa kubendung, kini ia mengalir sederas sedih yang terus menusuk hatiku. Tanpa aba-aba, aku berlari meninggalkan rumah Bang Faishol. Aku terus berlari hingga sampai di Suq Sayarat. Disana kuhempaskan tangis sejadi-jadinya. Ingatanku hanya satu, cepat selesai kuliah dan berbakti pada Ibu. Satu-satunya orang tuaku yang masih hidup.

" Fadhli, kamu kenapa Nak? " suara Ibu menyadarkan aku dari lamunan. Aku angkat kepalaku.

" Benar tidak ada calon dari Mesir?" Ibu memastikan kembali.

Aku kembali menggeleng.

Pagi itu, ibu memberi tau ku bahwa beliau akan pergi kerumah Datuak Rajo Panghulu. Ibu rencananya akan meminangkan keponakan Penghulu itu untukku. Aku menurut saja. Aku yakin Ibu akan memilihkan yang terbaik untuk putra Ibu satu-satunya. Ba'da Zuhur ibu telah sampai dirumah. Kata ibu, nanti utusan mereka yang akan memberikan jawabannya langsung kepadaku. Aku disuruh ibu untuk menunggu mereka di depan swalayan Batang Hari, dekat dengan Mushalla tempat aku jadi Imam, setelah shalat Isya.

Seharian kujalani hari dan tugas mengajarku di Mushalla Al-falah dengan kikuk, aku jadi grogi menjalani semua ini. Seolah-olah ada suasana baru yang menelusup kerelung hatiku. Ada rasa bahagia yang ingin menjelma di raut wajahku, namun tak mampu aku lukiskan. Dan ada rasa takut yang datang, tapi aku kalut untuk ungkapkan. Hanya pikiranku yang selalu berlari-lari dari tadi, ingin ia menerobos apa yang akan terjadi malam ini, namun masih tetap saja kabur.

Shalat Isya di Mushalla Al-Falah, ku Imami dengan khusyuk. Air mataku menetes ketika do'aku di sujud terakhir kulantunkan penuh harap. Tangisku kembali terisak waktu do'a ba'da shalat fardu kusampaikan pada Allah SWT dengan sesungguh hati.

Satu persatu jama'ah mulai meninggalkan Mushalla, ada yang telah sampai dijalan Lintas. Sementara sebagiannya masih sibuk mendaki anak tangga. Sebab Mushalla kami terletak 15 meter di bawah jalan Lintas Sumatera. Swalayan Batang Hari tampak semakin ramai didatangi pengunjung. Swalayan itu terletak pas di tepi Lintas, tak jauh dari Mushalla ini.

Aku lansung menuju kesana, mungkin utusan mereka telah menunggu di Swalayan. Baru saja aku berhasil menyelesaikan anak tangga paling atas, sepasang suami isteri separuh baya telah menungguku. Seorang gadis beljilbab agak dalam dan tiga orang temannya tanpa hijab kepala ikut berdiri dibelakang mereka. Mereka ini pasti keluarga calonku. Kuucapkan salam pembuka bicara. Namun Bapak yang didepanku telah memotong salamku. Tanpa menjawabnya lebih dulu.

" Hei anak muda ! Apakah kau tidak bercermin sebelum bertindak? "

" Apa maksud Bapak? " aku terkejut mendengar pertanyaan mendadak itu, tapi aku berusaha tenang dan bersahabat.

" Orang tuamu berani-beraninya melamar Putriku untukmu. Apakah telinga kau tuli? Sehingga kau tidak mendengar ocehan orang kampung tentang perangaimu. Pulang dari Mesir bukannya membangun moral kampung, tapi malah kau yang merusak akhlak kampung ini. Semua orang mengatakan kau telah mencabuli anak-anak yang belajar ngaji denganmu. "

" Apa yang Bapak katakan? Aku tidak mengerti? "

" Jangan berpura-pura sok Alim kau. Hei, ingat! Apakah kau kira cukup untuk membiyai anakku hanya dengan modal mengajar ngaji saja? Lebih baik kau ulangi saja sekolahmu dari ibtidaiah. Dari pada kau sekarang mengajarkan agama sesat di kampung kita. Lihatlah, celanamu sekarang tak sampai ke mata kaki. Jenggotmu panjang seperti kambing hutan. Ajaran apa yang kau bawa? Apa kau belajar menjadi teroris di Mesir sana? Waktu kau baru pulang dulu, memang banyak orang yang ingin mengambilmu jadi menantu. Tapi kenyataannya sekarang , mencari pekerjaan saja kau tidak bisa. Orang saja yang tidak kuliah bisa bekerja, kau malah memilih untuk bermain-main dengan anak didikmu. Laki-laki macam apa kau? " telingaku panas mendengar perkatannya yang tak jelas. Itu semua fitnah. Tapi aku tersadar, kiranya inilah yang selalu menjadi pangkal cemoohan orang kampung terhadapku. Dan sekarang aku juga telah difitnah mencabuli anak mengajiku. Astaghfirullah…

" Hei Bang Ustad, jangan Abang kira aku mau dengan Abang. Abang sangka dengan Gelar Luar Negeri Abang itu , Abang bisa melamar gadis yang Abang Ustad suka? Ngaca dong Stad… Jadi guru ngaji itu tak akan bisa menghidupiku. Atau abang kira, kertas-kertas Al-Qur'an itu bisa berubah menjadi Dollar? "

" Hei diam kau !!! " Kutunjuk dan kudekati gadis berjilbab pendek yang baru saja berkomentar itu dengan penuh amarah. Aku kehilangan kontrol. Ternyata ia lebih ganas dari pada ayahnya. Ia boleh saja mencaciku sepuas hatinya, tapi jangan sekali-kali berani menginjak-injak Al-Quran di depan mataku. Aku tidak bisa membiarkan itu. Walaupun yang berbicara itu adalah gadis yang dipilihkan Ibu untukku. Aku tau, ini bukan salah Ibuku, sebab mencari gadis berkerudung saja memang susah disini. Memang banyak yang pakai jilbab , tapi itu hanya waktu pergi sekolah atau ke kantor.

Gadis itu menjerit ketakutan. Tiba-tiba segerombolan preman muncul dari arah Swalayan Batang Hari. Satu pukulan keras dari ayah gadis itu telah mendarat di pipiku. Segerombolan preman itu langsung menyerbu ke arahku. Aku diam terpaku kaku. Hanya do'a yang sempat kuselipkan diantara keteganganku. Ya Allah, selamatkan aku dari kaum yang zalim. Belum sempat aku melakukan apa-apa. Belasan pukulan dan tendangan telah mematahkan seluruh persendianku. Aku roboh dipinggir jalan. Sayup-sayup aku mendengar teriakan lantang dari mulut mereka.

" Bunuh saja Pencabul itu. Kalau tidak, anak-anak kita akan banyak jadi korban lagi karena perangainya. Ayo,,, bunuh saja!!! " Serempak suara mereka menyentakan tali nadiku, lagi-lagi batinku mengadu pada Yang Maha Kuasa. Ini adalah Fitnah…

Tak terhitung lagi, entah telah berapa banyak tendangan mereka menghantam tubuhku, hingga akhirnya pandanganku kelam. Buang saja dia ke sungai Batang Hari, biar bangkainya dimakan buaya Jambi. Putus-putus kudengar ucapan itu, telingaku masih berfungsi. Aku diseret kearah sungai yang letaknya hampir lima ratus meter dari tempat ini.

Badanku tergoyang-goyang lembut dan tergontai-gontai, karena preman yang menyeretku setengah berlari. Seoalah-olah aku sedang berada diatas Qithar Mesir yang sedang membawaku pulang ke Hay Tsamin dari Maidan Roxy. Didepan Kuliyatul Banat aku melihat segerombolan mahasiswi Indonesia berbaju hitam dan memakai jilbab serta niqab putih. Pemandangan itu sangat indah kurasakan. Lalu kuambil secarik kertas yang telah lusuh. Kutulis dengan pena penyesalan dan berurai air mata….

Andai dulu di Kairo aku menikah.

Mungkin bunga cinta ini tak akan menemui nestapa.

Ia akan tetap mekar walau diri dirundung derita.

Karena air penyiramnya diambilkan dari sungai Nil yang berkah.

Bukan dari sungai Batang Hari yang kini telah mulai bersampah.

Andai dulu di Kairo aku menikah.

Mungkin lambung cinta ini tak akan pernah terluka.

Ia akan tetap terjaga walau makan hanya dengan sebutir telur dikeping dua.

Karena uang untuk membelinya dikumpulkan dari sisa ongkos kuliah.

Bukan dari Dollar yang dikejar dengan ijazah.

Andai dulu di Kairo aku menikah.

Mungkin aku akan bahagia bana.

Rumah tangga ku akan benderang dan berkilau indah.

Karena mata gadisnya berkilau bak permata Asfour dari Shubra.

Bukan silau karena melihat kilauanya dunia beserta iisinya.

Buat kawan-kawan di Kairo

Yang belum menikah…

Pernah dimuat di Majalah MITRA ( Majalah Mahasiswa Minangkabau di Mesir)
Dan juga pernah dimuat di Situs Cimbuak.net ( Salah satu Situs Terpopuler Orang Minangkabau)
*** Abuya 'Ain Syams.
25 Desember 2008

Cat

No comments:

Post a Comment

Designed By