Breaking News

Catatan A I R (Abuya Irfan Rahman)

Hidup Hanya Sekali - Hiduplah Untuk Menginspirasi Agar Kau Hidup Abadi

Thursday, September 6, 2018

Cerpen "Mak Aku Ingin Menikah"


" Mak, ada telepon dari anak kesayangan Amak nan di Mesir." Teriakan Rika, anak dan putri satu-satunya dari keluarga Almarhum Buya Datuak Rajo Panghulu itu mengejutkan Maknya yang sedang menyiang padi. Luluak dan air sawah menghiasi baju dinas Mak. Kuning, bak baju dinas Pak Gubernur. Untung saja baju itu hanya dipakai untuk ke sawah. Mencari sesuap reski, demi menyumpal perut anak-anak tercinta. Handphone Nokia 2100 milik anaknya Rika, yang kini telah bekerja di KUA Tanjung Karang kembali berbunyi.

" Nih Mak. "

Mak yang berusia setengah abad itu bergegas mengambil handphone yang dijulurkan putrinya. Sebenarnya handphone itu dulu adalah milik anaknya yang sekarang tingkat III di Al-azhar Mesir. Handphone itu sengaja dikirimkan buat kakaknya, karena adiknya tak sanggup membeli kartu Perdana yang harganya sangat mahal di Mesir. Sekitar 250.000 uang Indonesianya. Banyak urang awak yang punya HP waktu itu, namun bisa dihitung jari yang memiliki kartu Mesir sekaligus pulsanya. Padahal rata-rata anak baru waktu itu banyak yang bawa handphone dari Indonesia.

Mak seka tangannya yang basah dengan kain songkok yang bertengger di kepalanya. Lalu duduk diatas pematang yang ditumbuhi rumput banto sambil melepaskan penatnya. Ia genggam handphone penuh grogi, namun pasti.

" Assalamu'alaikum. " Mak mulai bicara setelah ia tekan tombol hijau yang terletak di kiri atas keypad.

" Wa'alaikum salam, Mak gimana kabarnya? "

Muka Mak lansung merekah waktu itu, air wajahnya tampak berseri. Senyum termanis Mak terumbar seketika. Sudah lama Mak tak mendengarkan suara anak bujangnya yang paling gadang itu.

" Mak, ada yang mau Ananda sampaikan pada Mak, penting! "

" Sampaikanlah. "

" Tapi Mak jangan berang ya! ”

Kening Mak berkerut, menyiratkan tak mengerti. Sebab ia tak pernah marah sama anaknya itu. Anak yang kata kakak dan adik-adiknya dibilang anak kesayangan Mak. Tapi bagi Mak semuanya sama. Cuma ada sekelumit rasa harap yang berlebihan dari Mak pada anaknya yang di Mesir itu. Wajar saja, anaknya itu adalah laki-laki paling tua. Dan sekarang Mak terbawa serius oleh ucapan anaknya yang berbicara soal yang penting. Terdengar desusan nafas dari seberang sana, sepertinya sang anak lagi mengambil nafas yang dalam untuk mengungkapkannya. Mak agak gugup.

" Fadhil ingin menikah Mak! " Kaliamat itu keluar dengan mantap, tanpa sedikit pun ragu. Seketika itu juga petir di langit hati Mak menggelegar sangat dasyat. Kilat menyambar persendiannya. Mak jadi lemas dan tak berdaya. Harapan yang Mak gantung agaknya akan sirna.

" Dengan siapa Nak? " Suara Mak sedikit berubah. Ada kecewa dan mendung yang berat disana.

" Dengan urang awak yang kuliah disini. Mak setuju? " sebenarnya tak perlu ia menanyakan itu, sebab jawabannya telah terselip dari suara Mak yang parau dan berat.

" Mak tidak akan setuju…." Tak kuat Mak menahan sedih. Petir yang tadi bergelegar kuat, kini menghantam hati kecilnya. Akhirnya hujan pun turun ditengah panasnya matahari harapan Mak. Mata Mak berair dan berkunang-kunang, seluruh badannya melemas. Handphone yang ia genggam perlahan terlepas.

" Mak, Mak kenapa Mak? " Mak tak sadarkan diri. Rika menjadi panik. Sementara air mata Mak terus mengalir di wajah pucatnya. Mak gemetaran seperti orang kedinginan. Rika berteriak-teriak meminta pertolongan. Semerta-merta orang kampung yang tadinya sibuk dengan sawah masing-masing, kini mereka berlari-lari menuju sawah tempat Rika berteriak histeris. Mak lansung dibawa ke rumah, adeknya Romi dan Rozi terkejut melihat Maknya yang digopong tetangganya.

" Mak kenapa Kak? " Serempak kedua adi-beradik itu bertanya. Kakaknya diam, sementara orang yang mengantarkan tadi minta pamit. Rika berterima kasih. Badan Mak terasa dingin, putrinya lansung mengganti pakaian Mak dan menyelimutinya.

Sudah tiga hari Mak duduk berbaring di tempat tidur. Tak satupun makanan yang masuk keperutnya, kecuali teh panas yang selalu dibuatkan putrinya sebagai penambah tenaga. Mak belum banyak buka mulut, hanya pada Rika ia bercerita. Rika jadi tambah murung, sebab sudah sebulan ia bercerita pada Pamannya tentang rencana ia akan menikah. Namun, bukan pertolongan yang didapatinya.

" Kalau nggak ada duit, nggak usah nikah dulu. Dengan apa anak akan dibarelekan. " Begitu kata Paman pada Mak sewaktu Mak menceritakan bahwa dari pihak laki-laki telah mendesak untuk segera dilansungkan pernikahan. Sebab calon suami Rika, hanya memiliki waktu cuti yang terbatas. Batinnya bergejolak, hatinya mencoba untuk meraba-raba. Bagaimana perasaan Mak ya? Duit untuk nikah aku saja belum ada. Dan sekarang malah adikku yang minta nikah. Mak pasti tersiksa. Andai Ayah masih ada, mungkin tidak seberat ini nasib yang dipikul Mak. Tak terasa air matanya telah membasahi pipi dan kerudung putihnya. Sedih benar-benar telah menyelimuti seluruh raganya. Ia tersentak ketika handphone disakunya berbunyi.

" Halo…"

" Kak, Mak kemarin kenapa? "

" Tidak usah kamu tanya Dik, lebih baik cepat-cepat kamu batalkan pernikahan itu. Daripada nanti kamu tidak bisa lagi bertemu Mak. Kalau kamu mau menikah, dengan apa anak orang nanti akan kamu kasih makan? "

" Insya Allah saya sanggup Kak, Saya akan bekerja. "

" Bagus, lebih baik sekarang kamu bekerja disana dan sekolahkan adik-adikmu disini."

" Tapi kak,,," Tangis Fadhil terisak dibalik ganggang teleponnya. Ia tak bisa menahan pilu yang datang menyayat hatinya. Hanya pada kakaknya ia bisa minta tolong untuk memberi pengertian pada Mak. Waktu bagi Fadhil tinggal beberapa minggu lagi, berita pernikahannya kini telah menyebar ke seluruh pelosok Kairo. Bahkan Wali dari pihak calon isterinya sudah siap terbang ke Kairo untuk mengawinkan putri sulungnya. Dan berkali-kali Fadhil telah ditelepon oleh calon mertuanya itu, agar mempercepat akad nikah. Sementara izin dari Mak dan surat pengantar dari kantor KUA dikampungnya belum ada.

" Kak, kakak kan bekerja di KUA. Buatkan sajalah surat pengantar dari sana bahwa pernikahan Fadhil dilakukan di Kairo. Kak, tolong Kak. " Suara Fadhil yang biasanya tak pernah manja pada kakaknya kini seperti anak kecil yang merengek. Denyut jantung Rika tertegun sejenak, ia dapat merasakan apa yang dirasakan adiknya di Mesir. Ia ikut sedih.

" Bukannya Kakak tidak mau menolong kamu Dik, apa kata Paman dan orang kampung nanti. Pernikahan Kakak dengan Bang Samy juga belum diurusin oleh mereka. " Terang Rika dengan nada terisak. Kini Rika juga ikut menangis dibalik handphonenya. Kata curhat itu keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Kepada siapa lagi ia akan mengadu, kalau bukan kepada adiknya. Toh kalau dia menikah, adiknya jualah yang akan jadi walinya. Rika benar-benar melepaskan tangisnya, seolah-olah ia menangis dipelukan ayahnya. Isak tangis kakak-beradik itu kini benar-benar telah bermuara di samudera kesedihan. Fadhil mengerti apa yang dirasakan Kakaknya, ia bisa merasakan betapa sedih kakaknya yang tak ada tempat untuk diminta pertolongan. Dan Rika pun mengerti akan nasib adiknya yang tidak mendapatkan izin. Hati mereka berdua telah tersambung oleh signal perasaan, sebagaimana signal handphone menyambungkan suara mereka.

" Aku akan segera pulang Kak! " Kalimat itu lantang dan tegas keluar dari mulut Fahil.

Sementara Mak yang masih terbaring di kamar depan, tidur dengan kaki selonjor. Tak seorang pun tetangga yang tau tentang sebab Mak sakit. Mata Mak tak mau terpejam, perutnya tak mau menerima makanan, hanya pikiran dan hati Mak yang dari tadi berkelana kesana-kemari. Ia teringat akan anak bujangnya di Mesir yang meminta untuk nikah. Bukannya Mak tidak setuju dengan permintaannya. Tapi ada rasa kehilangan yang mengerogoti jiwanya. Ada rasa kecemasan yang tersirat di wajah keriputnya. Nak, kalau seandainya Mak sudah tua. Kepada siapa nanti Mak akan menggantungkan hidup. Sementara umur Mak sekarang sudah 50 tahun. Dan kau adalah satu-satunya putra Mak yang sudah dewasa. Lirih Mak dalam hati. Nak, kalau kamu menikah disana. Apa nanti yang akan Mak jawab bila orang kampung bertanya. Mak takut mereka berpikiran yang tidak-tidak tentang kamu. Sementara kamu adalah Putra kebanggaan Nagari kita ini. Nak, Mak tak melarang kamu untuk menikah. Tapi Mak tak mau kamu menikah di Mesir. Kalau mau menikah, menikahlah disisi Mak. Mak pasti akan bahagia, karena Kau adalah anak Mak. Harapan Mak. Tapi itu tak mungkin nak! Kita orang tak punya, Kakakmu saja belum ada biaya untuk nikahnya.

* * *

Pagi itu udara di kampung sejuk sekali, burung berkicau riang sambil berterbangan di angkasa. Puncak gunung Merapi dan Singgalang tampak berkilau disenggol sinar sang surya. Awan putih dilangit bersusun indah. Wajah Rika kelihatan mempesona dan menawan hati. Senyumnya mengembang disetiap sudut waktu. Ia sungguh bahagia mendengarkan kabar dari adiknya ditelepon kemaren sore.

" Saya akan pulang Kak, paling lambat seminggu lagi. "

Kata-kata itu tegas dan bijaksana, walaupun ia tau adiknya pasti akan berhutang untuk mengusahakan tiket pulang. Ia sangat menghargai niat baik dari adiknya, adiknya pulang untuk meminta maaf pada Mak yang kini sakit di pembaringan. Ia sangat bersalah sekali. Ia tak ingin kehilangan ibunya. Adiknya pulang sebagai wali pada pernikahannya. Menggantikan posisi Almarhum Ayahnya. " Dik, Kakak akan tunggu kamu di rumah kita." Bisik Rika dalam hati.

Seminggu kemudian, tibalah waktu yang dinantikan Rika. Fadhil datang dari Kairo, parasnya tampak bersih dan agak putih. Seperti orang luar negri kebanyakan. Bahkan didalam angkot yang membawanya kerumah, tak satu orang pun yang mengenalinya. Padahal Fadhil kenal betul dengan mereka. Barulah setelah Fadhil mau turun di depan rumahnya, orang didalam angkot menebak siapa dia. Wajar saja, dulu Fadhil hitam karena sering maojek untuk menambah uang belanjanya waktu Aliyah.

Mak pun sempat kaget besar, melihat Fadhil tiba-tiba berdiri disampingnya. Rika sengaja tidak mengasih tau Mak. Kata Rika, biar Mak lansung sembuh melihat Putra kesayangannya datang. Sebab Rika tau obat yang paling mujarab untuk Mak. Kalau Mak dikasih tau, Mak pasti akan tambah sakit karena memikirkan dari mana anaknya akan mendapatkan uang untuk tiket pesawat. Ternyanta benar apa yang di prediksikan Rika. Setelah Mak di peluk oleh Fadhil, dengan izin Allah Mak lansung bisa ngobrol dengan semangat. Bahkan Mak makan buah kurma dengan lahap, yang dibawakan Fadhil dari Kairo.

Berkah Allah memang turun pada keluarga itu. Di sore hari kedatangan Fadhil, Bapak Wali Nagari berkunjung kerumah mereka. Beliau memberitahukan bahwa proposal yang dikirim Fadhil tiga bulan yang lalu, yang akan diajukan ke Gubernur telah keluar. Orang yang bersangkutan lansung yang akan mengambilnya. Sebab proposal itu dalam jumlah yang besar. Lima puluh juta bagi mahasiswa berprestasi Dalam Negeri dan 80 juta bagi mahasiswa berprestasi Luar Negeri.

Alhamdulillah! Semua ahli keluarga itu lansung sujud syukur. Gema tahmid terus berkumandang di rumah itu. Hingga akhirnya Mak bersuara disela-sela kalimat suci itu.

" Nak, kapan kamu akan menikah? "

Fadhil takajuik gadang mendengar lontaran pertanyaan Mak. Antara percaya dan tidak. Namun hatinya lansung menjawab dengan riang.

" Akad dan baraleknyo sama dengan kakak Rika. " Jawabnya mantap. Mak tersenyum. Sementara Rika, sang kakak senyumannyalah yang paling lebar. Romi dan Rozi, adik mereka pun tak ketinggalan.

***

Buat Para Orang Tua
Yang Anaknya Menikah
Di waktu Kuliah.
Kairo, 27 Desember 2008
Arti kata-kata:
- Luluak : Lumpur
- Urang awak : Sebutan untuk orang Minang.
- Keypad : Tombol.
- Gadang : Besar.
- Dibarelekan : Dinikahkan.
- Signal : Sinyal.
- Maojek : Ojek.
- Takajuik gadang: Kaget sekali.
- Baraleknyo : Pesta Perkawinan

No comments:

Post a Comment

Designed By